Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
57. Terbuka


__ADS_3

Happy reading...


**********


Marvin memasuki kamar Tuan Louis. Karna Marinka memilih tidur disana. Wanitanya itu tidur terlelap dengan posisi meringkuk memeluk perutnya. Sisa airmata pun masih terlihat dimatanya yang sembab.


Marvin membenarkan selimut Marinka. Mengusap pelan kepalanya. Lalu mengecup lembut kening Marinka.


" Entah sengaja atau tidak, aku selalu menyakitimu. Aku sudah berjanji akan selalu bersamamu. Aku tidak akan pergi meskipun kau bersikeras mengusirku dari hidupmu. Kau hanya belum menyadari apa yang terjadi. Aku dan Leo melindungi Arina karna dia adalah saksi kunci dari semua kemalangan yang menimpamu ".


Marinka sedikit terusik dengan keberadaan Marvin. Namun tetap dia terlelap dalam tidurnya. Marvin lantas ikut merebahkan dirinya disana. Apa yang akan terjadi besok pagi, kita lihat besok saja. Marvin kemudian ikut terlelap disana.


********


Marinka menherjapkan matanya saat dirasa mendengar dengkuran halus menembus telinganya. Merasa seseorang sedang memeluknya akhirnya dia terpaksa bangun. Tidak terkejut sama sekali. Karna pasti Marvin masuk semalam menggunakan kunci cadangan yang dia minta pada bibi Elly. Marinka hendak beranjak turun. Namun tiba-tiba..


Grepppp....


Marvin kembali menariknya. Membuat Marinka terkejut.


"Marvin.. Lepaskan! ". Ucap Marinka kesal.


" Ini masih pagi, kau mau kemana? Berbaringlah dulu ". Ucap Marvin lembut masih dengan mata tertutup.


" Bukan urusanmu ". Ucap Marinka masih berusaha melepaskan diri. Marvin seketika langsung membuka matanya mendengar ucapan Marinka yang terbilang ketus. Marvin akhirnya mendudukkan tubuhnya mencoba melihat wajah Marinka yang sudah ditekuk pagi-pagi.


" Kau bilang apa? Bukan urusanku? Lalu kau anggap aku ini apa? ". Tanya Marvin.


" Tanyakan itu pada dirimu sendiri. Kau tidak pernah peduli pada perasaanku sebelumnya. Kenapa kau harus peduli sekarang? ". Tanya Marinka sinis.


" Jangan mengajakku berdebat.. Ini masih pagi Marinka. Astaga ". Marvin memijat pelipisnya.


" Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun. Seperti dirimu yang tidak pernah berbicara apapun padaku jika menyangkut wanita itu ". Ucap Marinka menusuk. Membuat Marvin mengeraskan rahangnya.


" Kau tahu kenapa aku tidak pernah membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan Arina denganmu? Karna beginilah dirimu. Jika kau sudah tidak menyukai sesuatu kau akan mati matian menutup telingamu dari segala macam kebenaran. Kau akan menyimpulkan segala sesuatu hanya dari cara pandangmu saja. Kau sekarang berbeda Marinka, kau tidak mau mendengarkanku".


" Iya.. Aku berbeda karna kau yang mengubahku. Aku banyak menelan kekecewaan padamu. Dan aku semakin muak pada semua ucapanmu. Aku lelah hanya menjadi pendengar. Aku lelah menjadi orang yang selalu kalah. Aku yang dulu hanya mampu diam menerima ketidakadilan yang terjadi dihidupku. Tapi sekarang tidak. Aku akan melakukan apa yang aku inginkan ". Ucap Marinka beranjak dari tempat tidur. Marvin secepat kilat mengejar dan berdiri menghalangi pintu.


" Kita belum selesai bicara". Ucap Marvin sambil menggenggam tangan Marinka.


" Bagiku sudah, aku lelah. Minggirlah ". Ucap Marinka sedikit meninggi.


