
" Apa Marinka sudah tidur?". Tanya Tuan Mike yang sedang duduk disofa ruang kerjanya.
"Sudah Paman ". Jawab Marvin. Dia sebenarnya bingung kenapa pamannya memanggilnya keruang kerja. Biasanya itu terjadi jika ada hal penting yang harus dibicarakan.
" Aku ingin membicarakan hal penting padamu ".
" Apa itu paman? ". Tanya Marvin sambil duduk disofa yang sama.
" Ini mengenai Arina. Dia sudah kembali, dan aku yakin kau sudah tau kan? ".
" Iya paman, aku bertemu dengannya beberapa waktu lalu dipanti ". Ucap Marvin sedikit gugup.
" Apa kau masih punya perasaan padanya? ". Tanya Tuan Mike sedikit penuh penekanan.
" Tidak.. Entahlah... Aku tak tau ". Ucap Marvin sedikit gusar.
" Aku harap kau tidak menyakiti Marinka. Aku hanya tidak mau dia tertekan karna beritamu hari ini ".
" Aku akan berusaha meski itu sulit ".
" Sesulit apa itu Marvin? Toh kalian juga sudah lama tidak bertemu ". Nada bicara Tuan Mike sedikit kesal.
" Aku tau paman, tapi paman tentu tau kan kami dari kecil bersama-sama saat dipanti. Dan meskipun aku sudah disini kita juga sering menjenguknya disana. Sampai pada aku meneruskan sekolah diuniversitas lalu aku kehilangan dia begitu lama. Dan kini dia muncul saat aku sedang menata hidupku dengan Marinka ".
" Aku juga tidak tau kenapa Andrew tiba-tiba membawanya pergi begitu saja. Mengambilnya seolah benar-benar menginginkannya. Lalu dia membawa Arina datang juga dengan tiba-tiba. Aku takut dia merencanakan sesuatu ". Ucap Tuan Mike sedikit cemas.
" Jangan berpikir terlalu jauh paman, aku yakin tidak ada yang akan terjadi ". Ucap Marvin menenangkan.
" Kau harus tau sebuah cerita masa lalu Marvin ". Ucap Tuan Mike sambil menyesap kopinya.
" Apa itu paman? ". Tanya Marvin penasaran.
" Tentang Andrew dan Louis ". Marvin mencoba mencerna.
" Tentang Tuan Andrew dan Paman Louis? ".
Marvin masih bingung.
" Iya... Mereka terlibat masa lalu yang rumit Marvin. Dulu Andrew dan Louis menyukai wanita yang sama. Tapi Louis yang mendapatkannya. Louis menikahinya lalu lahirlah Marinka. Tapi wanita itu tak selamat saat berjuang melahirkan putrinya. Dan Andrew sangat marah akan hal itu".
Mendengar penuturan pamannya Marvin terbelalak.
"Lalu apa yang membuat paman cemas? ".
" Aku takut dia menggunakan Arina untuk kepentingannya ".
"Kenapa jadi begitu rumit. Apa tujuan Tuan Andrew melakukan semua ini. Apakah Tuan Andrew benar-benar merencanakan sesuatu? Tapi apa? ". Marvin semakin bingung memikirkannya.
__ADS_1
" Entahlah.. Paman juga bingung. Paman belum berani mengatakan apapun. Tapi paman merasakan ada sesuatu yang akan terjadi. Aku hanya bisa berpesan jagalah Marinka, jangan sampai sesuatu menimpanya. Jika itu terjadi aku tidak akan memaafkanmu Marvin ". Tuan Mike berucap mantap.
" Aku mengerti paman. Baiklah, aku akan kembali dulu, aku takut Marinka mencariku". Marvin beranjak keluar dari ruangan itu.
*****
Marvin memasuki kamarnya menaiki ranjangnya dan memeluk Marinka dari belakang. Marinka yang belum sepenuhnya tidur terkejut luar biasa. Dan berusaha memukul Marvin.
" Marinka.. Ini aku tenanglah".ucap Marvin sambil menahan tangan Marinka yang tadi hendak berbalik memukulnya.
"Astaga Marvin kau membuatku terkejut ". Marinka memegangi dadanya. Wajahnya mendadak pucat dan berkeringat.
" Maaf mengejutkanmu. Ini minumlah ". Marvin menyodorkan segelas air putih pada istrinya. Marinka mrminumnya hingga tandas. Kemudian menyerahkan gelas kosong itu pada Marvin.
" Apa yang sedang kau pikirkan sampai membuatmu terkejut seperti itu? ".
" Siapa lagi jika bukan David ". Jawab Marinka kesal.
" Dia tidak akan berani ". Jawab Marvin sambil tersenyum geli melihat raut wajah kesal Marinka.
" Kau darimana? ".
" Aku tadi menemui paman. Ada hal yang harus dibicarakan ". Ucap Marvin sambil menepuk-nepuk lengannya agar Marinka berbaring disana.
" Benarkah.. ? ". Tanya Marinka curiga sambil menidurkan kepalanya dilengan Marvin.
