Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
43. Pengganggu


__ADS_3

Marvin dan Marinka keluar dari lift hendak menuju ke apartemen mereka. Namun entah hari ini kesialan siapa. Arina sudah menunggu didepan pintu apartemen. Marinka hanya menghela nafas kasar. Dan pastinya kepala Marvin pun sudah berdenyut pusing. Belum selesai masalah kemarin sudah akan timbul lgi masalah baru. Dan Marinka, wanita itu tidak bisa selalu meluapkan emosi kekesalan ataupun kemarahan.


Jika kesal atau tidak menyukai sesuatu dia hanya diam. Untuk saat ini sebenarnya bisa saja dia menjambak atau memukul wanita didepannya ini. Namun alih-alih marah ternyata dia hanya diam tak berbuat apapun.


Dengan malas Marvin berjalan menuju pintu apartemennya. Marvin lalu menggandeng tangan Marinka untuk membuatnya nyaman.


"Kak Marvin, kau sudah pulang? ". Ucap Arina girang.


" Aku menunggu sejak kemarin. Aku berusaha menelponmu tapi kau mengabaikanku ". Ucapnya manja hendak memeluk pinggang Marvin. Tapi dengan cepat Marvin menangkis pelan tangan Arina.


" Arina, jaga sikapmu. Aku sudah mempunyai istri. Jangan membuatnya berpikir macam-macam ". Ucap Marvin. Marinka hanya bisa menunduk.


" selalu saja, jika bukan karna perusahaannya bangkrut kau juga tidak mungkin menikahinya. Dan lagi, kita pasti sudah menikah".kata Arina sinis.


"Arina..! Jaga bicaramu ". Ucap Marvin penuh penekanan. Marinka yang tadinya menunduk kini mengangkat wajahnya menatap wanita sinis didepannya.


" Aku benar kan? Dan mereka membuatmu melakukan itu dengan alasan balas budi. Kau awalnya terpaksa kan? Karna mau tidak mau kau harus melakukannya ". Jelas Arina panjang lebar.


" Omong kosong! Jangan mencoba berbicara jika kau tidak tahu kenyataan yang sebenarnya. Aku sangat menyayangi Marinka. Dia istriku. Dan mulai saat ini jangan ganggu hidupku".ucap Marvin tegas.


" Apa kau sangat menyukai suamiku? ". Tanya Marinka.


" Marinka... Kau ini bicara apa? ". Ucap Marvin kesal.


" Aku hanya bertanya saja Marvin, aku hanya butuh jawabannya saja ". Ucap Marinka santai.


" Jika iya kenapa? Kami sudah berjanji akan bersama. Aku lebih mengenalnya jauh sebelum kau hadir ". Ucap Arina tegas. Membuat Marinka ingin tertawa namun wanita itu hanyalah melipat bibirnya menahan senyum.


" Jika diingat umur kita ini hanya selang kurang lebih setahun. Dan aku mengenalnya ketika aku kecil juga. Rasanya berlebihan jika kau mengatakan kau lebih jauh mengenalnya dari pada aku. Kami setiap hari bersama bahkan sampai detik ini. Aku jauh lebih mengenalnya dibandingkan kau. Apa kau mengerti? ". Ucap Marinka puas. Ucapan Marinka membuat Arina terperangah. Yang dia tahu Marinka ini dikenal pendiam dan tak banyak bicara. Tapi entah kenapa kali ini Marinka seperti tengah menantangnya.


" Pulanglah, ini sudah malam. Tidak baik untukmu jika pulang terlalu malam?". Ucap Marvin.


"Kakak mengusir? Aku hampir seharian menunggu. Dan kau menyuruhku pulang? ". Kata Arina tak percaya.

__ADS_1


" Aku sangat lelah. Dan juga istriku butuh istirahat yang cukup. Jadi bisakah kau pulang sekarang? ".


" Kakak keterlaluan. Baiklah sebelum aku pulang aku ingin menanyakan pada istrimu. Apa dia tau pasword apartemenmu ?".


"Arina....! ". Geram Marvin.


" Memangnya kenapa? ". Tanya Marinka.


Arina lantas menekan beberapa digit angka dan pintu berhasil dibuka.


" Jika aku mau, aku bisa masuk dari tadi. Tapi aku masih menghargaimu ".


Dada Marinka mulai bergemuruh. Arina tau pasword nya.


"Akan ku perjelas. Itu adalah hari ulang tahunku".ucap Arina sombong.


" Aku hanya belum menggantinya ". Ucap Marvin mulai tersulut emosi. Membuat hati Marinka sedikit sakit.


" Kau menikah sudah lama kak, kau bisa mengubahnya kan. Menjadi tanggal ulang tahun Marinka atau tanggal pernikahanmu ". Arina kemudian berlalu dari tempat itu.


" Kenapa kau tidak marah? ". Tanya Marvin setelah sampai didalam apartemen.


" Untuk apa? Kau tau aku bukan tipe orang yang suka meledak-ledak jika sedang marah ".


