Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
44. Apa bisa dipercaya?


__ADS_3

Marvin membuka matanya dengan malas. Rasanya masih ingin berlibur, tapi pekerjaan menunggunya. Dan juga Leo sepagian ini sudah berkali-kali menghubunginya. Marvin melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Marvin sudah rapi dengan pakaian kerja. Hendak melihat Marinka sebentar.


" Marinka.. Apa kau sudah bangun? ". Sapa Marvin dari luar. Tapi tak ada sahutan, akhirnya Marvin berinisiatif membuka pintu itu. Alangkah terkejutnya Marvin melihat kamar itu kosong. Dan sudah tertata rapi.


" kemana dia?". Tanya Marvin pada dirinya sendiri. Lantas dia bergegas keluar.


****


"Leo bisakah kau memundurkan jam pertemuan kita ini? ". Tanya Marvin pada Leo setelah dia sampai dikantor.


" Tidak bisa Tuan, anda sudah meninggalkan pekerjaan anda terlalu lama ". Jelas Leo.


" Bagaimana ini? ". Marvin putus asa.


" Sebenarnya apa yang terjadi? ". Tanya Leo penasaran.


" Marinka meninggalkan rumah Leo. Dia memaksa untuk mengakhiri semuanya". Jelas Marvin.


"Apa yang membuatnya begitu? Bukankah kemarin kalian sepakat menjalani dari awal lagi? ". Kata Leo.


" Iya.. Kau benar. Tapi semalam Arina datang. Dia menungguku diapartemen. Dan yang lebih kacaunya lagi, Marinka tau bahwa pasword apartemenku adalah tanggal lahir Arina ". Jelas Marvin.


" Bagaimana bisa? ". Tanya Leo tak percaya.


" Entahlah, aku lupa menggantinya. Aku terlalu terbiasa dengan nomor itu".


Marvin semakin gusar. Leo menarik nafas panjang.


"Kau belum lepas dari Arina. Aku bisa merasakan itu. Kau menyakiti keduanya. Terlebih istrimu. Aku tahu kau sulit melepas salah satunya. Tapi Marinka istrimu, dia lebih berhak atasmu. Aku menasihatimu sebagai temanmu. Aku harap kau bisa mengambil keputusan yang tepat. Marinka wanita yang baik. Jangan kau sia-siakan. Arina juga baik, tapi dia masa lalumu. Janjimu padanya dulu hanya janji anak kecil, janji anak remaja. Tapi Janjimu pada Marinka adalah Janjimu dihadapan Tuhan, dihadapan orang tuanya ". Jelas Leo.


" Aku mengerti Leo, tapi entahlah, aku tidak bisa membiarkan dia begitu saja. Kau tau kami punya masa lalu yang sama. Sama-sama hidup dipanti asuhan sejak kecil. Sama-sama punya masa lalu yang buruk. Aku seperti terikat pada kesamaan itu. Tapi aku bersumpah aku tidak berniat menyakiti Marinka dengan sengaja. Keluarganya sangat baik padaku, mereka memberikan pendidikan terbaik hingga aku menjadi seperti saat ini ". Ucap Marvin. Leo tersenyum masam.


" Jadi menurutmu kau baik pada Marinka selama pernikahan ini hanya karna kau tidak mau menyakiti keluarganya yang sudah berjasa padamu. Kau sangat menyebalkan. Jika aku jadi kakaknya Marinka, aku sudah memukulmu saat ini. Bisa bisanya kau mengatakan itu. Jika kau berpikir ini tentang balas budi maka lepaskan Marinka sekarang. Dia bisa mendapatkan lelaki yang lebih menghargainya, lebih mencintainya. Bukan karna sebuah balas budi ". Ucap Leo penuh emosi tertahan.


" Leo, kenapa kau bicara begitu. Kau temanku kan?. Aku sedang pusing memikirkan ini. Lalu kau malah menyuruhku meninggalkan Marinka. Yang benar saja". Gerutu Marvin.

__ADS_1


"Lalu jika tidak meninggalkannya, lalu kau mau apa? Kau tidak bisa hidup dengan dua wanita sekaligus. Jangan serakah. Jangan seperti pecundang. Lepaskan Marinka atau jauhi Arina. Kau bisa memilih salah satu ".


" Aku bukan serakah, aku___".ucap Marvin tertahan. Entahlah dia juga bingung sekarang. Menjauhi salah satu dari mereka artinya juga menyakiti dari mereka.


"pikirkan ucapanku ". Leo lalu keluar dari ruangan itu dengan sedikit kesal.


*******


" Bagaimana, apa mereka masih melakukan penyelidikan itu? ". Tanya Arina pada orang didepannya, yang tak lain adalah Jimy. Asisten pribadi Tuan Andrew.


" Masih, tapi anda jangan khawatir, kita tidak akan ketahuan. Orang suruhanku sudah pergi keluar negri sejak kejadian itu ". Jelas Jimy.


" Tapi sebenarnya aku sedih Paman Jimy. Aku terlihat jahat sekali. Aku hanya ingin kak Marvin berpisah. Tapi malah aku membuat Marinka keguguran. Aku seperti pembunuh sekarang. Aku sangat takut sebenarnya ". Ucap Arina dengan bola mata berlarian sambil menggigiti kukunya karna gugup.


