
"jadi apa rencanamu?". Tanya Dania
"Tentu saja membuat pernikahan mereka seperti neraka. Apa lagi? Mereka mengasingkan kita seperti ini. Dengan uang yang pas-pasan".ucap David penuh dendam.
"Baiklah, aku terserah padamu saja. Aku sudah muak berpura-pura baik, menjadi penjilat demi mendapat uang. Dan ternyata sia-sia, kita tidak mendapatkan apapun. Aku pikir Marvin akan mudah ku takhlukkan ternyata begitu sulit ". Dania menghisap rokoknya.
" Aku sudah membayar beberapa orang untuk mengawasi Marvin dan Marinka. Dan kedekatan Marvin dan Arina perlahan akan menjadi berita besar yang akan mengguncang pernikahan mereka ". Ucap David sambil menenggak minumannya.
" Astaga aku sudah tidak sabar untuk melihat mereka hancur. Aku sudah bosan tinggal di apartemen sempit ini.
"Bersabarlah.. Kita akan memiliki uang banyak lagi dengan memeras keduanya ". Ucap David penuh seringai liciknya.
********
Marinka terlihat keluar dari ruang dokter. Ini merupakan kali kedua Marinka mendatangi dokter Amelia untuk melakukan pemeriksaan bulanan. Kandungan Marinka memasuki bulan ke tiga. Dan Marvin selama itu belum menyadarinya.
Untungnya semenjak diketahui dirinya hamil, dia tidak terlalu mengalami morning sick. Jadi Marvin tidak curiga.
Saat sedang berjalan dilorong rumah sakit tak sengaja dia bertemu dengan Thomas dan Emily. Sungguh kesialan bagi Marinka bertemu dengan Thomas disini. Marinka hendak memutar arah namun Thomas terlanjur melihatnya.
"Marinka.. Kau darimana? ". Sapa Thomas terlebih dahulu.
" Aku sedang ada urusan disini. Bagaimana dengan kalian? ". Tanya Marinka sedikit canggung. Mengingat terakhir Kali bertemu Emily meninggalkan kenangan yang buruk.
" Aku tadi mengantar Emily bertemu dokter Amelia. Untuk cek kehamilan. Lalu kami makan dulu dikantin sebelum pulang. Emily tengah hamil 3 bulan ". Jawab Thomas gembira sedangkan Emily hanya tersenyum tipis.
" Selamat untuk kalian. Aku turut bahagia". Ucap Marinka tulus.
" Terima kasih banyak ". Ucap Thomas dan Emily bersamaan.
Kemudian terlihat Emily mencari-cari sesuatu dari dalam tas nya.
" Ada apa sayang? ". Tanya Thomas heran melihat Emily yang kebingungan.
" Sepertinya aku meninggalkan resep vitamin dimeja dokter Amelia. Aku aku akan mengambilnya ". Ucap Emily hendak pergi.
" Biar aku saja ". Thomas menawar.
" Tidak perlu, biar aku saja ". Ucapnya tersenyum kemudian berlalu dari tempat itu. Emily jauh lebih hangat saat ini. Berbeda dengan Emily yang dia kenal dulu. Marinka menyadari itu.
" Dia jauh lebih hangat sekarang ". Ucap Marinka tulus.
" Aku rasa juga begitu. Mungkin karna dia akan menjadi ibu. Dan itu sedikit banyak mempengaruhi perilakunya. Tapi aku sungguh menyukai dia yang seperti ini. Bukan Emily yang meledak-ledak penuh emosi".
"Bagaimana perasaanmu akan menjadi seorang ayah? ". Tanya Marinka sedikit bergetar.
" Entahlah.. Aku tidak bisa mengungkapkannya. Sangat membahagiakan Marinka. Jika kau hamil kau bisa tanyakan langsung pada Marvin. Pasti dia akan bahagia sepertiku ". Ucap Thomas berbinar.
Marinka hanya mengulas senyum getir. Bahkan sampai janin itu berumur 3 bulan Marvin tak menyadarinya.
"Aku setuju denganmu ". Ucap Marinka. Mereka kemudian larut dalam perbincangan.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari ada orang yang mengambil gambar mereka.
