Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
59. Tak punya siapa-siapa


__ADS_3

Happy Reading......


Marvin menurunkan Marinka diranjang. Tubuh Marinka benar-benar lemas. Berbeda jauh saat dikehamilan yang pertama. Dulu Marinka sangat menikmati masa kehamilannya. Tidak ada mual muntah dipagi hari, tidak ada rasa malas. Dia bisa melakukan apapun yang dia suka. Sehingga dia bisa menyembunyikan kehamilannya itu dengan rapi. Sampai-sampai Marvin pun tak menyadari kehamilan Marinka dulu.


Tapi berbeda dengan kehamilannya kali ini. Marinka benar-benar tidak punya tenaga. Bahkan sulit memakan makanan tertentu. Mungkin ini hukuman untuk Marvin. Agar dia bisa lebih memperhatikan Marinka.


"Kau mau makan sesuatu? ". Tanya Marvin.


" Tidak.. Aku masih sangat mual. Aku tidak menginginkan apapun".ucap Marinka malas.


"Tapi kau harus makan sayang, kau tidak boleh sakit. Ada dua nyawa diperutmu". Ucap Marvin membujuk.


"Baiklah, aku mau makan sandwich tuna".


"Sandwich tuna? Kau serius? ". Tanya Marvin sekali lagi.


" Iya, aku ingin makan itu". Jawab Marinka yakin.


"Baiklah, aku akan meminta pada bibi". Ucap Marvin hendak pergi.


"Aku mau kau yang membuat, aku tidak mau jika bibi Elly yang membuatkan ".


"Kau akan mendapatkannya". Ucap Marvin sambil mencium puncak kepala Marinka.


"Terimakasih". Marinka berkata tulus. Dia benar-benar bahagia saat ini. Bayangan memiliki keluarga yang sesungguhnya sedang ia nikmati. Pada awalnya dia merasa akan sulit menjalani pernikahan dengan Marvin. Mengingat mereka menikah karna suatu kepentingan.


Hingga mereka harus melalui jalan terjal untuk sampai dititik ini. Semoga akan selalu seperti ini.


Tak berapa lama Marvin pun masuk membawa sandwich tuna seperti yang Marinka inginkan. Mungkin ini efek kehamilan Marinka. Seingat Marvin Marinka tidak terlalu menyukai sandwich tuna.


"Cepat sekali, apa benar kau yang membuatnya?". Tanya Marinka curiga.


"Astaga sayang, aku bersumpah aku yang membuatnya". Ucap Marvin serius.


"Aku pikir bibi Elly". Ucap Marinka menahan senyumannya karna melihat wajah kesal Marvin.

__ADS_1


"Kau ini, selalu saja berpikir aku berbohong".


"Karna kau sering membohongiku". Ucap Marinka sambil mengerucutkan bibirnya.


"Sudah jangan dibahas lagi. Cepat makanlah". Ucap Marvin kesal membuat Marinka terkekeh.


Marinka lantas memasukkan satu gigitan sandwich itu kedalam mulutnya.


Dua gigitan..


Tiga gigitan...


Dan seterusnya hingga habis tak bersisa. Marinka menghabiskan dua potong sandwich.


"Kau mau susu?". Tawar Marvin. Marinka menggeleng.


"Air putih saja".


"Baiklah minumlah". Marvin menyodorkan segelas air putih yang memang sudah disiapkannya untuk Marinka.


"Sesuatu apa? Apa yang terjadi padanya?" Tanya Marinka khawatir.


"Entahlah aku tidak tahu. Istirahatlah, besok kita akan menjenguk Emily kerumah sakit". Ucap Marvin.


"Ya Tuhan, lindungilah Emily dan juga bayinya". Ucap Marinka tulus. Dia sangat tahu rasanya kehilangan. Dia tidak ingin wanita manapun mengalami hal buruk sepertinya.


*******


Sesuai rencana, akhirnya Marvin dan Marinka sekarang tengah berada dirumah sakit tempat Emily melakukan operasi. Usia kehamilannya sebenarnya sudah memasuki sembilan bulan. Awalnya semuanya baik-baik saja. Tapi entah kenapa saat usia kehamilannya memasuki trimester ketiga janin tidak bisa berkembang dengan baik. Dan mau tidak mau harus segera dilakukan tindakan operasi. Dan itu merupakan pukulan terberat untuk Thomas dan Emily. Mengingat mereka sangat menantikan kelahiran putri pertama mereka.


