
Marinka melangkah gontai memasuki rumah bibi mouli. Tubuhnya sedikit lemas dan kepalanya sedikit pusing. Rumah terlihat sangat sepi. Marinka memiliki kunci rumah itu karna dulu ia biasa berkunjung kesana. Saat beberapa langkah dari pintu utama langkahnya terhenti. Dia jadi ragu melangkahkan kaki, jadi dia hanya berdiri disitu. Dia sedikit trauma pada David. Jadi dia memilih berdiam didekat pintu.
"Kau sudah datang? ". Sapa bibi mouli yang terlihat menuruni anak tangga. Marinka tersenyum lantas mengangguk.
" Iya bibi ".
" Kau sakit? Kenapa wajahmu pucat sekali? ".
" Hanya sedikit lelah saja bibi". Jawab Marinka lemah.
"Apa kau ada masalah dengan Marvin? Kau habis menangis? ".
" Tidak bibi.. Aku tidak apa-apa ".
"Istirahatlah dikamarmu. Kita bicara nanti saja setelah kau sedikit segar ".
" mmm.. Aku...... ".
" Jangan takut, mereka berdua sudah tidak ada disini". Kata bibi mouli seolah tau yang Marinka pikirkan.
"Baiklah bibi.. Aku akan istirahat dulu ". Ucap Marinka karna memang dia sudah benar-benar tidak tahan untuk merebahkan tubuhnya. Sampai-sampai dia tidak sadar Marvin menghubunginya berkali-kali. Sesampainya dikamar diletakkannya tasnya sembarangan lalu dengan cepat menaikkan tubuhnya diranjang. Meski matanya terpejam namun tidak dengan pikirannya. Pikirannya masih memikirkan hubungan Marvin dan Arina.
Kedekatan mereka membuat pikirannya terusik akhir-akhir ini. Dia sedikit takut jika kelak Marvin meninggalkannya. Tak terasa airmatanya ikut jatuh membasahi bantalnya. Bersamaan dengan itu Marinka akhirnya terlelap juga.
Sedangkan ditempat lain Marvin terlihat gusar mencari Marinka.
"Dimana kau Marinka.. ". Marvin mengemudi dengan cemas. Tiba-tiba Ponsel Marvin berbunyi. Panggilan dari bibi mouli.
" Ya bibi.. Kau panjang umur, aku baru saja mau menghubungimu ".
" Apa kau mencari Marinka? ". Tebak bibi mouli
" Dari mana bibi tau? ". Tanya Marvin heran.
" Dia disini sedang istirahat. Kemarilah".
"Aku kesana..... ".
***************
Marvin memarkir mobilnya lalu berlari kedalam rumah bibi mouli.
" Bibi... Aku datang ". Teriak Marvin dari depan.
__ADS_1
" Iya sayang bibi tau ". Ucap bibi mouli dari dalam dapur.
" Dimana Marinka bibi? ".
" Dia sedang istirahat. Dia mengunci pintunya dari dalam. Aku berulang kali memgetuknya tapi tak ada jawaban. Bibi takut terjadi sesuatu. Sejak datang dia lebih banyak diam. Penampilannya pun kacau. Apa kalian bertengkar? ". Tanya bibi mouli penuh selidik.
" Hanya salah paham bibi. Aku akan melihatnya dulu ". Ucap Marvin lalu bergegas menaiki anak tangga. Sesampainya didepan pintu dia coba membangunkan Marinka. Berkali-kali Marvin mengetuk pintu namun tak ada jawaban.
Setelah cukup lama mengetuk pintu akhirnya pintu itupun terbuka sedikit. Hanya menampilkan sebagian wajah sendu Marinka. Marvin menatap pedih wajah istrinya itu. Perlahan Marvin mendorong pintu itu. Sampai akhirnya Marvin bisa memasuki kamar itu sedangkan Marinka hanya bisa tertunduk tak mengatakan apapun.
Marvin menarik tubuh Marinka lalu memeluknya erat. Tak ada perlawanan dari Marinka. Hanya Isak tangis yang terdengar. Marvin mengusap-usap punggung Marinka untuk menenangkannya. Hatinya pun seketika ikut hancur mendengar tangisan Marinka.
"menangislah... Aku telah terlalu sering menyakitimu ". Ucap Marvin lirih.
Marinka semakin menangis tersedu sambil mencengkeram kemeja Marvin. Rasanya ingin sekali memukul pria didepannya ini, tapi dia tak bisa.