Tak lama Emily datang. Dan menyerahkan lembaran kertas seperti miliknya.
" Punyamu, tertinggal juga disana ". Kata Emily. Marinka terlihat enggan menerimanya.
" Darimana kau tau itu milik Marinka? ". Tanya Thomas penasaran.
" Aku bertanya pada dokter Amelia. Dia bilang ini milik menantu Tuan Mike yang tertinggal. Jadi bisa dipastikan ini miliknya. Lagi pula disana tertera nama Marinka".jelas Emily.
"Apa kau juga sedang hamil? ". Tanya Thomas penuh selidik.
" Mmm aku.. Aku harus pulang. Sampai bertemu lain waktu. Terima kasih banyak Emily ". Ucapnya tersenyum lalu bergegas berlalu dari tempat itu.
" Dia kenapa? ". Tanya Emily bingung.
" Entahlah, ya sudah biarkan saja. Kita harus segera pulang ".
***************
waktu menunjukkan jam 8 malam. Tapi Marvin belum juga pulang. Paman dan bibi juga tidak ada dirumah. Entah kenapa dia ingin sekali makan es krim yang ada direstoran cepat saji.
" Bibi Hana aku keluar sebentar. Aku ingin membeli sesuatu ". Ucap Marinka berpamitan pada bibi Emily.
" Baiklah nona berhati-hatilah ".
Marinka akhirnya pergi menuju restoran cepat saji. Dibelinya es krim yang dari tadi membuat air liurnya menetes. Dia bergegas duduk ditaman. Memakan es krim nya. Tak lupa juga dia membeli kue jahe. Entahlah kenapa saat hamil dia suka sekali kue jahe. Padahal tadinya dia tidak menyukai kue itu.
Marinka tak menyadari ada dua pasang mata yang memperhatikannya. Dia Emily dan Thomas.
"Kau sedang apa sendirian disini? ". Tanya Emily terheran. Marinka terkejut sambil memegang dadanya.
" Astaga, kau mengejutkanku. Sedang apa kalian disini?".tanya Marinka.
"Kami hanya berjalan-jalan saja. Emily ingin membeli cotton candy. Dia memaksaku kemari malam-malam begini ". Ucap Thomas.
" Jadi kau menyesal? Dasar kau ini ". Ucap Emily merajuk.
" Tidak sayang, bukan begitu. Baiklah kau mau apa. Biar aku belikan ". Bujuk Thomas. Marinka sesaat mematung. Andai Marvin tau, apa dia akan seperhatian itu. Marinka terlalu takut untuk jujur. Takut patah hati. Sampai saat ini dia tidak pernah tau perasaan Marvin yang sesungguhnya. Ataukah hanya Marinka yang memiliki perasaan sepihak ini. Marinka sedikit menggigit sendok es krimnya untuk menghalau kecemasannya.
"Aku mau membeli cotton candy. Apa kau mau? ". Emily menawarkan. Marinka bingung menjawab apa. Dia mau tapi dia malu.
" Baiklah jangan dijawab, aku akan membelikannya untukmu ". Ucap Emily memutuskan sendiri karna Marinka tak kunjung memberi jawaban.
" Thomas tunggulah disini. Aku akan segera kembali ".
" Biar aku yang kesana, apa kau tidak lelah? ".
" Aku tidak mau, aku ingin melihat sendiri cara membuatnya ". Ucap Emily mencebikkan bibirnya. Akhirnya Thomas mengalah,membiarkan Emily melakukan yang diinginkan. Marinka melihat sekilas interaksi manis dua orang itu. Sambil terus menyuapkan es krim dan kue jahe bergantian kemulutnya.
" Jadi, apa yang kau lakukan disini seorang diri? ". Tanya Thomas.
__ADS_1
" Aku hanya ingin makan es krim dan kue jahe sambil menikmati suasana taman". Jelas Marinka.
" bukankah kau tidak suka kau jahe. Kau bahkan tidak suka bau nya meskipun papamu sangat menyukainya ".
