Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
65. Baby twins


__ADS_3

Marvin gemetar saat melihat dokter yang menangani Marinka mendatanginya. Pikirannya sedang bercabang oleh banyak hal. Memikirkan istrinya, anaknya, Arina juga tentang Tuan Andrew. Apakah anaknya baik-baik saja? Adakah sesuatu yang terjadi pada Marinka?


"Tuan Marvin?". Dokter itu tersenyum ramah. Jambangnya yang sedikit memutih membuatnya auranya semakin terpancar. Meskipun sudah berumur tapi dokter paruh baya itu masih terlihat tampan.


"Ya.. Saya Marvin. Apa ada masalah dengan istriku? Dia baik-baik saja bukan?". Marvin benar-benar gelisah saat ini. Leo menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu agar tenang.


"Tenanglah Tuan, istri anda baik-baik saja. Anda jangan cemas".dokter yang tak lagi muda itu tersenyum teduh. Usianya yang berkisar limapuluh tahunan itu memberikan kehangatan seorang ayah dari tatapannya.


"Panggil aku Marvin dokter".ucap Marvin santun.


"Baiklah Marvin, aku ingin mengabarkan bahwa istrimu baik-baik saja. juga kedua anakmu. Mereka terlihat sangat sehat dan menggemaskan". Ucap dokter itu berbinar.


Lutut Marvin terasa lemas. Badannya merosot jatuh kelantai. Tak bisa rasanya dia mengungkapkan kebahagiaan yang sedang dia alami saat ini. Kebahagiaan ini tidak bisa dijabarkan dengan apapun. Akhirnya dia menjadi seorang ayah juga.


Leo merangkul sahabatnya itu. Rasa haru pun menyelimutinya. Leo bahagia akhirnya Marvin benar-benar memiliki keluarga yang utuh.


"Selamat kawan, mereka hadir ditengah kalian".ucap Leo penuh haru.


"Terimakasih banyak Leo,, kau orang pertama yang akan melihat bagaimana menggemaskannya anak-anakku".


"Tentu saja. Aku menunggu itu sangat lama".


_____


Marvin berada diruang rawat Marinka. Tangannya tak henti menggenggam tangan Marinka yang masih tertidur. Diciuminya punggung tangan Marinka dengan lembut. Rasa syukur tak henti diucapkannya dari bibirnya.


"Jika sampai aku tidak bisa melindungi kalian waktu itu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri". Gumamnya pada dirinya sendiri.


"Aku sangat mencintaimu". Ucapnya lagi sambil menatap haru pada istrinya.


Disebelah mereka sedang tertidur pulas dua bayi mungil berbeda kelamin. Ya, Marvin dan Marinka dikaruniai anak kembar laki-laki dan perempuan. Marvin akan memberi nama menunggu Marinka sadar.


Terdengar suara pintu terbuka. Tanpa melihat pun Marvin tahu siapa yang datang.


"Bagaimana Marinka?". Tanya Leo.

__ADS_1


"Dia masih tidur. Semuanya baik-baik saja. Kita hanya menunggu dia bangun". Jawab Marvin.


"Aku lega mendengarnya". Ucap Leo kemudian beralih pada box bayi disebelah Marinka. Bayi merah yang tertidur pulas itu sangat menggemaskan.


Tiba-tiba hati Leo merasa tergelitik. Ada perasaan yang luar biasa dia rasakan. Tiba-tiba dia ingin cepat berkeluarga. Dan merasakan bagaimana menjadi seorang ayah seperti Marvin. Rasanya akan sangat menyenangkan sepertinya.


Leo menpermainkan hidung mancung kedua bayi itu. Hingga bayi itu terusik. Leo tersenyum kemudian mengulanginya lagi. Hingga terdengar tangisan dari kedua bayi itu.


Marvin terkejut kemudian menoleh kearah bayinya ditidurkan. Seketika wajah galaknya langsung terpancar disana.


"Hey, jauhkan tanganmu dari sana". Ucap Marvin.


"Galak sekali, aku hanya bermain sebentar". Leo tak menggubris perintah Marvin. Dia semakin menggoda kedua bayi itu.


"Jika kau tak menjauh maka kupatahkan tanganmu". Ucap Marvin sambil menajamkan matanya. Membuat Leo terkekeh.


"Astaga, kau ini seperti induk ayam saja".


"Jika mereka menangis, lihat saja, kupastikan kau begadang bersamaku nanti".


"Baiklah baiklah.. Cerewet sekali kau ini.