Marvin dan Marinka menunggu didepan ruang operasi. Mereka sama khawatirnya dengan Thomas. Disana pun ada Tuan Anthony dan nyonya Julia. Namun Marinka tak bertegur sapa sedikitpun. Kejadian beberapa waktu lalu masih membekas. Meskipun hubungannya dengan Emily terlihat membaik, namun Marinka tidak akan sudi berbasa basi dengan orang tua mantan kekasihnya dulu itu.


Marvin yang menyadari hal itu langsung bisa membaca situasi.


"Apa kau mau menunggu ditempat lain saja? Sepertinya kau sangar lelah". Tawar Marvin.

__ADS_1


"Tidak mau, aku mau menunggu Emily. Aku sangat mengkhawatirkannya". Ucap Marinka.


"Baiklah jika itu maumu". Putus Marvin.


Sebenarnya Marvin pun begitu enggan datang kerumah sakit itu. Dia hanya menghormati Thomas saja. Rasanya aneh jika melihat mereka sekarang. Dulu Marvin dan Thomas selalu bersaing dalam hal apapun. Marinka pun pernah sangat membenci Emily. Namun entah kenapa saat mereka sama-sama hamil dulu keduanya menjadi dekat dan sering bertukar kabar.


Butuh waktu beberapa puluh menit akhirnya dokter yang menangani Emily pun keluar.


"Bagaimana keadaan cucu dan menantuku Dokter?". Tanya nyonya Julia khawatir.


"Semua masih stabil, hanya saja bayinya masih lemah jadi masih dalam pengawasan. Kami akan melakukan yang terbaik nyonya. Dan semoga semuanya baik-baik saja". Dokter itu tersenyum sambil menepuk pelan pundak nyonya Julia. Kemudian dokter itupun berlalu dari tempat itu.


"Mari kita makan dulu, kau belum makan sejak semalam". Ajak Tuan Anthony pada istrinya.


"Aku belum lapar, kau saja dulu". Tolak nyonya Julia masih dengan raut cemas.


"Jangan sampai kau sakit, jika sampai kau sakit siapa yang akan menggendong cucu kita nanti? Kau harus menjadi nenek yang kuat dan sehat bukan?". Tuan Anthony masih membujuk.


Dengan berat hati akhirnya nyonya Julia mengangguk. Keduanya lalu meninggalkan tempat itu tanpa menyapa Marinka sedikitpun.


Hari Marinka seketika bagai teriris. Mengingat dulu betapa mereka begitu sayang pada Marinka. Dan entah kenapa dalam hitungan hari mereka berubah drastis. Marinka mengusap perutnya yang rata dengan hati pedih. Mengingat nanti jika anaknya lahir dia tidak akan mendapat kasih sayang seorang kakek atau pun nenek. Berbeda dengan putra Emily nanti. Mereka akan mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua kakek neneknya. Tak terasa airmata Marinka pun menetes.


"Kau kenapa? Kau sakit? Apa perutmu terasa tak nyaman? ". Tanya Marvin khawatir melihat Marinka menangis sambil mengusap perutnya. Marinka hanya menggeleng.


" Tidak Marvin, aku tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan anak kita nanti". Jawab Marinka dengan tatapan kosong.


"Apa yang kau pikirkan?".tanya Marvin


"Putri Emily terlahir dari keluarga yang lengkap. Dia punya kakek nenek yang masih utuh. Dia akan menjadi rebutan nanti Marvin. Aku membayangkan betapa bahagianya putri Emily nanti".ucap Marinka seraya tersenyum getir. Marvin merengkuh pundak Marinka dan mengecup sisi wajah istrinya itu.


"Kau jangan khawatir. Meskipun kita tidak seberuntung mereka, aku berjanji akan memberikan banyak kebahagiaan untuk anak-anak kita nanti. Meskipun mereka tidak punya kakek nenek yang lengkap, tapi kasih sayang dan cinta kita nanti akan selalu membuat mereka cukup. Percayalah.. Aku berjanji padamu". Ucap Marvin sambil mengusap airmata disudut mata Marinka.


"Terimakasih kasih Marvin. Aku harap setelah ini kehidupan kita akan baik-baik saja. Aku tidak ingin terusik oleh masalah apapun lagi. Aku ingin kita fokus pada keluarga kecil kita. Tanpa ada campur tangan siapapun". Ucap Marinka sambil tersenyum.


********

__ADS_1


__ADS_2