
Marinka masih terbaring meringkuk diatas ranjangnya. Kelelahan selama beberapa hari membuatnya enggan untuk bangun pagi. Bahkan matahari pagi pun sudah memaksa masuk kedalam kamarnya itu. Matanya mengerjab kemudian terpejam kembali. Meskipun matanya terpejam namun indra pendengarannya ternyata masih terjaga. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Aroma maskulin menguar dikamar itu.
Drtt.. Drrrtttt....
Ponsel Marvin yang berada didekatnya bergetar. Ingin diabaikan namun semakin sering berbunyi. Dengan malas Marinka meraih Ponsel Marvin. Air mukanya berubah buruk. Ternyata Arina yang sudah menelepon puluhan kali dari kemarin sore. Pun begitu juga dengan deretan puluhan pesan singkat yang dikirimkan menumpuk disana. Dan tak satupun yang terbaca.
Marinka menghela nafas panjang, dia menggerutu dalam hati. Kenapa pagi harinya harus berawal menyebalkan. Saat dia hendak mengembalikan Ponsel keatas nakas, bersamaan dengan itu pula Marvin keluar dari kamar mandi dan mendapati Marinka memegang ponselnya.
"Apa ada yang menelepon? ". Tanya Marvin hangat. Marinka hanya menjawab dengan anggukan.
" Maaf aku tadi membuka ponselmu. Karna tak berhenti berbunyi ". Ucap Marinka tak enak. Karna baginya membuka ponselnya orang lain itu sangat tidak sopan. Mengingat itu privasi dan sensitif meskipun itu suaminya sendiri.
" Kau bicara apa? Tidak perlu meminta maaf, aku sama sekali tak keberatan ". Ucap Marvin dengan senyum manisnya kemudian mendaratkan satu kecupan dipuncak kepala Marinka. Tangannya kemudian meraih Ponsel tersebut. Seketika Marvin berdecak kesal melihat nama yang tertera disana.
" Kenapa tak mengangkatnya. Kau boleh melakukannya jika kau mau ". Ucap Marvin.
" Tapi itu ponselmu, aku tidak mau terlihat kurang ajar Marvin ". Kata Marinka sambil bersandar pada headboard.
" Tidak seperti itu, aku mengizinkanmu. Kau tau, bahkan diluaran sana banyak istri yang selalu memeriksa Ponsel suaminya secara sembunyi-sembunyi. Kau tidak perlu lakukan itu. Aku mengizinkanmu sepenuhnya ".ucap Marvin penuh senyum membuat Marinka pun ikut terkekeh. Marvin sungguh merindu senyum itu beberapa hari ini.
" Kau mau jalan-jalan? Udara pagi baik untukmu ". Ucap Marvin hangat sambil menggenggam tangan Marinka. Wanita itu sejenak berpikir lalu mengangguk.
" Baiklah, aku akan membersihkan diri dahulu". ucap Marinka dibalas anggukkan. Sambil menunggu istrinya itu Marvin mulai mengecek ponselnya kemudian menghapus daftar pesan Marinka diponselnya tanpa membacanya. Dirinya berniat akan memulainya dari awal.
*******
Marinka berjalan ditaman dekat tempat tinggalnya. Udara dipagi hari masih begitu segar. Banyak orang yang lalu lalang menikmatinya. Mereka membawa serta anak-anak mereka atau mungkin hewan piaraan mereka.
Marvin sedari tadi tak melepaskan sedetikpun genggaman tangannya. Dia benar-benar ingin membenahi semua dari awal.
"Kau mau makan sesuatu? ". Tawar Marvin. Marinka menggeleng. Dia sedang tidak ingin memakan apapun. Dia hanya ingin menikmati pagi harinya.
" Tidak,, nanti saja ". Kata Marinka. Akhirnya mereka duduk dikursi taman. Mata Marvin seketika menangkap penjual es krim.
" tunggu disini sebentar, aku akan membeli sesuatu. Jangan kemana-mana ". Titah Marvin. Marinka hanya mengangguk. Tak lama Marvin pun kembali. Lalu menyodorkan es krim dan kue jahe. Marinka yang terkejut menerima begitu saja tanpa membuka isi dari belanjaan Marvin.
__ADS_1
" Makanlah, bukankah kau sangat menyukainya ". Ucap Marvin hangat penuh perhatian. Marinka lantas melihat isinya. Seketika tenggorokannya tercekat. Matanya pun mulai berkabut memanas. Kejadian beberapa hari lalu membayang dimatanya.
Bagaimana dia begitu menginginkan es krim dan kue jahe itu. Namun sialnya berujung dia kehilangan bayinya karna kesalahpahaman Marvin. Melihat raut wajah Marinka yang berubah Marvin menjadi terusik.
"Ada apa... ? Kau tidak mau memakannya? ". Tanya Marvin bingung.
" Aku sudah tidak menginginkannya ". Ucap Marinka datar.
" Kau biasanya sangat menyukainya ". Ucap Marvin bersikeras, membuat Marinka menatapnya tak percaya.
" Aku menginginkannya karna ada bayi didalam perutku. Dan sekarang bayi itu sudah tiada. Apa kau paham maksudku? ".ucap Marinka kehilangan kesabaran. Bagaimana cara kerja pikiran Marvin. Bisa bisanya mengingatkannya pada kejadian itu.
