
Jangan lupa like, komen,
Atau mungkin ada yang berkenan buat
vote... ?
Ya sudahlah
Happy reading 🌻🌻🌻🌻🌻😘😘😘😘
*****************
Aroma strawberry menggelitik hidung Marvin. Entah mengapa rasanya nyaman sekali memeluk wanita ini. Marinka hanya bisa diam membeku tanpa membalas pelukan Marvin. Bahkan seolah menahan nafasnya.
Marvin lantas mengurai pelukan itu, menyadari jika Marinka seperti tak nyaman.
Marvin menatap lekat Marinka.
"Terima kasih... ". Ucap Marvin tersenyum sambil mendaratkan kecupan singkat pada puncak kepala Marinka. Membuat Marinka semakin membeku.
" Baiklah.. Mari kita sarapan.. ". Ajak Marvin memecah kecanggungan lalu menarik Marinka menuju ruang makan. Marinka hanya menurut saja tanpa bisa berkata apapun.
Terlihat bibi elly sedang membuat kudapan didapur.
" Kenapa baru turun... Teh nya bahkan sudah dingin sayang ".
" Tak apa bibi,, papa masih ingin berbicara denganku ". Jawab Marvin kemudian mendudukkan tubuhnya dikursi ruang makan itu.
" Apa kau mau aku buatkan yang baru? ". Tawar Marinka mengingat teh Marvin sudah dingin.
" Tidak perlu, ini saja sudah cukup ". Jawab Marvin lembut. Bibi elly hanya bisa menatap mereka dengan doa dalam hatinya.
" Apa kalian akan menginap lagi disini? ".
" sepertinya tidak bi, aku masih banyak urusan yang harus diselesaikan ". Jawab Marvin sambil menggigit sandwich nya. Begitu juga Marinka yang sibuk mengoleskan selai strawberry ke rotinya hanya bisa mengangguk membenarkan.
" Ah baiklah tak apa... Itu sebabnya semalam kau terlambat datang. Pasti Leo itu selalu mengganggumu kan ". Kata bibi elly. Seketika pandangan Marvin dan Marinka bertemu. Namun Marinka segera memutusnya.
" Iya bibi... ". jawab Marvin sambil tersenyum paksa.
" Jangan terlalu lelah bekerja, pikirkan kesehatanmu ". Bibi elly menasihati. Marvin hanya mengangguk.
*****
Marvin dan Marinka tengah bersiap sekedar berganti baju untuk kembali kerumah paman Mike. Tampak Marvin kikuk untuk mengatakan sesuatu.
" Marinka.... Trimakasih ". Ucap Marvin tiba-tiba.
" untuk...? ". Tanya Marinka bingung.
" untuk tidak mengatakan yang sebenarnya pada bibi elly dan papa ". Kata Marvin, Marinka pun mengangguk mengerti.
Marvin lantas mendekati Marinka yang masih sibuk memakai lotion aroma strawberry. Marvin berdiri tepat di sebelah Marinka. Marinka lalu menatap Marvin bingung.
" kenapa? Apa lagi..? ". Tanya Marinka bingung.
" Kau sangat menyukai aroma strawberry. Bahkan rasanya seisi kamar ini beraroma strawberry ". Ucap Marvin sambil terus menatap lekat Marinka.
__ADS_1
" Kau mau coba..? ". Ucap Marinka sambil menyodorkan botol lotion di tangannya.
" Ya... ". Jawab Marvin singkat. Namun pandangannya bukan tertuju pada lotion ditangan Marinka. Tapi pada bibir merah muda wanita didepannya ini.
" Marvin... Marvin kau kenapa? Ada apa denganmu? Apa kau sakit? ". Kata Marinka sambil menggerak gerakkan tangannya didepan wajah Marvin.
Seketika Marvin tersadar, lalu berdehem mengendalikan dirinya.
" Tak apa... Aku hanya sedikit lelah saja. Sepertinya istirahatku belum cukup". Jawab Marvin asal.
"Apa kita kembali sore hari saja? Kau bisa istirahat dulu disini ". Marinka memberi saran.
" Tidak usah, kita istirahat dirumah saja. Aku tidak enak pada bibi mouli. Semalam aku tidak berpamitan padanya ".
" Kemana kau semalam...? ". Tanya Marinka ragu. Marvin yang sedang memakai jaketnya lalu menoleh kearah Marinka.
" Ya.... ".
" Sudahlah... Lupakan. Ayo kita pulang ". Marinka lalu berjalan mendahului Marvin. Marvin hanya bisa menghela nafas berat.
********
" Marvin.. Apa kau mau makan sesuatu? Kau belum makan siang tadi? ". Ucap Marinka setelah sampai dirumah bibi mouli.
Marvin sedikit berfikir.
" bisakah kau buatkan aku pasta dengan saus pedas".ucapnya berbinar
"Kenapa kau suka sekali makanan pedas? ". Marinka menggerutu.
" Itu tidak baik untuk perutmu ". Lanjutnya.
" Baiklah akan aku buatkan. Nanti aku akan memanggilmu setelah siap ". Kata Marinka, disambut anggukan Marvin.
