Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
29. Berbohong


__ADS_3

Udara dini hari menerobos masuk. Tirai putih itu bergoyang-goyang tertiup angin. Marvin berdiri dibalkon kamarnya sambil menghabiskan beberapa batang nikotin. Pikirannya begitu kacau malam ini. Perasaan bersalah menghantui dirinya.


Marinka yang tertidur pulas sedikit terusik ketika angin malam itu membelai punggung polosnya. Dia membuka perlahan matanya. Mencari keberadaan Marvin. Dari tempat tidurnya dia bisa melihat Marvin yang sedang merokok dibalkon. Marinka mengambil kemeja Marvin dan mengenakannya begitu saja kemudian menyusul Marvin ke balkon.


Lalu melingkarkan tangannya kepinggang Marvin membuat Marvin terkejut. Kemudian berbalik menghadap Marinka.


"Kau bangun...? ". Marvin memadamkan rokoknya diasbak, sambil menyelipkan rambut Marinka kebelakang telinganya. Marinka mengangguk lalu memeluk suaminya lagi. Membuat Marvin semakin merasa bersalah. Marvin lalu mengusap punggung Marinka. Istrinya itu terlihat manis sekali dengan kemejanya yang kebesaran dan rambutnya yang diikat asal. Terlihat berantakan dari hasil Pergumulan beberapa waktu lalu.


Marinka melirik asbak dimeja balkon itu. Ada lebih dari lima putung rokok disana.


"Apa kau tidak tidur Marvin? ". Tanya Marinka sambil mendongakkan kepalanya tepat didepan wajah Marvin. Marvin hanya menggeleng pelan.


" Apa kau ada masalah? ". Tanya Marinka khawatir.


" Tidak ada.. ". Jawab Marvin sambil menatap Marinka lekat. Marinka menatap kornea Marvin bergantian mencari kebenaran.


" Kau bohong Marvin. Kau pasti sedang memikirkan sesuatu yang penting. Sampai-sampai kau tidak bisa tidur nyenyak ". Ucap Marinka. Marvin lalu melepas dekapannya dan menggenggam kedua tangan Marinka.


" Marinka... Aku ingin minta maaf".ucap Marvin sedikit gugup.


"Untuk apa..? ".Marinka mulai dilanda kecemasan. Marvin menarik nafas panjang.


" Maaf untuk malam ini. Seharusnya aku bisa mengendalikan diriku. Aku minta maaf ". Ucap Marvin menunduk. Marinka melepas genggaman Marvin. Mulai mencerna apa yang sedang diucapkan Marvin.


" Kau menyesal? ". Marinka tercekat matanya mulai memanas. Marvin bingung harus berkata apa. Benarkah dia menyesal?


" Marinka aku..... ".


" Kau menyesal telah melakukannya denganku? ". Sekali lagi Marvin tak mampu menjawab.


" Sudah jangan lanjutkan. Mungkin aku terlalu berharap padamu. Jika begitu mari kita lupakan saja. Anggap tidak pernah terjadi apa-apa, aku tak mau membebanimu". Marinka berkata dengan menatap tajam Marvin. Sebulir air matanya berhasil lolos. Marinka kemudian meninggalkan tempat itu. Marinka keluar kamar, tak berbalik meskipun Marvin memanggilnya berkali-kali.


"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan. Kenapa aku malah meminta maaf ". Marvin menjambak rambutnya sendiri merutuki kebodohannya.


Sementara dikamar sebelah Marinka duduk dilantai bersandar pada dinding. Duduk meringkuk memeluk lututnya sendiri.


Dulu dia selalu dicap sebagai wanita sok suci. Hingga beberapa pria yang berhubungan dengannya selalu memutuskannya hanya karna Marinka menolak berhubungan lebih jauh. Tapi kini saat Marinka menyerahkan dirinya pada suaminya sendiri, pria itu malah meminta maaf dan menyesal.


"Kenapa menjadi istrimu semenyakitkan ini. Tidak bisakah aku sedikit menikmati kebahagiaan. Sedikit saja ". Marinka tergugu menutup mulutnya. Rasanya sakit sekali mendapati kenyataan Marvin menyesal menyentuhnya.


Marinka lantas berjalan menuju kamar mandi. Mengguyur tubuhnya pada dini hari yang dingin itu. Mencoba melupakan yang telah terjadi. Tapi bagaimana bisa, sedangkan jejak yang Marvin tinggalkan begitu jelas dan nyata ditubuhnya. Setelah dirasa cukup Marinka mengenakan jubah mandinya keluar begitu saja tanpa mengeringkan rambutnya.


