Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
64. Sebuah penantian


__ADS_3

Marinka semakin gemetar melihat kedatangan Tuan Andrew. Sedikit banyak dia mendengar tentang kejahatan Tuan Andrew.


"Aku senang kalian berada ditempat yang sama. Jadi aku tidak akan bersusah payah mencari kalian". Ucap Tuan Andrew.


"Tuan, aku mohon lepaskan mereka, hanya aku yang Tuan inginkan. Aku akan memberikan semua bukti itu pada anda. Tapi aku mohon lepaskan mereka bertiga". Mohon Arina.


"Tidak semudah itu Arina. Kau tahu, aku menantikan ini bertahun-tahun. Aku ingin melihat anak ini keneraka bersama ayahnya". Ucap Tuan Andrew dengan rahang mengeras.


Tuan Andrew mengeluarkan sesuatu dari balik jas nya. Kemudian mengarahkannya pada Marinka. Sontak Marinka mencoba menghalangi perutnya yang membuncit dengan kedua tangannya.


"Tidak aku mohon, jangan sakiti anakku. Aku sudah lama menantikan kehadiran mereka. Jika kau ingin nyawaku, kau boleh mengambilnya setelah anakku lahir ". Marinka semakin ketakutan.


" Kau gila! Jangan bodoh. Kau bercanda dengan orang yang salah Marinka". Teriak Marvin.


"Aku menginginkan kalian semua untuk mengobati luka lamaku. Kau tahu, aku dan ibumu dulu saling mencintai. Tapi keluarga ayahmu mengacaukan semuanya. Mereka menjodohkan ayah dan ibumu lalu mengabaikanku karna aku tak sederajat dengan mereka. Dan kau lahir kedunia dengan tak tahu diri. Kau membunuh ibumu sendiri". Ucap Tuan Andrew bergetar menahan kesedihan yang terlihat menyesakkan untuknya.


"kami berencana untuk menikah setelah kau lahir. Tapi kelahiranmu membawa bencana untuk kami. Kau mengubur semua impianku".


"Tidak ada yang menginginkan ini terjadi. Jika aku bisa memilih, akupun tak mau kehilangan ibuku Paman". Marinka semakin tersedu.


"Dan dia, lelaki itu. Lelaki yang menjadi suamimu, seharusnya dia menjadi bagian dari rencanaku. Tapi lagi-lagi ayahmu dan sahabatnya itu mengacaukan semuanya". Geramnya pada Marvin.


"Relakan semua Paman, aku memanggilmu paman karna aku menyayangimu. Aku menghormatimu". Ucap Marvin tulus.


"Tutup mulutmu. Jika kau mau menceraikan wanita itu, maka aku akan melupakan semuanya. Tinggalkan perusahaan Mike dan bergabung bersamaku".


"Tidak akan pernah, sekalipun nyawa taruhannya". Ucap Marvin mantap.


"Jika kau memang bersikeras tidak mau melepaskan Marinka, maka jangan salahkan aku jika aku membuatmu menyesal. Kau sudah lama aku diamkan. Tapi ternyata itu tak membuatmu berpikir". Leo pun semakin geram.


"Mari kita lihat siapa yang akan berakhir lebih dulu".


Tuan Andrew perlahan menarik pelatuk dari senjatanya. Dan dalam hitungan detik tiba-tiba...

__ADS_1


Dorrr Dorrr...


"Marinka!".


"Arina!".


Marvin dan Leo berteriak bersamaan saat mengetahui Tuan Andrew benar-benar melepaskan tembakan kearah Marinka.


Dengan geram akhirnya Marvin dan Leo pun melakukan hal yang sama. Marvin mengeluarkan senjatanya yang tersimpan rapi dipinggangnya. Rasanya dia ingin menghabisi lelaki tua itu juga Jimy.


Doorr..... Doorr.....


*********


Ruang tindakan dirumah sakit dipusat kota itu tampak ramai. Mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita hamil yang tengah terluka dibagian lengannya. Dan seorang wanita muda yang terluka dibagian punggung juga pinggangnya.


Dia adalah Marinka dan Arina. Arina mendapat dua luka tembak karna berusaha menyelamatkan Marinka. Dan setelah itu mereka sama-sama tidak sadarkan diri.


Sedangkan Marinka sedang berjuang pula dimeja operasi. Dokter berusaha mengeluarkan peluru juga anak yang sedang dalam kandungannya.


"Bagaimana keadaan mereka?". Tuan Mike datang dengan wajah khawatirnya. Menemui Marvin dan Leo yang sama-sama tertunduk didepan ruang operasi.


