
"Apa kau merindukanku kak?". Tanya gadis itu parau. Belum sempat Marvin menjawab gadis bernama Arina itu berhambur memeluk Marvin. Gadis itu memeluknya erat tanpa bisa
berkata apapun. Hanya airmata yang keluar.
Akhirnya Marvin pun menyambut pelukan gadis itu. Mereka sama-sama memeluk erat.
"Kemana saja kau? Aku mencarimu seperti orang gila". Ucap Marvin geram namun tak melepas pelukan itu. Arina akhirnya lebih dulu menarik diri.
" Benarkah? Kau pasti berbohong". Arina terisak.
"Ada pengusaha yang mengadopsiku kak. Menginginkan aku untuk menjadi putrinya".
" Benarkah? Siapa? Apa aku mengenalnya". Tanya Marvin ingin tau.
" Papa Andrew. Dia yang membawaku dari sini bertepatan saat aku mendaftar universitas. Dia membawaku dan menyekolahkanku diluar negeri. Tahun ini aku lulus dan aku baru kembali untuk terus menetap disini". Jelas Arina berbinar.
Marvin tercengang ternyata yang mengadopsi Arina adalah lelaki yang beberapa saat lalu dia temui. Pantas bibi tidak mau cerita. Apa menghilangnya Arina ada hubungannya dengan semua ini. Begitu dugaan yang ada dikepala Marvin.
" Kau menghilang tiba-tiba. Membuatku kebingungan mencarimu. Ternyata Tuan Andrew yang membawamu. Aku bertemu dengannya tadi. Apa dia baik padamu? Bagaimana keluarganya? ".tanya Marvin khawatir.
"Sangat baik kakak, kau jangan khawatir. Bahkan keluarga besarnya menerimaku. Mereka sering kesini mengunjungiku dan berusaha membujukku untuk ikut bersama mereka. Kakak tiba-tiba saja pergi dan jarang mengunjungiku".
" Maafkan aku....Aku pergi untuk belajar agar aku bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anak disini, juga untukmu ". Jelas Marvin.
" Tapi kau sudah menikah, dan kau melupakanku, kau bilang akan selalu ada untukku. Tapi kau bohong".
" Maafkan aku Arina. Lalu apa yang membuatmu menerima itu? Bukankah tadinya kau tidak mau meninggalkan tempat ini ".
" Kau....... ". Jawab Arina singkat. Membuat Marvin menunduk penuh sesal.
" Kakak bilang akan sering mengunjungiku, tapi kau bohong. Aku melihat kakak mulai muncul diberita bisnis bersama Tuan Mike. Dari situ aku menerima tawaran papa Andrew. Keluarganya juga baik. Hanya dengan berada didekatnya aku bisa mengimbangimu ".
"Sukurlah jika kau mendapat keluarga yang menyayangimu ". Ucap Marvin lembut.
" Tentu saja, itu karna kau sudah melupakanku". Arina mencebik memasang muka sedih. Marvin tertawa lalu mengacak rambut Arina gemas.
" Apa kau sudah makan? ".
" Belum kak, aku baru tiba. Apa kau mau menemaniku makan? ". Ajak Arina.
" Tentu saja. ini pertama kalinya kita bertemu setelah bertahun-tahun. Kita harus rayakan pertemuan ini ". Marvin lalu menarik Arina ke meja besar yang penuh dengan makanan.
__ADS_1
" Wah.. Ada sup daging pedas buatan bibi grace ". Ucapnya berbinar.
" Kau suka? ". Tanya Marvin berbinar juga.
" Tentu saja, aku paling merindukan ini. Masakan bibi grace yang terenak ". Ucap Arina senang.
" Baiklah.. Mari kita makan ".
Keduanya menikmati makanan dengan lahap sambil sesekali bertukar cerita. Marvin sangat menikmati pertemuannya dengan Arina. Sampai dia lupa ada Marinka yang menunggunya dirumah.
Dari kejauhan dan dari tempat yang berbeda ada dua pasang mata yang sedang mengamatinya.
Tuan Andrew melihat dengan senyum bahagia yang memancar dibibirnya. Melihat putrinya bertemu dengan sahabat kecilnya.
Sedangkan bibi grace mengamati dengan perasaan was-was, cemas dan khawatir. Entah apa yang dipikirkan wanita paruh baya itu.
Sampai malam mereka masih berbincang ditepi kolam itu. Tamu undangan yang hadirpun sudah banyak yang meninggalkan panti.
"Kak Marvin aku harus pergi. Papa Andrew sudah menungguku".
Marvin menghela nafas panjang. Tak rela jika harus berpisah lagi.
"Baiklah... Jangan lupa hubungi aku. Aku akan marah jika kau melupakannya ".
Marvin hanya bisa mengamati Arina yang berlalu dari hadapannya. Dengan perasaan yang senang. Tidak menyangka akan bertemu kembali disini.
"pulanglah Marvin ". Bibi grace datang mengagetkan.
" Bibi.. Kau membuatku terkejut ".
" pulanglah.. Kau melupakan istrimu hari ini. Kau bilang pulang sebelum petang tapi ini sudah lewat dari jam delapan malam". Ucap bibi grace tajam.