" Jangan berteriak ". Ucap Marvin dengan suara tertahan. Matanya menajam menatap mata Marinka yang mulai berkabut. Marinka berbalik lalu mendudukkan tubuhnya kembali diranjang. Marinka bersandar pada headboard dengan menyilakan kakinya. Wajahnya menunduk menatap kedua tangannya yang saling memeremas satu sama lain. Marvin mengikutinya dan duduk didepannya.

__ADS_1


Marvin tahu jika sekarang Marinka sedang menangis tanpa suara. Marinka sedang tertekan. Kehilangan cinta pertama bagi tiap wanita memang menyakitkan. Marvin akan mencoba memahami Marinka. Meredam emosinya yang sudah sampai diubun-ubun agar tidak meledak. Menghadapi Marinka saat ini harus penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Diselipkannya anak rambut kebelakang telinga Marinka. Tak lama terdengar isakan tangis dari bibir Marinka.


"Aku merindukan papa ". Ucap Marinka lirih diantara isaknya yang tertahan. Marvin lalu merengkuh tubuh Marinka membawanya kedalam pelukannya.


" Aku tahu yang kau rasakan ". Suara Marvin ikut tercekat.


" Kau tidak tahu rasanya Marvin ". Kata Marinka pilu. Marvin lalu menjauhkan tubuh Marinka demi melihat wajah istrinya itu dalam pandangan yang sulit diartikan.


" Lalu kau pikir selama ini apa yang kurasakan. Aku bahkan tidak tahu wajah orang tuaku seperti apa. Aku yatim piatu sejak kecil, kuingatkan jika kau lupa ". Ucap Marvin pelan penuh luka. Bisa-bisanya Marinka mengatakan dirinya tidak tahu rasanya kehilangan.


" Maaf... ".


" Aku maafkan. Sekarang Bersihkan dirimu. Lalu kita sarapan. Aku akan membawamu kesuatu tempat ". Ucap Marvin.


**********


Mereka berdua sedang duduk dimeja makan, sedang bibi Elly sibuk menyiapkan sarapan.


" Kau mau makan apa sayang?".Tanya bibi Elly pada Marinka.


"Entahlah Bibi, aku tak berselera. Mulutku rasanya pahit sekali " Ucap Marinka sambil menumpukan kedua tangannya pada kepalanya. Sedikit memijat kepalanya sendiri.


" Kau sakit? ". Tanya Marvin khawatir. Marinka hanya menggeleng.


" Sejak kapan kau sakit sayang? ". Tanya bibi Elly sambil memberikan pijatan dipundak Marinka. Marinka menikmatinya sambil memeluk pinggang bibi Elly. Dan menyadarkan kepalanya diperut bibi Elly.


" Dipagi saat papa dibawa kerumah sakit Bibi, sebenarnya pagi itu aku akan membawa Marinka untuk memeriksakan diri ke dokter. Tapi Bibi mengabariku soal keadaan papa. Sampai sekarang aku belum membawanya kedokter ". Kata Marvin sambil mengelus punggung Marinka.


" Baiklah, Makanlah dulu sarapanmu, setelah ini minumlah obat pereda nyeri. Lalu istirahatlah dirumah. Bibi akan menemanimu nanti ". Ucap bibi Elly sambil menepuk pelan pundak Marinka penuh kasih sayang.


Bibi Elly menyodorkan roti bakar selai nanas kesukaan Marinka. Dan sandwich tuna kesukaan Marvin. Dua anak itu selalu konsisten dengan makanan kesukaan mereka.


" Bibi, apa kau punya selai kacang? ". Tanya Marinka. Bibi Elly tampak berfikir. Begitu juga Marvin. Tak lama bibi Elly pun mengangguk.


" Iya, Bibi masih menyimpannya. Kau menginginkannya? ".


" Iya...". Ucap Marinka bersemangat. Bibi Elly terlihat mencari-cari botol kecil berisi selai kacang.


"sepertinya tinggal sedikit sayang, lihatlah ". Ucap bibi Elly sambil menyerahkan sebotol kecil selai kacang yang benar-benar tinggal sedikit sekali. Mungkin hanya satu sendok saja jika dikumpulkan.