"peluru Marinka sudah berhasil dikeluarkan dan tidak ada yang serius. Tapi bayinya harus segera dikeluarkan. Karna memang ini sudah waktunya paman. Aku takut sekali jika sampai terjadi sesuatu dengan Marinka ataupun anakku". Marvin mulai putus asa.


"Kau Tenanglah, kita hanya bisa berdoa. Lalu bagaimana dengan Arina?". Tanya Tuan Mike pada Leo. Leo pun sama putus asanya, terlebih lukanya juga cukup parah. Arina juga mendapat luka tusukan dipinggangnya. Juga dua luka tembak.


" Dokter sudah mengeluarkan peluru ya. Untungnya luka tusukannya tidak mengenai organ vitalnya. Tapi dia juga belum siuman". Ucap Leo tercekat.


Mungkin sebagian orang menganggap Arina jahat. Tapi dia hanya sedang menjalankan perannya. Dia gadis baik yang malang. Itu yang Leo tangkap dari kepribadian Arina. Dia tidak sejahat yang orang lain tuduhkan.


Tanpa terasa airmata Leo menetes. Mengingat potongan kejadian yang ada didepan matanya. Bagaimana Arina susah payah melindungi Marinka dari tembakan dan tusukan itu.


"Jika aku tidak ada, setidaknya aku sudah berusaha meminta maaf pada Marinka. Mungkin ini hukuman untukku ".

__ADS_1


Itulah kata terakhir yang Marinka ucapkan pada Leo sebelum dia tak sadarkan diri.


" Dia tidak benar-benar ingin merebutmu dari Marinka. Dia hanya sedang diancam". Ucap Leo dengan tatapan kosong.


"Aku tahu, sudahlah jangan kau pikirkan. Arina wanita yang kuat. Dua akan segera pulih". Marvin mencoba menghibur sahabatnya itu.


"Bagaimana dengan Andrew dan Jimy Paman?". Tanya Marvin.


"polisi sudah mengamankan mereka. Jangan pikirkan itu. Mereka akan mendapat balasan yang setimpal".


Marvin ingat benar tadi dia sudah menembak pria itu tepat didadanya. Tapi ternyata kabarnya dia masih bisa hidup. Dan Jimy, pria itu juga telah Leo habisi dengan membabi buta.


Wajahnya tak berbentuk karna Leo berulang kali melayangkan pukulan mematikan. Dan Leo puas akan hal itu. Dia ingin sekali membunuh Jimy tapi dia juga harus berpikir waras. Dia tidak mau berurusan dengan polisi dan membuat masalah menjadi lebih rumit.


Ada sesuatu didalam diri Arina yang tidak Leo dapatkan dari tiap wanita yang dekat dengannya. Dia mendapatkan kenyamanan setiap berdekatan dengan Arina. Berulang kali Leo mengutarakan niatnya untuk menikahi Arina. Tapi Arina selalu menolaknya.


Leo hanya ingin membebaskan Arina dari segala tuduhan yang orang layangkan padanya. Tuduhan keji menjadi pengganggu rumah tangga Marvin dan Marinka.


Bukan tanpa alasan Arina menolaknya. Siapa orang yang mau menerimanya menjadi menantu? Asalnya darimana pun tidak ada yang tahu. Dia hanya gadis yang dibesarkan dipanti.


Jika Leo benar menyukai Arina, Arina akan sangat bersyukur. Tapi bagaimana dengan nyonya Merry? Arina tidak ingin menjadi alasan Leo menjauh dari keluarganya. Meskipun sebenarnya Arina pun menyukai Leo, tapi Arina tidak mau egois.


Biarlah perasaannya hanya dia yang tahu. Biar hanya Arina yang menyimpan kekaguman pada leo.


"Aku bukan wanita yang tepat untukmu. Kita sangat jauh berbeda. Kau bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik. Yang bisa mendampingimu ditengah keluargamu. Sebab aku jauh dari semua kesempurnaan itu".


Begitulah ucapan terakhir yang Arina katakan pada Leo. Penolakan yang kesekian kalinya. Leo memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Mengingat kondisi Arina saat ini membuatnya sesak. Semua potongan kenangan berlarian dikepalanya. Singkat namun berkesan.


Apa dia bisa melihat senyum manis Arina kembali?


*******


Yang punya aplikasi kuning bisa mampir dikaryaku "Istri untuk Mas Zein"

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan temen-temen selama ini


Aku sayang kalian 😘😘


__ADS_2