" Itu bukan kesalahan anda. Itu kesalahan mereka. Anda tidak salah Nona. Jangan khawatir ". Ucap Jimy.


" Aku takut Tuhan memnghukumku karna obsesiku pada kak Marvin. Aku sungguh takut paman. Lagi pula kak Marvin hanya menganggapku sebagai adik saja ". Ucap Arina gemetar.


" Tidak Nona, dia menyukaimu. Jika dia tidak menikahi Marinka dia sudah menikahimu. Bukankah katamu dia dulu pernah berjanji akan selalu ada bersamamu. Kau tidak bersalah. Marinka dan keluarganya yang bersalah ". Jimy mulai memprovokasi sesuai arahan atasannya. Karna memang Arina diambil dari panti adalah sebagai alat untuk membalas dendam. Bukan murni untuk dibesarkan sebagai anak.


"Setidaknya jika anda bisa menikah dengan Tuan Marvin, anda akan memberikan kebanggaan yang luar biasa pada Tuan Andrew. Dia sangat menginginkan seorang menantu seperti Tuan Marvin. Dan hanya anda satu-satunya orang yang bisa mewujudkannya ". Ucap Jimy sekali lagi untuk memantapkan hati Arina.


*******


" Nona, Tuan Marvin ingin bertemu ". Ucap catty pada atasannya. Marinka mendesah malas.


" Suruh saja masuk. Biasanya juga begitu kan. Untuk apa meminta izin ". Ucap Marinka. Sejak perseteruan semalam dia berfikir akan mempertahankan pernikahannya. Apapun yang terjadi dia sudah menjadi istri sah Marvin. Jadi dia akan sekuat tenaga mempertahankan pernikahannya. Dia tidak akan bertindak bodoh lagi hanya karna terbawa emosi.


" Baiklah, ". Catty undur diri. Selang sekian menit Marvin sudah memasuki ruangan Marinka. Lalu duduk disofa yang ada disudut ruangan itu.


Lama Marvin mengamati Marinka yang masih sibuk menandatangani beberapa berkas. Dan dia tahu pasti bahwa Marinka sengaja mendiamkannya.


" Marinka, Aku ingin bicara kemarilah ". Kata Marvin setelah lima belas menit menunggu.


" Sedikit lagi, bersabarlah ". Ucap Marinka lembut dan sedikit menghangat. Marvin pikir dia akan membalasnya dingin. Ternyata pikirannya salah. Marinka merapikan berkasnya yang berserakan, memasukkannya ke dalam map. Lalu berjalan mendekati Marvin kesofa. Belum sempat Marinka duduk tapi Marvin menariknya hingga jatuh ditubuhnya.


"Auchhh shhhhsss ". Marinka meringis merasakan sedikit sakit diperutnya. Marvin yang terkejut lalu menggeser sedikit duduknya untuk memberi tempat duduk pada Marinka.

__ADS_1


" Maafkan aku... Aku lupa jika kau masih sakit ". Dengan cepat Marinka memukul bahu Marvin sekuat tenaga.


" Dasar, tidak bisakah kau pelan sedikit. Aku curiga kau sengaja ingin membunuhku perlahan ". Ucap Marinka sedikit bercanda. Namun ucapannya mendapat tatapan tajam dari Marvin.


" Apa? ". Ucap Marinka menantang tatapan Marvin. Marvin mendengus kesal.


" Jangan sekali-kali bercanda soal kematian. Aku tidak suka ". Ucap Marvin sambil menatap kesegala arah seperti sedang mencerminkan kekhawatiran.


" Jika aku sungguh tidak ada, kau tidak perlu lagi menjalani hidupmu yang rumit. Kau bisa hidup dan bahagia sesuai yang kau inginkan dan kau rencanakan ". Ucap Marinka tersenyum getir. Marvin lantas memegang wajah Marinka yang masih sedikit pucat. Lalu mengecup pelan bibir Marinka. Hanya sebentar lalu disatukannya kening mereka.


" Aku mohon jangan bicara sembarangan. Aku tidak mau kehilangan siapapun lagi. Berjanjilah padaku ". Ucap Marvin putus asa.


" Tapi kau sudah kehilangan anakmu ". Ucap Marinka bergetar.


" maka jangan lagi bercanda soal kematian. Aku kehilangan anakku karna kebodohanku. Aku tidak akan mengulangi lagi".


"Apa kau bisa dipercaya? ". Tanya Marinka ragu.


" Aku tidak mau kecewa lagi Marvin aku sangat lelah ".


" Baiklah,mari kita berlibur. Kau harus banyak istirahat dan menikmati hal-hal yang indah. Kau tidak boleh bekerja terlalu berat ataupun terlalu stres. Kau tau itu kan?".


"Aku tahu, tapi aku bosan dirumah. Lagi pula aku sangat berhati-hati. Akupun memakai flatshoes bukan high-heels. Lihatlah ". Ucap Marinka sambil menunjuk kearah kakinya.


" maka dari itu ayo kita liburan ".


" kemana? ".


" Rahasia ". Ucap Marvin tersenyum.


" Leo akan marah padamu. Pekerjaanmu banyak minggu ini ".


"Aku tak peduli". Bisik Marvin lalu kembali mendaratkan kecupan dibibir Marinka.


********


Terimakasih buat yang udah like, komen dan vote. Terima kasih banyak 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2