" Maaf, aku tak bermaksud, kemarikan. Aku akan menyimpannya ". Ucap Marvin sambil mencium sisi kepala Marinka. Seketika wajah Marvin pun berubah muram.
" Aku ingin membuatmu nyaman, tapi dengan bodohnya aku membuatmu bersedih. Kau punya alasan membenciku sekarang. Maafkan aku Marinka ". Ucap Marvin bergetar. Marinka menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar karna dia menangis.
" Aku sungguh ingin memukulmu, aku membencimu Marvin ".ucap Marinka tergugu.
" Kau boleh memukulmu sesukamu. Aku pantas untuk itu ". Ucap Marvin sambil memeluk Marinka erat. Mata Marvin pun berkaca-kaca. Tidak sanggup melihat kesedihan Marinka.
" Aku ingin pulang ". Kata Marinka sendu.
********
"Papa.. Apa kau didalam, aku bawakan kue jahe untukmu ". Ucap Marinka bersemangat.
Marvin mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi diruang makan itu. Marinka pun masih bersemangat mengetuk pintu. Terdengar sahutan dari dalam setelah sekian menit berlalu.
"Letakkan saja disitu nanti aku akan memakannya ". Sahut Tuan Louis dari dalam kamar. Marinka menunduk getir kemudian dengan gontai berjalan menyusul Marvin keruang makan. Kemudian ikut duduk disalah satu kursi. Marvin menggenggam tangan Marinka.
" Nanti aku coba bicara pada Papa. Jangan bersedih ". Ucap Marvin.
" Marvin, aku ingin pulang ke apartemen ". Ucap Marinka seraya menunduk sambil menatap kedua tangannya yang saling meremas.
" Kenapa.. Belum tiga hari kita disini, kau bilang akan tinggal sedikit lama". Ucap Marvin heran.
__ADS_1
" Tak apa, aku ingin disana saja. Apa boleh? ". Marinka tak mampu membendung airmatanya.
" Kau bicara apa? Tentu saja boleh. Itu juga milikmu, tempat tinggalmu ". Ucap Marvin yang merasa kasihan pada istrinya. Bahkan untuk pulang kerumahnya saja sangat sulit. Dan lagi untuk apa meminta izin untuk tinggal diapartemennya. Toh itu juga miliknya.
" Terimakasih, aku akan bersiap-siap ". Ucap Marinka, namun sepertinya itu hanya dibibirnya saja. Dalam hatinya masih ingin tinggal. Tapi sikap Tuan Louis yang berbeda membuat dia harus segera pergi.
" Kau kenapa? Apa karna papa kau tidak jadi berlama-lama disini ? ". Tanya Marvin lembut.
" Entahlah.. Aku pikir dengan pulang kemari aku akan sedikit tenang. Tapi nyatanya aku salah. Sikapku yang tidak terbuka ternyata menyakiti papa. Aku tidak mau semakin lama aku disini, akan semakin membebani pikirannya". Suaranya tercekat. Bukankah sebenarnya dialah yang seharusnya dikasihani tapi nyatanya dia yang harus lebih mengalah demi menjaga perasaan orang lain.
******
Terlihat Marinka menuruni anak tangga hanya dengan membawa travel bag ukuran sedang, sama seperti yang kemarin dia bawa. Bibi elly mengernyit heran.
"Kau akan kemana sayang? ". Tanya bibi elly.
" Aku akan pulang bibi ". Ucap Marinka.
" Kau baru menginap semalam, tidak biasanya kau begini. Lalu kau akan tidur dimna? ".
Marinka tersenyum getir. Bahkan dia sendiri pun bingung. Dirumahnya sendiri dia terasa asing. Lantas bagaimana jika dirumah paman Mike ataupun diapartemen Marvin? Apa mereka akan menerima dengan terbuka setelah kekecewaan yang Marinka berikan. Dia yang kehilangan tapi dia yang dihakimi.
"Dia akan tinggal bersamaku diapartemen ". Ucap Marvin setelah paham yang dipikirkan Marinka. Tuan Louis yang sedari tadi diam membaca surat kabar akhirnya melihat kearah putrinya. Putri kecilnya yang malang.
Setelah berpamitan Marinka menunggu Marvin dimobil. Sementara Marvin masih berbicara dengan Tuan Louis.
"Papa, aku mohon jangan seperti ini. Jangan diamkan Marinka. Dia sangat tertekan. Cukup aku saja yang sudah membuatnya kecewa. Tapi papa jangan ". Ucap Marvin memohon dengan sangat.
" Kau yang menyebabkan semua ini. Kau lalai pada janjimu. Sampai-sampai Marinka melakukan kebodohan menyembunyikan kehamilannya, dan akhirnya dia kehilangan cucuku. Ini semua karna perempuan bernama Arina kan? ".
" Aku minta maaf, aku akan berusaha memulai dari awal, aku akan memperbaiki semuanya. Aku mohon papa percaya".
"Entahlah.. Rasanya kepercayaanku hilang dihari dimana cucuku tiada. Jika kau berat menjalani ini, tinggalkan putriku.. Aku masih sanggup mengurusnya ".
Marvin tertegun.
__ADS_1
"Apa lagi ini?".
********