Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
49. Menikahlah denganku


__ADS_3

Liburan yang dijadwalkan Marvin sudah berakhir beberapa hari yang lalu. Namun dia baru bekerja hari ini. Rasanya enggan sekali dia pergi kekantor. Dia masih setia mendekap tubuh Marinka dalam pelukannya.


"Apa kau tidak bekerja lagi? ". Tanya Marinka.


" Entahlah,, aku malas sekali. Tapi pasti Leo akan memarahiku lagi ". Jawab Marvin pa rau khas orang bangun tidur.


" Bangunlah, bekerjalah hari ini. Jangan menjadi malas. Atau pegawaimu akan mengikuti kemalasanmu. Aku juga akan bekerja hari ini ". Ucap Marinka sambil membelai rambut suaminya yang tepat berada didepan wajahnya.


" Baiklah, aku akan segera mandi. Bisa kau siapkan aku sarapan? ". Tanya Marvin lembut.


" Tentu saja, kau mau apa? ". Tanya Marinka.


" sandwich tuna ". Ucap Marvin sambil tersenyum.


" Baiklah, akan segera aku siapkan ".ucap Marinka sambil mengecup pipi Marvin.


" Jangan mengodaku ". Ucap Marvin kesal.


" Baiklah.. Baiklah maafkan aku ". Ucap Marinka tergelak kemudian turun dari ranjang hendak mempersiapkan sarapan untuk Marvin.


Marvin lantas bergegas membersihkan dirinya. Beberapa menit kemudian Marvin sudah siap dengan pakaian kerjanya. Ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi.


" Ya Leo.. ". Jawab Marvin malas.


" Aku menunggumu dikantor. Ini soal Arina ".


" Jangan mengacaukan pagiku, kau tau aku sudah tidak peduli padanya. Jadi kau jangan membahas tentangnya dihadapanku ". Ucap Marvin semakin kesal.


" Dia disekap sekarang ".


" Apa? Arina disekap? Siapa pe__".


Ceklek...


Marinka terlihat membuka pintu kamarnya. Sedikit terkejut melihat Marvin yang tiba-tiba memutuskan sambungan teleponnya dengan gugup.


"Telepon dari siapa? ". Tanya Marinka penuh selidik.


" Bukan dari siapa-siapa, ini dari Leo ". Jawab Marvin gugup.


" Kenapa kau gugup? Apa kau sedang berbohong? ". Marinka semakin curiga.


" Ayolah sayang, kau bisa memeriksa ponselku. Lihatlah namanya masih tertera disini ". Marvin memperlihatkan layar ponselnya pada Marinka. Memang benar terlihat ada nama Leo disana.


" Baiklah, kau turunlah. Aku akan bersiap-siap dahulu ". Marvin menggangguk. Kemudian turun untuk sarapan.

__ADS_1


****


Marvin bergegas menuju ruangannya. Sapaan dari pegawainya diabaikan guna menemui Leo diruangannya. Saat pintu terbuka Marvin mendapati Leo duduk disofa ruang kerjanya.


" Apa maksud ucapanmu tadi pagi?". Tanya Marvin kemudian ikut mendudukkan tubuhnya disalah satu sisi sofa.


"Aku tidak sengaja melihatnya, saat aku hendak keapartemenmu. Ada seorang lelaki membawanya dalam keadaan tidak sadar lalu aku mengikutinya. Dan ternyata itu adalah orang suruhan Jimy".jelas Leo.


"Jimy? ".


" Iya, Jimy. Dia adalah asisten pribadi Tuan Andrew. Entah apa yang terjadi hingga Arina terjebak pada masalah seperti ini ".


" Sudah berapa hari Arina disekap? ". Tanya Marvin khawatir.


" Hampir lima hari, aku menyuruh salah satu orangku berjaga ditempat itu. Sampai hari ini Arina masih disana ". Jelas Leo.


" Dimana dia disekap? ".


" Digudang pabrik bekas, jauh dari sini. Perlu waktu satu jam kesana. Lokasinya sudah jauh dari kota ".


" Kenapa kau tidak melepaskannya? ". Tanya Marvin kesal.


" Kau mau aku mati disana? Disana lebih dari tiga orang yang menjaga Arina. Aku bisa saja mati terbunuh disana. Tapi sepertinya Jimy hanya menyekapnya saja. Tidak lebih dari itu, kau jangan khawatir ".


" Apa yang membuatnya menyekap Arina. Kita harus menolong Arina. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya ". Ucap Marvin putus asa.


" Aku takut terjadi sesuatu pada Arina. Jika sampai dia terluka, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Aku sudah merasa gagal untuk melindunginya. Meskipun dia telah menyebabkan kesalahpahaman antara aku dan Marinka. Tapi tetap saja aku tidak bisa membiarkannya".ucap Marvin sedih.


"Aku tau, kalian berasal dari tempat yang sama. Itulah sebabnya kau tidak bisa mengabaikannya bukan? ". Leo mencoba mengerti.


