
Marvin dan Marinka masih menemani Thomas dirumah sakit. Marvin berulang kali mengajak Marinka pulang. Tapi Marinka keras kepala tidak mau pulang sebelum melihat Emily siuman.
"Kau tidak boleh kelelahan, ayo kita pulang istirahat dulu". Ajak Marvin untuk kesekian kalinya.
"Aku belum tenang jika belum melihat Emily siuman". Ucap Marinka memelas.
"Kau jangan keras kepala, lihatlah kondisimu. Jika sampai terjadi sesuatu padamu aku tidak akan pernah memaafkanmu". Ucap Marvin mengancam. Marinka mengerucutkan bibirnya.
"Tigapuluh menit lagi. Aku janji". Ucap Marinka memohon lagi. Marvin hanya bisa berdecak kesal. Marinka ini keras kepala sekali.
Tak berapa lama nyonya Julia datang dengan tatapan sinis. Matanya menajam menatap Marinka. Seakan ada amarah yang tertahan disana.
"Kenapa kau masih disini? Tidak tahu malu. Apa kau mau menggoda Thomas lagi?". Nyonya Julia meningggi. Marinka yang terkejut akhirnya memberanikan diri menatap nyonya Julia.
"Apa yang Bibi katakan? Aku disini karna ingin menunggu Emily siuman". Ucap Marinka hampir menangis.
"Tidak perlu, gara-gara sering bergaul denganmu, kami jadi mendapat petaka. Dia kehilangan bayinya sepertimu. Dimanapun dirimu, kau itu pembawa sial. Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan semua keturunanku bergaul dengan keluargamu dan semua kerurunanmu". Ucap nyonya Julia menyakitkan.
"Hentikan Bibi, seharusnya Bibi bisa menilai diri Bibi sendiri, Bibi juga bukan sepenuhnya orang baik bukan?Jadi jangan menilai orang lain sesuka hati Bibi". Ucap Marvin tegas.
"Kalian berdua sama saja, sama-sama pembawa sial. Lahir pun dari asal usul yang tidak jelas". Ucap nyonya Julia kemudian berlalu dari tempat itu.
Marvin mengepalkan tangannya menahan amarah yang hampir meledak.
"Sudahlah, kita pulang saja sekarang". Ucap Marinka sendu.
****
Kurang lebih delapan bulan sudah berlalu dari kejadian itu. Kehamilan Marinka sudah terlihat membuncit. Marvin selalu melarang Marinka melakukan hal yang dapat membuatnya lelah. Kehamilan kembarnya ini sungguh benar-benar menguras energinya.
Emily dan Thomas pun sudah melalui masa sedihnya. Mereka bertempat pun sering bertemu. Tidak ada yang berubah dalam persahabatan mereka. Meskipun nyonya Julia melarang mereka bertemu Marvin ataupun Marinka.
"Sayang, bangunlah. Aku sudah siapkan Sarapanmu". Ucap Marinka sambil menyibak tirai kamar. Sinar mentari pun sudah leluasa masuk kedalam kamar sehingga membuat Marvin menggeliat.
"Sebentar lagi sayang, sepuluh menit lagi".
"Tidak.. Tidak.. Ini sudah yang ketiga kalinya. Bukankah kau berjanji akan mengajakku jalan-jalan". Marinka mulai merajuk.
"Baiklah.. Baiklah.. Aku akan membersihkan diri dulu". Ucap Marvin kemudian bergegas.
"Jangan lama-lama".
"Kau ini cerewet sekali".
Hari ini akhir pekan. Marvin berniat mengajaknya jalan-jalan ditaman. Sudah lama sekali dia tidak keluar rumah. Selama empat bulan ini Marinka hanya menghabiskan waktunya dirumah.
"Kau mau berjalan-jalan kemana?".tanya Marvin yang baru saja keluar dari kamar mandi. Lelaki itu lalu mengenakan pakaian yang sudah Marinka siapkan.
__ADS_1
"Aku sepertinya tidak jadi ketaman. Bagaimana kalau kerumah Bibi mouli? Kita sudah lama tidak berkunjung bukan?".
"Baiklah, mari kita kesana. Sepertinya paman Mike juga membutuhkanku. Terlihat dia menelponku semalam tapi aku sudah tertidur". Ucap Marvin sambil menggandeng tangan Marinka.
****
"Bibi aku datang". Sapa Marinka sambil terus memasuki rumah bibinya itu. Marinka sedikit berlari sehingga membuat Marvin berdecak kesal.
"Tidak bisakah kau berjalan dengan benar? Kenapa berlari seperti anak kecil?".ucap Marvin kesal.
"Marvin, kau berlebihan". Ucap Marinka dengan bibir mengerucut.
"Aku akan bersikap seperti ini jika itu berhubungan dengan dirimu". Ucap Marvin yang langsung membuat bibir Marinka terkatup rapat.
Marvin sekarang telah menjadi orang yang sangat cerewet. Segala apa yang Marinka lakukan selalu saja diawasi.