" Kau tidak percaya? ".
" Baiklah.. Kau bisa menanyakannya pada paman besok ". Marvin lalu memeluk Marinka.
" Kau tidak sedang menelepon kekasihmu kan? ". Marinka mendelik.
" Astaga Marinka,, jangan memulai saat kita akan istrihat ".
*******
" Marvin, bisakah kau kembali tinggal disini? ". Tanya bibi mouli saat sedang sarapan.
Pertanyaan itu sontak membuat dua kakak beradik yang sedang makan itu kesusahan menelan makanannya.
Pasalnya jika Marvin dan Marinka tinggal disini maka otomatis Dania dan David harus angkat kaki dari rumah itu. Dan David tidak mau itu terjadi.
Karna pada kenyataannya meskipun David dan Dania saudara jauh bibi mouli, ternyata bibi mouli tetap memilih Marvin daripada kedua saudara tersebut. Marvin bisa diandalkan dari segi apapun sedangkan dua kakak beradik itu bisanya hanya menghabiskan uang.
"Aku belum tau bibi...aku terserah Marinka saja ".ucap Marvin santai sambil memasukkan potongan sandwich kedalam mulutnya. Membuat Marinka bingung harus menjawab apa.
" Tapi sebaiknya mereka memang tinggal bersama bibi, tidak baik jika jika tinggal disini. Itu akan mengganggu mereka. Mereka juga butuh waktu bersama setelah seharian bekerja ". Jelas David panjang lebar. Dan itu membuat Marvin tersenyum geli.
__ADS_1
" Tentu saja David. Itu baik untuk pengantin baru meskipun mereka sudah beberapa bulan menikah, tapi kebersamaan tanpa gangguan orang lain itu paling penting ". Ucap Dania ikut membenarkan ucapan kakaknya. Membuat Marinka terkejut.
" Kalian hanya takut kalian tidak punya tempat tinggalkan? ". Ucap Marvin telak. Membuat kedua bersaudara itu tak bisa menyembunyikan wajah mereka yang merah menahan malu.
" Ah.. Kau berlebihan Marvin, kita bisa tinggal bersama seperti biasanya ". Ucap David basa basi.
" Aku tidak akan sebodoh itu membiarkan Marinka satu atap denganmu".ucap Marvin penuh penekanan.
"Sudahlah,, itu kita bahas nanti. Kalian makanlah yang benar ". Tuan Mike menengahi.
" Aku rasa paman dan bibi tau jawabanku jika lain kali kalian bertanya hal ini ". Ucap Marvin kemudian.
" Baiklah.. Akan bibi pikirkan dimana David dan Dania tinggal ". Ucap bibi mouli membuat Dania tidak terima.
" Bibi.. Kau akan mengusirku? ". Dania berkaca-kaca.
" Tidak sayang.. Kau juga harus bekerja kan, kau sudah meninggalkan butikmu lama. Kau harus mengurusnya bukan? Kau bisa tinggal kembali diapartemenmu seperti beberapa waktu lalu. Dari sana lebih dekat menuju butikmu kan ". Ucap bibi mouli lembut.
" Lalu aku bagaimana bibi? ". Tanya David gusar.
" Kau bisa kembali kekotamu. Bekerja seperti biasanya ". Ucap bibi mouli.
David dan Dania tidak bisa berbicara apapun. Mereka tidak bisa berbuat banyak jika mereka masih ingin mendapat beberapa fasilitas mewah dari paman Mike.
" Jika kau ingin kemari, jangan sungkan. Datanglah jika kau mau datang ". Lanjut bibi mouli ketus. Marinka yang tadinya hanya diam menikmati makanannya dan memilih menjadi pendengar akhirnya menghentikan gerakannya. Mencoba mencerna ucapan bibi mouli.
" Apa kau bisu ". Ucapan bibi mouli terkesan kasar tapi Marinka menyukainya. Itu hanyalah sikap kaku dari bibinya yang sempat mendiamkannya beberapa waktu lalu.
" Iya bibi aku mengerti, terima kasih sudah mengizinkanku ". Ucap Marinka tersenyum. Marvin pun ikut tersenyum lalu mengusap punggung tangan Marinka, bahagia karna bibi mouli sudah sedikit berubah.
*******
" Aku antar sampai sini saja. Aku sudah kesiangan ". Ucap Marvin pada Marinka setelah memparkir mobilnya diperusahan Marinka.
" Baiklah tidak apa aku bisa masuk sendiri ".
" Kau tidak memberiku ciuman untuk menyemangatiku bekerja? ". Goda Marvin.
" Tidak akan... ". Ucap Marinka lalu terburu-buru keluar dari mobil sambil menjulurkan lidahnya.
" Dasar aneh.... ". Ucap Marvin tersenyum.
Drtt... Drtt.....
" Kakak,, aku dikantormu,, aku membawakanmu sarapan ".
Begitulah bunyi pesan dari Arina. Marvin mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
" Apa lagi ini.... Pagi hariku akan sedikit berantakan sepertinya ".
******