" Tapi jangan sampai Marinka tahu tentang ini. Aku tidak mau dia salah paham lagi. Hubunganku baru saja membaik".ucap Marvin dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Aku tahu, aku akan berhati-hati. Aku turut senang jika hubungan kalian membaik. Aku tidak mau Marinka terluka lagi".kata Leo kemudian. Marvin hanya mengangguk.


*****


Byurr...


Guyuran air dingin menerpa wajah Arina. Gadis itu terlihat pucat dengan luka dibibirnya dan lebam dipipinya. Tamparan yang dihadiahkan Jimy beberapa waktu lalu masih membekas disana. Arina mendesis merasakan ngilu disekujur tubuhnya.


Entah sudah berapa hari dia terikat disini. Arina juga tidak tau apa yang sebenarnya diinginkan Jimy. Andai dulu dia memilih hidup dipanti saja. Andai dia tidak tergiur dengan kemewahan yang ditawarkan Tuan Andrew. Mungkin dia tidak akan mengalami kejadian ini. Dan mungkin dia juga tidak akan menjadi pengganggu rumah tangga orang.


"Buka matamu?! ". Perintah Jimy. Arina masih enggan membuka mata meskipun telinganya cukup tajam mendengar perintah Jimy. Entah karna lelah atau apa yang jelas Arina tak mempunyai kekuatan apapun bahkan untuk sekedar membuka matanya. Dia tidak makan dengan benar beberapa hari ini. Tubuhnya lemah lunglai tak bertenaga.


Jimy merasa kesal karna telah diabaikan oleh Arina. Lalu dengan kasar dia menarik rambut Arina. Membuatnya mendesis sakit sekali lagi. Bahkan untuk berteriak pun tidak bisa. Hanya airmatanya yang keluar.

__ADS_1


"Apa kau tuli? Kau tidak mendengar perintahku? ". Bentak Jimy.


Dengan susah payah Arina menjawab pertanyaan Jimy.


" Kau mau aku bicara apa? Apa masih ada gunanya aku bicara? ". Ucap Arina pelan.


" Setidaknya ikuti perintahku. Apa kau sudah makan? ". Tanya Jimy kemudian berjongkok dan melepaskan tali ikat pada tangan dan kaki Arina.


" Jangan terlalu baik padaku. Aku tidak suka ". Ucap Arina dingin.


" Aku sudah berbaik hati menawarkan kehidupan yang layak. Tapi kau sendiri yang menolak dan memilih hidup disini ".


"Kau pikir wanita mana yang mau menikah dengan pria kejam sepertimu?kau tidak punya perasaan dan sekarang kau mengemis cinta? Cih, memalukan sekali". Ucap Arina berani. Membuat Jimy mengepalkan tangannya.


"Berani-beraninya kau menilaiku. Kau pikir siapa dirimu? ". Ucap Jimy geram.


" Aku adalah satu-satunya wanita yang menolakmu diantara ribuan wanita yang menginginkanmu. Apa kau mengerti ". Teriak Arina.


Plakk


Satu tamparan keras mendarat lagi dipipi Arina. Membuat Arina tersungkur. Satu bulir airmata Arina kembali jatuh dia mengusapnya kasar membuat Jimy berdesir. Kenapa dia bisa sekejam ini padahal jelas-jelas dia menginginkan gadis didepannya ini.


"Maafkan aku ". Ucap Jimy tercekat. Arina membelalak tak percaya. Sejak kapan lelaki monster itu berubah jadi baik. Jimy beranjak dari tempat itu tak lama dia kembali dengan kotak kecil berwarna putih yang berisi obat-obatan.


" Kemarilah, biar aku obat lukamu ". Ucap Jimy melembut.


" Tidak perlu, aku bisa sendiri ".


" Jangan membantah dan Diamlah ". Jimy mulai mengoleskan beberapa obat disudut bibir dan pipi Arina yang lebam. Arina mendesis menahan sakit.


" Apa sangat sakit? ".


" Pertanyaan yang cukup bodoh ". Jawab Arina kesal.


" Bisakah kau bersikap manis? ".


" Bisakah kau jangan mengaturku? ". Ucap Arina menajam. Jimy hanya menghela nafas lelah.


" Aku Sungguh-sungguh dengan ucapanku. Menikahlah denganku. Aku tidak tau lagi cara untuk berbicara padamu. Tapi aku bersungguh-sungguh. Aku akan melindungimu dari Tuan Andrew".


"Kau pria aneh, kau melamar seorang gadis dengan cara menyiksanya seperti ini. Apa kau pikir aku akan menerimanya? ". Ucap Arina mantap.


" Baiklah, aku akan melepaskanmu, tapi kau harus tinggal denganku. Diapartemenku. Hanya disana tempat yang aman ". Ucap Jimy tegas. Arina kelihatan berfikir kemudian mengangguk.


" Aku akan pura-pura menerima, yang penting aku bisa keluar dari sini ".

__ADS_1


Arina mengangguk setuju. Pria berwajah datar itu akhirnya pergi Dari situ setelah berjanji akan membawanya pergi dari tempat itu esok hari.


__ADS_2