Namun betapa terkejutnya dia mendapati Marvin duduk diranjang kamar itu. Marvin mengangkat wajahnya saat melihat Marinka keluar dari kamar mandi. Marvin mendekat hendak memeluk Marinka tapi dia menahan pelan tubuh suaminya itu.


"Marinka aku tidak bermaksud____".


"Aku tau,,, aku paham. Aku mungkin wanita yang jauh dari harapanmu. Aku tidak mau membahasnya lagi. Jadi keluarlah dari sini". Ucap Marinka dingin.


"Kau tidak tau maksudku ". Marvin mencoba meraih tubuh Marinka, tapi wanita itu bersikeras menghindar.


" Sudahlah Marvin, jangan membuatku semakin bodoh. Cukup orang lain menganggapku bodoh. Tapi jangan kau. Kau orang yang kupercaya tapi kau menyakiti perasaanku ".

__ADS_1


" Baiklah.. Aku bersalah, maafkan aku. Aku mohon jangan menghindariku ". Marvin memeluk Marinka. Tubuh Marinka bergetar menahan tangis. Bahunya bergerak naik turun.


" Kenapa menjadi istrimu sesulit ini. Kenapa sejak awal menikah denganmu aku selalu dalam masalah ". Marinka masih terisak dalam pelukan Marvin.


" Mulai saat ini tidak akan. Aku tetap ada untukmu".Marvin mencoba menenangkan Marinka. Menciumi puncak kepala wanita itu. Marvin benar-benar merutuki kebodohannya.


Tersisa beberapa jam menuju pagi. Marinka terlelap dalam pelukan Marvin. Masih dengan jubah mandinya. Tapi lelaki yang memeluknya itu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Sampai pagi datang Marvin tak juga bisa memejamkan matanya.


********


Marinka sudah rapi pagi ini, mengingat Marvin mengatakan akan mengajaknya jalan-jalan. Marinka sudah membayangkan pergi ke Taman bermain dan akan menikmati cotton candy kesukaannya. Marinka duduk manis disofa menanti Marvin.


Terlihat Marvin keluar dari kamar. Tapi senyum Marinka sedikit memudar saat melihat Marvin mengenakan kemeja rapi.


"Marinka, Aku ada urusan sebentar bersama Leo. Aku takkan lama ". Ucap Marvin terburu-buru dia mengecup puncak kepala Marinka lalu pergi begitu saja. Sampai-sampai Marinka bingung ingin mengatakan apa. Belum sempat Marinka menjawab Marvin sudah menghilang dibalik pintu.


Marinka sedikit kecewa, Marvin melupakan ucapannya. Dia bingung akan melakukan apa. Akhirnya dia pergi jalan-jalan sendiri ke Taman Kota.


Sedangkan Marvin melajukan mobilnya sedikit cepat menuju rumah sakit. Beberapa waktu lalu Arina menelepon kalau dirinya sakit. Dan harus dilarikan kerumah sakit.


Marvin berlari sekuat tenaga menyusuri lorong rumah sakit. Menuju tempat dimana Arina dirawat. Marvin memasuki ruangan itu dengan khawatir.


" Apa yang terjadi? Kau kenapa? Kenapa sampai seperti ini? ". Tanya Marvin khawatir.


" Aku hanya kelelahan saja kakak. Kau ingat aku baru saja tiba dan langsung menuju tempat bibi grace".


"Dimana Tuan Andrew? ".


"Lain kali pikirkan dirimu. Jangan sampai kau kelelahan seperti ini". Arina tersenyum melihat Marvin begitu mengkhawatirkannya.


"Baiklah kak.. Aku mengerti, terima kasih sudah mengkhawatirkanku ".


" Kau ini bicara apa, tidak usah berterima kasih seperti ini. Apa kau sudah makan? ".


" Aku menunggumu, aku rindu suapanmu ". Kata Arina manja.


" Baiklah.. Aku akan menyuapimu, kau tidak boleh sakit ". Marvin dengan tlaten menyuapi Arina. Dia benar-benar melupakan Marinka.


*****


Marinka pergi ke Taman Kota, menghabiskan hari minggunya disana bersama anak-anak kecil yang berlarian kesana kemari.


Jika akhir pekan Taman ini selalu ramai dikunjungi orang-orang yang ingin menghabiskan waktu mereka bersama keluarga dan sahabat mereka.


Saat sedang mengamati anak kecil yang sedang berlarian matanya menangkap sosok yang dia kenal. Kemudian mencoba memanggilnya untuk meyakinkan penglihatannya. Ternyata dia juga melihat Marinka lalu menghampirinya.