" Entahlah, akhir-akhir ini aku menyukainya ". Thomas semakin yakin Marinka sedang mengandung. Melihatnya makan es krim seperti anak kecil yang baru pertama kali memakannya. Terburu-buru dan berantakan.
" Kenapa kau berantakan sekali ". Ucap Thomas sambil mengusapkan sapu tangan kebibir Marinka. Marinka tertegun lalu dengan cepat mengambil sapu tangan itu.
" Aku bisa sendiri ". Marinka mulai mengelap es krim yang menempel disekitar bibirnya.
" Maaf, aku hanya ingin membantu saja ".
" lupakan ". Ucap Marinka singkat. Tak lama Emily pun datang akhirnya dua wanita hamil itu menikmati cotton candy bersama.
" Marinka, apakah benar kau sedang hamil juga? ". Tanya Emily hati-hati. Marinka yang sedang menikmati es krim itu mengangguk pelan. Pandangan Emily dan Thomas beradu.
" Lalu dimana Marvin, dia masih bekerja hingga larut padahal tau kau hamil? ". Tanya Thomas sedikit geram.
" Iya.. Tapi aku tak masalah ". Marinka mencoba tersenyum meskipun matanya berkaca-kaca. Thomas melihat itu.
" Apa Jangan-jangan Marvin tidak tau kau hamil? ". Tanya Thomas kembali. Namun Marinka enggan menjawab. Kerongkongannya tercekat. Tak mampu berkata apapun.
" Aku sangat yakin dia tak tau kan? Apa dia terlalu sibuk jadi tak memperhatikanmu? Aku yang bukan suamimu saja tau perubahanmu hanya dengan sekali tatap ".
" Dia bukan kau ". Ucap Marinka menatap tajam pada Thomas dengan matanya yang memanas menahan air mata. Thomas menghela nafas berat.
" Maaf.... ". Ucap Thomas lirih menyadari kelancangannya.
" Thomas sudahlah, jangan memaksanya ". Pinta Emily.
" Marinka, Aku tau dulu hubungan kita tak baik. Tapi kita akan sama-sama menjadi ibu. Kuharap kita bisa berteman. Apa kau mau berteman denganku? Dan maafkan aku selama ini".
Marinka tak percaya Emily bisa mengucapkan hal itu. Dia benar-benar tulus.
"Baiklah kita berteman ". Kedua wanita itu lalu saling tersenyum manis. Thomas tak menyangka wanita yang selalu berseteru itu kini duduk disampingnya saling berbagi makanan.
Seandainya Thomas juga bisa menikahi Marinka. Thomas lalu menggelengkan kepalanya. Mengusir impian bodohnya. Melihat dua wanita itu tersenyum didepannya dia sudah bahagia.
**********
Marvin terlihat duduk diruang tengah menunggu Marinka dengan gusar. Beberapa waktu lalu dia mendapat kiriman foto dari nomer yang tak dikenal, membuat darahnya mendidih. Ada beberapa foto yang dia dapatkan. Yang pertama saat Marinka dan Thomas berada dirumah sakit. Yang kedua sepertinya diambil beberapa waktu lalu. saat itu terlihat Thomas sedang membersihkan bibir Marinka dengan sapu tangan. Foto terakhir itulah yang membuatnya marah.
Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan Marinka yang berwajah pucat membawa es krim sekotak besar dalam pelukannya. Marvin semakin kesal karna berfikir itu adalah es krim pemberian Thomas.
"Kau sudah pulang Marvin? Maaf aku tadi keluar sebentar. Aku ingin makan es krim ". Ucap Marinka berbinar.
" Aku tahu, aku sudah melihatnya". Ucap Marvin dingin. Seketika senyum diwajah Marinka hilang. Kenapa dia sepertinya marah?
"Apa kau puas seharian berjalan-jalan dengan mantan kekasihmu. Lalu dengan tak tahu malunya kalian masih melanjutkannya hingga malam ". Ucap Marvin dengan nada tinggi. Membuat Marinka tersentak. Matanya sudah berkaca-kaca.
" Marvin, apa yang kau katakan? ". Ucap Marinka bergetar.
__ADS_1
******