"Tentu saja, dia anakku. Mereka pasti akan sangat lucu dan menggemaskan". Ucap Marvin pongah.


"Astaga dia mulai lagi, mereka menggemaskan karna ada gen Marinka disana. Jika mereka menurutimu, kupastikan mereka akan menyebalkan sepertimu". Ucap Leo tak mau kalah.


"Dasar kurang ajar". Gerutu Marvin. Keadaan kembali hening saat kedua pria dewasa itu memandangi wajah tak berdosa itu.


"Rasanya aku ingin sekali berkeluarga sekarang. Aku ingin memiliki anak yang menggemaskan sepertimu". Ucap Leo lirih. Marvin menatap Leo dengan serius.


"Kau yakin? Jadi kau memutuskan akan menikah?". Tanya Marvin.


"Iya". Jawab Leo singkat.


"Kau yakin bisa menerima wanita pilihan ibumu?".

__ADS_1


Kini berganti Leo yang menatap Marvin dengan dahi berlipat.


"Siapa bilang aku akan menikahi Thania? Aku tidak sudi menikahi monster itu". Ucap Leo kesal.


"Lalu kau akan menikahi siapa? Kau tahu bukan, kau memerlukan wanita untuk mendapatkan hal seperti ini". Ucap Marvin sambil menunjuk kearah bayi kembar itu.


"Kau pikir aku sudah gila? Tentu saja wanita. Tapi bukan Thania". Leo kembali duduk diatas sofa berwarna putih disudut ruangan itu. Marvin juga kemudian mengikutinya.


"Lalu siapa?".


"Apa kau keberatan jika aku menikahi Arina?". Tanya Leo tiba-tiba. Marvin sejenak berpikir. Ada tarikan nafas berat disana.


Bukan dia tak merelakan Arina untuk Leo. Bukan juga karna menyukai Arina. Tapi Marvin lebih memikirkan nyonya Merry. Apakah wanita itu akan dengan senang hati menerima Arina?


Tentu saja tidak. Keluarga Leo sangat menjunjung tinggi derajat mereka. Mana mau mereka punya menantu seperti Arina. Mereka jelas akan memilih Thania untuk mendampingi Leo dibanding Arina.


"Jadi kau keberatan?". Leo bertanya kembali.


"Aku tak pernah keberatan tentang hal itu. Hanya saja, kau tahu bibi Merry bukan? Dia sangat menginginkan wanita yang sepadan untuk mendampingimu. Mereka pasti menolak Arina. Terlebih lagi, beberapa waktu lalu mereka pernah bersitegang bukan?".


"Aku tahu. Tapi, asalkan Arina mau bersamaku. Aku akan melawan mereka. Aku tidak ingin mereka mencampuri urusanku yang paling pribadi. Mereka pikir aku tidak mampu mencari seorang istri? Sampai mereka menjodoh-jodohkanku dengan beberapa wanita". Gerutu Leo.


"orang-orang kaya membutuhkan itu untuk bisnis. Dan orangtuamu salah satunya". Kelakar Marvin.


"Aku sangat membenci itu". Leo berdecak kesal. Membuat Marvin terkekeh.


"Aku akan selalu mendukungmu jika kau memang ingin menikahi Arina. Aku akan sangat senang sekali karna kau yang akan menjaganya. Tapi pastikan dia aman didekatmu. Jangan sampai orangtuamu melakukan hal-hal yang membuatnya celaka". Marvin menasihati.


"Jangan khawatir. Aku pastikan Arina aman bersamaku. Soal orangtuaku, aku akan mengurusnya".


"Baiklah, aku serahkan semua padamu".


"Aku akan kembali kekamar Arina. Aku takut dia sadar ketika aku tinggalkan". Marvin hanya mengangguk. Ada perasaan lega saat Leo punya niat baik untuk menikahi Arina. Setidaknya ada yang mau menjaganya. Marvin menatap punggung sahabatnya yang menghilang dibalik pintu.


Marvin mendekati kembali ranjang Marinka. Lalu mengecup dalam-dalam puncak kepala Marinka.

__ADS_1


"Kau pasti akan senang nanti jika tahu Leo akan menikahi Arina. Cepatlah bangun. Kita akan berpisah bersama sikembar". Senyum dibibir Marvin tersungging saat melihat kedua bayinya yang ternyata sudah terbangun. Marvin bergantian mendekati box bayi itu.


"Kalian terbangun rupanya. Apa kalian lapar?". Ucapnya tak henti tersenyum.


__ADS_2