" Apa kau sangat ingin memakannya? Aku bisa mencarikannya untukmu sekarang ". Ucap Marvin.


" Tidak perlu, aku makan ini saja ". Marinka lantas membuka tutupnya lalu memasukkan jari telunjuknya kedalam botol untuk mengambil selai kacang yang menempel didinding toples itu. Dan memasukkannya kemulutnya seperti anak kecil.

__ADS_1


" Bukankah kau dari dulu tidak menyukai selai kacang? ". Tanya Marvin bingung dengan tingkah Marinka yang terus saja menyusuri dinding toples hingga hampir bersih.


" hentikan Marinka, kau membuatku seakan tidak berguna seolah tidak bisa membelikanmu semobil penuh selai kacang ". Ucap Marvin sambil mengambil toples kosong itu dari tangan Marinka.


" Marvin berikan itu padaku". Ucap Marinka kesal. Dia mencebikkan bibirnya.


"Aku akan membelikanmu sebanyak yang kau mau. Tapi jangan lakukan hal seperti ini lagi".ucap Marvin.


"Baiklah... ".Marinka mulai memasukkan potongan kecil roti bakar selai nanas kedalam mulutnya. Marvin sengaja memotongnya kecil-kecil agar Marinka mudah memakannya. Mengingat beberapa hari ini dia susah sekali makan. Bahkan hanya untuk memasukkan makanan itu kemulutnya saja dia harus berdebat dengan Marvin.


"Sayang,, Makanlah dengan benar. Kau mau makanan yang lain? ". Tanya bibi Elly begitu gemas melihat cara Marinka yang sepertinya malas untuk makan.


" Aku sangat merindukan papa ". Tiba-tiba Marinka menghentikan sarapannya.


" Berdoa saja untuknya,, dan tenangkan dirimu ". Bibi Elly menasihati.


" Kau mau kemana? Biar aku antar. Kau mungkin ingin mengunjungi suatu tempat agar hatimu sedikit tenang ". Ucap Marvin sambil mengusap punggung tangan Marinka.


" Aku ingin dirumah saja hari ini, apa kau keberatan jika aku tidak ikut denganmu?". Tanya Marinka.


"Tak masalah, tapi hari ini aku ada pertemuan dengan paman, bibi, Leo juga.... Arina. Apa kau keberatan? Kami harus membahas sesuatu yang sangat penting ". Ucap Marvin pelan dan hati-hati.


Terlihat wajah Marinka berubah murung setelah mendengar nama Arina. Dia ingin ikut tapi kondisinya lemah. Dia ingin Marvin tinggal, tapi sepertinya ini masalah yang penting dan Marvin tidak mungkin tidak pergi.


" Apa yang kau pikirkan? ". Tanya Marvin penuh selidik.


" Tidak ada ".


" Katakanlah, aku tidak mau jika saat aku pulang nanti kau mendiamkanku. Aku sudah jujur padamu. Giliranmu jujur padaku. Apa yang kau pikirkan? ". Tanya Marvin lembut.


" Aku ingin ikut, tapi tubuhku lemas. Aku ingin kau tinggal dirumah tapi sepertinya tidak mungkin ". Ucap Marinka dengan bibir memgerucut membuat Marvin terkekeh.


" Bagus, setidaknya ada kemajuan. Aku harap kita akan begini. Saling terbuka satu sama lain ". Ucap Marvin tulus. Marinka mengangguk. Tiba-tiba Marinka menegang merasakan sesuatu. Secepat kilat dia berlari kearah kamar mandi yang berada didekat dapur. Mengeluarkan segala isi perutnya yang susah payah dia makan.


" Kau kenapa sayang? ". Tanya Marvin panik begitu juga bibi Elly.


" Kepalaku pusing Bibi, perutku rasanya seperti diaduk ".


" Aku panggilan dokter ". Ucap Marvin lalu mengambil ponselnya. Saat sedang menghubungi Briyan tiba-tiba bibi Elly berteriak.


" Marvin,, Marinka pingsan ".


" Apa? ".

__ADS_1


****************


__ADS_2