"Tidak apa-apa Marinka, Marvin sedang menikmati menjadi calon ayah. Jadi dia sedikit berlebihan". Ucap bibi Mouli yang baru saja turun bersama Tuan Mike.
"Aku sangat merindukanmu Bibi". Ucap Marinka lalu memeluk Bibi Mouli.
"Aku juga sangat merindukanmu sayang". Bibi Mouli membalas pelukan Marinka.
"Kalian mengobrol dulu, aku dan Marvin ada urusan sebentar". Ucap paman Mike.
Paman Mike hari ini terlihat berbeda. Wajahnya terlihat tidak bersemangat. Seperti ada beban yang mengganggunya.
"Apa paman ada masalah Bibi?". Tanya Marinka penasaran.
"Tidak sayang". Jawab bibi Mouli singkat. Terlihat senyum yang dipaksakan.
"Bibi, aku tahu Bibi berbohong".
"Bukan sesuatu yang penting. Jangan dipikirkan".
****
"Apa yang terjadi paman?".tanya Marvin mulai khawatir.
"Marvin, beberapa waktu lalu Andrew menemuiku. Dia mengancam akan menyakiti Marinka jika kita tidak menyerahkan Arina pada mereka". Ucap Tuan Mike khawatir.
"Apa yang harus kita lakukan? Hanya Arina yang tahu semua bukti kejahatan Tuan Andrew. Kita tidak mungkin menyerahkan Arina. Tapi kita juga tidak bisa membiarkan mereka menyakiti Marinka". Ucap Marvin mulai ikut khawatir.
"Mereka sudah memberi waktu cukup lama pada kita. Hampir sembilan bulan. Dan selama itu kita bisa menjaga Marinka dan Arina agar tetap aman. Tapi aku tidak tahu besok".
"Kita harus menjebloskan Tuan Andrew kepenjara. Tapi kita tidak bisa membiarkan Arina ataupun Marinka terluka".Marvin sedikit berpikir.
"Biarkan Marinka disini dulu. Jangan sampai mereka menyakitinya. Sebentar lagi Marinka akan melahirkan bukan? Aku tidak ingin dia banyak pikiran. Dan jangan sampai dia tahu masalah ini. Jika sampai terjadi sesuatu pada Marinka, akan aku pastikan mereka menyesal". Ucap Tuan Mike serius.
__ADS_1
"Baiklah, Marinka akan tinggal disini sampai kita punya solusi". Putus Marvin.
"Bagaimana dengan Arina?".
"Dia masih aman bersama Leo. Dia menyembunyikannya. Dia juga menyewa beberapa Bodyguard untuk menjaganya". Jelas Marvin.
"Sepertinya anak itu menyukai Marinka. Dia sampai mau bersusah payah membantu kita menjaganya".
"Aku pikir juga begitu Paman. Tapi aku rasa akan sulit jika itu terjadi. Aku yakin bibi Mary tidak akan tinggal diam". Ucap Marvin.
****
Sudah satu minggu Marinka tinggal dirumah bibi Mouli. Selama disana Marinka dilarang keluar rumah meskipun hanya diteras. Dan itu membuat Marinka bosan.
"Diteras saja tidak boleh. Sudah hampir sembilan bulan aku dikurung seperti tahanan. Menyebalkan". Gerutu Marinka.
Marinka mulai mengendap-endap keluar rumah. Memastikan bahwa bibi Mouli dan bibi Hana tidak melihatnya. Dia berjalan dihalaman melihat bunga yang sedang bermekaran. Lalu muncul ide gilanya. Seketika dia memesan taxi online.
Marinka berencana untuk memberi surprise pada Marvin. Dia ingin mendatangi kantor Marvin. Hampir sembilan bulan dia tidak melihat kantornya maupun kantor Marvin.
Dia merasa semua orang terlalu berlebihan.
Marinka tidak tahu bahwa mereka menjaganya agar tidak terjadi hal buruk dari orang-orang suruhan Andrew. Marinka tidak tahu jika nyawanya terancam.
Dengan senyum mengembang Marinka berjalan melewati koridor menuju ruangan Marvin. Sementara karyawan Marvin menatapnya terkejut dan tak percaya.
"Kenapa mereka menatapku begitu. Apa karna aku gendut dengan perut besar seperti ini? Apa mereka tidak tahu aku sedang hamil anak kembar? Menyebalkan". Gerutu Marinka.
Marinka lantas berjalan sambil sesekali memegang perutnya yang sesekali mengencang. Ini kali pertamanya dia berjalan sedikit lama dan terasa melelahkan diusia kandungannya yang membesar. Mungkin beberapa hari lagi Marinka dijadwalkan melakukan operasi untuk melahirkan kedua anaknya itu.
Ceklek.....
"kejutan..... ". Marinka seketika mematung
"Apa ini?".
******
Maaf untuk semua pembaca setiaku.. Mungkin novel ini akan tamat prematur..
Mohon maaf jika alurnya jadi berantakan dan tidak jelas. Saya masih perlu banyak belajar lagi.
Terimakasih untuk semua yang sudah mau mampir dikaryaku.
Terimakasih dan mohon maaf 😘😘😘
Love u all....
__ADS_1