"Iya bibi aku lupa ". Ucap Marvin penuh sesal. Ada apa dengannya. Kenapa dia benar-benar lupa keberadaan Marinka.
" pulanglah, jangan membuatnya menunggu, jangan menyakitinya dan...... Jangan berbohong ". Ucap bibi grace penuh penekanan kemudian berlalu dari tempat itu.
" kenapa pertemuanku dengan Arina membuatku lupa pada Marinka ". Gumamnya pelan sambil mengecek ponselnya.
" Astaga.. Banyak pesan dan panggilan yang masuk. Dia pasti khawatir ". Marvin lalu bergegas menuju mobil setelah berpamitan dengan bibi grace dan yang lain. Kemudian melajukan mobilnya membelah jalanan yang mulai dituruni hujan gerimis.
*****************
__ADS_1
Marvin sampai diapartemennya. Marinka yang sejak tadi dikamar kemudian berlari keluar melihat kedatangan Marvin.
"Kau sudah pulang? Kenapa tidak menguhubungiku? Aku khawatir kau tau itu". Ucapnya kesal dengan mata berkaca-kaca.
"Aku disini jangan khawatir, maaf membuatmu cemas". Ucap Marvin lembut sambil memeluk Marinka. Hatinya berdesir sakit merasa telah sedikit menduakan Marinka hari ini.
Marinka melepas pelukan itu. Merasa heran dengan Marvin.
"Kau kenapa? Kenapa jadi sangat emosional. Seharusnya aku yang bersedih kenapa jadi kau yang bersedih? ".
" Tidak apa-apa hanya saja harusnya aku bersamamu sejak tadi. Maaf aku lupa waktu". Marvin kembali memeluk Marinka.
"Aku sengaja tidak ikut agar kau bisa melepas rindu bersama bibi grace dan yang lain. Aku tidak mau mengganggu kalian ". Marinka menepuk-nepuk punggung Marvin pelan.
Marvin mengurai pelukan itu dan menatap lekat mata Marinka. Perlahan Marvin mencium bibir Marinka. Membuat Marinka terkejut. Marvin memegang tengkuk Marinka memperdalam ciumannya dan kini begitu menuntut.
Sementara didalam kepalanya sedang berkecamuk memikirkan wanita yang didepannya ini dan juga teman kecilnya yang baru saja ditemuinya. Teman kecilnya yang bernasib sama didalam panti asuhan dengan dirinya, gadis kecil yang ingin dia perjuangan hidupnya dikemudian hari. Tapi keadaan berkata lain.
Pikirannya mendadak kacau memikirkan itu semua. Kenapa harus datang disaat seperti ini. Disaat dia menyerah memperjuangkan keyakinannya. Disaat dia mencoba benar-benar membuka hati untuk gadis lain yang mirip sepertinya.
Benarkah pernikahan ini hanya untuk balas budi? Rasanya kejam sekali jika menyebutnya begitu. Rasanya Marinka tidak pantas mendapatkan ketidakadilan. Setelah hubungannya yang selalu gagal, Marvin memberikan harapan baru untuk Marinka dan keluarganya. Jika Marvin meninggalkannya, apa bedanya dia dengan Thomas.
Marvin menjatuhkan tubuh mereka diranjang. Tak ada akal yang berbicara, yang ada hanya nalurinya yang bekerja. Tak ada bantahan apapun dari Marinka. Wanita itu telah berniat memantapkan hatinya. Sebagai bentuk patuhnya pada suami dan pada kelangsungan hubungannya kelak. Tapi tanpa dia sadari, lelaki yang mencubuinya itu sedang meragu.
Pergumulan itu tak bisa dihindari, sampai akhirnya mereka sama-sama berebut udara untuk mengakhirinya.
Marvin menarik selimut untuk mereka berdua. Mengecup puncak kepala Marinka lalu mengusap punggung telanjang wanita itu. Marinka membalasnya dengan senyuman manis. Juga kecupan singkat dibibir Marvin. Tak butuh waktu lama, Marinka yang kelelahan itu terlelap.
Mata Marvin menerawang menatap langit-langit kamarnya. Entah apa yang dipikirkan.
Dia sudah memantapkan hati beberapa bulan ini. Benar-benar ingin melupakan Arina, melupakan kenangan mereka. Tapi tiba-tiba dia datang. Sangat mengejutkan.
Kenapa saat sama-sama dewasa mereka memiliki banyak kemiripan. Senyumnya manjanya,cara bicaranya, mengingat itu semua membuat Marvin gusar.
Tiba-tiba....
*Drtt... Drrrtttt.....
Ponsel Marvin berdering, dia lalu mengambilnya perlahan diatas nakas samping tempat tidurnya.
"Aku sudah sampai kak, aku merindukanmu ".
__ADS_1
Marvin menghela nafas panjang. Mengusap wajahnya kasar. Gerakannya membuat Marinka sedikit terusik. Marvin lalu mengusap pelan kepala Marinka.
" Ada apa dengan perasaanku. Seharusnya ini tidak terjadi, seharusnya aku tidak lepas kendali". Gumam Marvin pada dirinya sendiri.