Jelas Marinka.


" orang lain bisa melakukan hal ekstrim demi menjaga suaminya ". Ucap Marvin tepat dihadapan Marinka. Raut wajahnya berubah serius. Marinka lantas beralih menatap Marvin.


" Apa kau lebih suka jika aku mencakar wajahnya? Atau mungkin aku menjambak rambutnya? Ketahuilah, aku sungguh ingin melakukannya. Demi rasa sakit yang sudah wanita itu berikan padaku. Tapi untuk apa? Tidak ada gunanya. Kau belum sepenuhnya lepas dari wanita itu. Aku bisa merasakannya Marvin. Aku tidak bisa percaya begitu saja padamu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa, jika kau ingin kembali padanya, saat ini aku siap menerima ". Ucap Marinka dengan nada bergetar.


" Apa yang kau katakan? Aku tidak akan pernah melepaskanmu ". Ucap Marvin geram.


" Kita sudah selesai Marvin, kita tidak bisa memaksakan segala sesuatu ".

__ADS_1


" Tapi aku tidak terpaksa ". Marvin menggenggam erat tangan Marinka berusaha meyakinkannya.


" Tapi sekarang aku yang mulai tak nyaman. Ucapanmu pagi itu masih saja selalu ku ingat sampai sekarang. Kau bilang kau menyesal telah menyentuhku kan? Karna Arina ".


" Astaga Marinka, aku sudah melupakannya ". Marvin mulai gusar.


" Tapi aku tidak. Sampai kapan pun itu akan aku ingat".satu bulir airmata jatuh sudah.


"Aku selalu bermimpi tentang keluarga yang bahagia. Tapi sepertinya itu jauh dari harapan. Aku juga tau kau sering bertemu dengannya untuk makan siang kan? Aku tahu semuanya Marvin. Tapi selama ini aku diam". Ucap Marinka berderai. Rasanya ingin sekali mengeluarkan semua yang membuatnya susah bernafas.


"Aku minta maaf. Aku mohon ayo kita mulai dari awal lagi ". Marvin mencoba meraih tangan Marinka. Namun wanita itu menepisnya.


" Kau tidak pernah menganggapku. Aku bukan prioritasmu. Sekuat apapun aku mencoba bertahan rasanya sama saja ".


" Tidak... Tidak... Kita akan perbaiki semuanya. Aku mohon ".


" Aku lelah.. Aku ingin menyerah ". Ucap Marinka sambil menatap nanar Marvin.


******


Marinka tidur dikamarnya, tepatnya dikamar sebelah Marvin. Tidur meringkuk dengan mata terpejam namun airmatanya masih mengalir deras. Kenapa hidup seolah mempermainkannya. Kenapa rasanya sulit sekali untuk bahagia.


Dia berharap Marvin satu-satunya orang yang bisa dipercaya. Tapi dia menjadi satu-satunya orang yang menancapkan sakit yang paling dalam. Mungkin tidak akan sesakit ini jika Marinka tidak membuka hati untuk Marvin. Harusnya ia biarkan hatinya tertutup.


Sementara Marvin masih berdiri didepan dinding kaca. Sambil terus menghisap nikotin yang terselip dijarinya. Entah sudah berapa batang nikotin yang dia habiskan. Pikirannya berlarian, diantara Arina dan Marinka. Dan juga ucapan papa mertuanya. Mertuanya itu menginginkan Marvin meninggalkan Marinka. Memintanya mengembalikan putri kesayangannya.


Marvin mengambil sesuatu dari kantong celananya. Itu adalah hasil USG yang dia dapat dari bibi Mouli. Marvin mengusap wajahnya kasar. Tenggorokannya tercekat menatap foto bayinya yang bahkan detak Jantungnya pun belum sempat dia dengar.


Airmatanya terjatuh bahunya bergetar mengingat potongan kejadian demi kejadian yang baru dia mengerti.


Bagaimana Marinka selalu meminta kue jahe ditengah malam. Padahal dia dulu tidak menyukainya. Dan juga makanan aneh yang tiba-tiba ingin dia makan. Dipikirannya hanyalah tentang pekerjaan sampai-sampai dia tidak menyadari perubahan Marinka.


"Maafkan Daddy,, Daddy telah menjauhkanmu dari Mommy. Apa kau baik-baik saja disana? Jika Daddy lebih bisa merasakan kehadiranmu, mungkin kita akan menghabiskan waktu bertiga setiap saat. Kau tau, Mommy sedang marah pada Daddy. Bantu Daddy membujuk Mommy. Apa kau juga sangat menyukai kue jahe seperti kakekmu. Apa kau sangat menyayangi kakek? Kakekmu sangat menantikanmu. Tapi Daddy telah menghancurkan semuanya. Maafkan Daddy.... ". Marvin tersenyum getir. Kemudian dia duduk bersandar dinding kaca itu. Diciumnya gambar itu.

__ADS_1


" I'm sorry..... ".


******


__ADS_2