"hay Marinka, sedang apa kau disini. Dimana Marvin ". Senyum Marinka mengembang terpaksa.


"Dia sedang ada urusan Leo, aku tak mau mengganggunya, sepertinya urusannya sangat penting sekali. Hingga akhir pekan pun dia bekerja. Kupikir kau bersamanya". Kata Marinka mencoba mencari tau.


"Dia sudah merepotkanku tiap hari. Jika akhir pekanpun masih merepotkanku, maka aku akan meminta bonusku tiap bulan ".

__ADS_1


", Ah iya kau benar Leo ". Ucap Marinka tertawa hambar.


" Kau mau jalan-jalan?mumpung kita bertemu disini. Bagaimana kalau kita ke Taman Hiburan? ". Ajak Leo membuat wajah Marinka berbinar.


" Kau baik sekali,, aku ingin sekali kesana, aku sangat ingin makan permen kapas". Ucap Marinka senang. Seketika dia melupakan Marvin yang entah kemana. Dia tidak mau berpikiran buruk.


"Kau seperti anak kecil saja. Jangan lupa sikat gigimu nanti". Ucapan Leo membuat mereka tertawa bersama.


Akhirnya Marinka dan Leo pun menuju Taman bermain. Berkeliling menikmati kuliner pinggir jalan dan tak lupa permen kapas yang sangat ingin Marinka makan.


******


Marinka duduk disofa yang berada disudut dinding kaca. Dari sana dia bisa melihat langit malam yang mulai menggelap. Seharian Marvin bahkan tidak mengabarinya.


Pikiran Marinka menerawang. Kenapa Marvin berbohong, apa ini ada hubungannya dengan ucapannya kemarin. Marinka benar-benar sesak dibuatnya. Di Taman Hiburan tadi dia membeli banyak permen kapas. Dan mulai melahapnya sedikit demi sedikit.


Tak berselang lama Marvin pun pulang, Marinka pun tak menyambutnya. Dia membiarkan Marvin menghampirinya.


"Marinka, kau sedang apa? Kenapa banyak sekali permen kapas? ". Tanya Marvin bingung melihat ada lebih dari lima bungkus permen kapas berserakan dimeja.


" Aku hanya sedang ingin menikmatinya ". Jawab Marinka dingin, membuat kening Marvin berkerut.


" Dimana kau mendapatkannya?". Marvin mendudukkan tubuhnya didepan Marinka.


" Di Taman Bermain ". Ucap Marinka singkat. Membuat Marvin memejamkan matanya. Dia melewatkan sesuatu.


" Maaf.. Aku seharusnya mengajakmu jalan-jalan hari ini. Aku ada urusan mendadak". Suara Marvin melunak menyadari kesalahannya.


"Aku tau kau sangat sibuk, itulah sebabnya aku tak mau merepotkanmu ".Marinka berkata tanpa melihat Marvin dan terus memakan permen kapasnya hingga habis.


" Lain kali kau jangan pergi sendiri, setidaknya bawalah supir".Marinka benar-benar sudah hilang kesabaran. Akhirnya dia beranjak akan meninggalkan tempat itu. Dia takut terlalu lama disitu membuat emosinya meledak. Rasanya dia ingin marah, berteriak, dan memukul lelaki didepannya ini.


" Marinka aku sedang bicara padamu ". Ucap Marvin lembut sambil meraih tangan Marinka yang beranjak meninggalkannya. Marinka menoleh menatap tajam Marvin.


" Tapi aku tidak sendiri, aku bersama leo".


Deg......


"Kau.. bersama Leo? ". Tanya Marvin terbata.


" Ya... Dia juga mengantarku pulang. Jadi tidak usah khawatir ". Marinka menghempas tangan Marvin kemudian berlalu dari sana.


" Marinka aku bisa jelaskan ". Marvin bergegas mengejar Marinka.


" Cukup Marvin...! Aku tidak butuh penjelasanmu. Memangnya siapa aku hah? Aku cukup berterimakasih atas kebaikanmu selama ini. Aku tidak ber hak menuntutmu apapun. Aku tidak punya hak". Suaranya tercekat. Airmata yang ditahan dari tadi akhirnya tumpah juga.


" Marinka aku mohon maafkan aku". Marvin hendak menggapai tangan Marinka namun dia menyembunyikannya dibelakang tubuhnya.


"Aku lelah, aku ingin istirahat ". Marinka lalu masuk kekamar yang bersebelahan dengan kamar Marvin. Marvin mengejarnya namun ternyata Marinka mengunci kamarnya dari dalam.


******

__ADS_1


__ADS_2