Di dapur Dania sedang membuat kudapan bersama bibi hanna.
Ternyata wanita itu masih betah disini.
" Bibi Hana,,, kemana bibi mouli? ".
" Nyonya sedang pergi keacara amal, mungkin sore nanti baru kembali". Jawab bibi Hana.
" hmmm baiklah,,, bibi.... apa bibi punya pasta? ".
" Ada nona, apa kau ingin aku yang membuatkan? ".
" Tidak usah bibi, aku membuatnya untuk Marvin ". Jawab Marinka. Seketika Dania yang tadinya tidak memperdulikan kehadiran Marinka sedetik itu juga dia mulai terusik.
" Apa kau bisa masak? ". Dania mencemooh.
" Apa kau pikir hanya kau yang bisa melakukannya? ". Jawab Marinka tak kalah sinis.
" Tentu saja, Marvin selalu memuji masakanku. Biar aku yang membuatnya ".
" Tidak usah. Aku yang akan membuatnya ".
" Baiklah kita buat bersama, nanti kau akan tau masakan mana yang Marvin sukai ". Ucap Dania sombong. Marinka begitu kesal rasanya dia hendak menarik rambut wanita itu.
__ADS_1
Bibi hanna yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bisa bisanya dua wanita yang terlibat dengan satu pria tinggal dalam satu rumah. Begitu kira-kira pikirnya.
Tak butuh waktu lama, pasta yang diminta Marvin itu pun sudah tersaji dua piring.
Marvin turun segera setelah hidungnya mencium aroma pasta kesukaannya. Tapi dia bingung setelah mendapati pasta sampai dua piring. Tapi dengan tampilan yang berbeda.
"Kenapa banyak sekali? ".
" Aku membuatnya untukmu? ". Jawab Dania sambil bergelayut manja tak tau malu.
" Tapi aku sudah menyuruh Marinka membuatnya ". Ucap Marvin sambil berusaha menghindar dari glayutan Dania, demi menjaga perasaan Marinka.
" Kau boleh habiskan dua-duanya. Baru kau akan tau siapa yang layak kau jadikan istri ". Ucap Dania jumawa. Marvin sudah mulai pusing. Belum juga setengah hari mereka kembali, Marvin sudah harus dihadapkan dengan perseteruan dua wanita ini lagi.
Ini lebih berat daripada mengurus mega proyeknya.
Marinka hanya bisa diam melihat semua itu. Dia tau jika Dania memang pandai memasak. Dia menghabiskan kursus memasak selama 2 tahun.
"Baiklah.. Aku akan habiskan dua duanya ". Jawaban Marvin membuat Dania berbinar. Tapi tidak dengan Marinka.
Bagaimana bisa dia habiskan dua piring pasta pedas, itu akan menyakiti perutnya. Terlebih lagi besok dia akan keluar kota mengurus pekerjaan.
Marvin duduk diikuti Marinka dan Dania disebelah kanan dan kirinya. Jika orang yang tidak tau, pastilah dia berfikir mempunyai dua istri.
Marvin mulai menyuapkan pasta bergantian dari piring satu kepiring yang satunya lagi. Masing-masing sudah habis seperempat piring. Marvin mulai terlihat kepedasan. Dengan cepat Marinka menarik piringnya.
"Kenapa? ". Tanya Marvin lembut.
" Makanlah pasta Dania, biar ini aku yang makan. Tiba-tiba aku menginginkannya ".
" Kau tidak suka makanan pedas. Bagaimana bisa kau menginginkannya? ".
" Entahlah, melihatmu makan aku jadi ingin mencicipinya ".
Segera Marinka melahap pasta pedas buatannya. Marvin pun melanjutkan makannya. Dania tersenyum senang melihat Marvin menghabiskan pasta buatannya.
Setelah selesai Marinka membereskan peralatan makan mereka kemudian mencucinya.
" Marvin aku keatas sebentar".Pamit Marinka.
"Baiklah.. Sebentar lagi aku menyusul ". Jawab Marvin. Dania pun masih saja menempel pada Marvin,itu membuat jengah.
Sampai dikamar Marinka lalu berlari ke kamar mandi, merasakan mual luar biasa didalam perutnya. Mengeluarkan semua yang dimakannya. Dia tidak bisa makan pedas. Tubuhnya menolak itu, jadi bukan tanpa alasan dia tidak suka makanan pedas.
Lima belas menit Marinka berada disitu. Tubuhnya lemas tak berdaya. Kepalanya mulai pusing. Tiba-tiba pandangannya menggelap.
Marvin memasuki kamarnya, namun tak melihat keberadaan Marinka. Dia melihat pintu kamar mandi sedikit terbuka. Dengan air kran yang terdengar terus mengalir.
Bergegas Marvin memasuki kamar mandi itu. Matanya membuat melihat Marinka tergeletak disana.
"Astaga.. Marinka....!!!!!! ".
*******
Terimakasih sudah mampir,
Terus dukung aku ya
__ADS_1
Selamat hari Rabu.... 😍😍😍😍