" Maafkan aku Marinka. Maafkan aku yang selalu menyakitimu. Aku sudah berusaha menghindarinya. Tapi dia selalu datang ". Ucap Marvin lirih sambil terus memberikan ciuman dipuncak kepala Marinka. Sementara wanita itu hanya mampu tergugu.
" Aku takut kau meninggalkanku Marvin. Aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak mau ". Ucap Marinka tercekat sambil terus menggeleng-gelengkan kepala dipelukan Marvin. Marvin semakin memeluknya erat.
" Itu tidak akan terjadi. Tenanglah.. ".
" Aku tak mau kau juga meninggalkanku ".
" Percayalah... Aku memang bukan sepenuhnya orang baik Marinka. Tapi aku tidak akan meninggalkanmu ". Ucap Marvin sambil membingkai wajah pucat Marinka lalu memberikan ciuman lembut dikedua pipinya.
*******
"Sayang, makanlah yang banyak. Kau terlihat pucat sekali, apa kau kurang sehat? ". Tanya Tuan Mike.
" Aku sedang tidak selera paman. Aku hanya ingin makan salad saja ". Jawab Marinka sambil tersenyum. Kedua matanya pun masih bengkak menandakan dia habis menangis.
" Kau mau makan apa? Biar bibi Hana memasak untukmu ". Tanya bibi Mouli.
" Tidak sekarang bibi, lain kali saja. Terimakasih ". Marinka tersenyum. Sementara Marvin hanya menatap pada Marinka yang hanya memainkan makanannya tanpa ada niatan menghabiskannya.
Terlihat Tuan Mike menyudahi makannya.
" Jika kau sudah selesai temui aku diruang kerja". Ucapnya pada Marvin. Marvin hanya mengangguk menyanggupi. Marinka lalu beranjak membereskan sisa makan mereka.
"Aku akan menemui paman sebentar". Pamit Marvin. Marinka hanya mengangguk samar. Kejadian itu pun tak luput dari pandangan bibi Mouli.
Bibi Mouli lalu ikut membereskan meja makan nya.
__ADS_1
"Biar aku yang membereskan bibi, tadi kulihat bibi Hana sedang sibuk ditaman belakang. Biar aku yang membersihkan piringnya". Kata Marinka sambil membawa piring kotor itu kekitchen sink.
"Baiklah...terserah kau saja ". Bibi Mouli ingin beranjak pergi namun kemudian dia berbalik memperhatikan Marinka yang sedang membersihkan piringnya kotor mereka.
" Apa kau sudah pergi kedokter? ".
" Ya...? ". Marinka sedikit terkejut. Meskipun mereka sudah saling bertegur sapa, namun masih terlihat kaku untuk bibi Mouli. Nada bicaranya masih ketus meskipun menyimpan perhatian yang besar. Tidak seperti dulu yang selalu menyapa hangat dan penuh kasih seorang ibu.
" Apa kau sudah memeriksakan dirimu? Kau sangat pucat sekali ". Ulangnya.
" Belum bibi, mungkin itu tidak perlu. Aku hanya lelah saja bibi. Akhir-akhir ini banyak sekali pertemuan dikantor. Jadi jadwal makan dan istirahatku berantakan ". Jawab Marinka sambil terus menggosok piring-piring kotor itu.
" Apa kau sudah mendapat masa periodemu bulan ini? ".
Pertanyaan bibi Mouli ini seketika menghentikan gerakan tangannya. Dia mulai sedikit berpikir.
" Belum.. ". Ucapnya lirih.
" Kau mengerti maksudku bukan,? Jangan membuang waktu. Lebih awal kau tau itu akan lebih baik".setelah mengatakan itu bibi Mouli kemudian berlalu dari tempat itu. Marinka menghela nafas panjang. Bayangan Arina seketika berkelebat membuat matanya kembali berkabut.
*****
" Apa yang terjadi? ". Tanya Tuan Mike langsung pada intinya.
" Hanya salah paham paman ". Jawabnya yang sebenarnya Marvin enggan membahas masalah itu lagi.
" Salah paham mengenai apa? ". Tanya Tuan Mike kembali penuh selidik.
" Mengenai Arina. Marinka bertemu dengannya saat jam makan siang. Dia datang kekantorku dan kebetulan Arina juga disana ". Jelas Marvin.
" Astaga.. anak itu mulai berani. Sejak kapan dia mulai datang ke kantormu ? ".
" Sudah sekitar satu bulan lebih ". Ucapnya gugup. Dia yakin kini Tuan Mike itu sudah sedikit marah.
" Apa...! Sudah selama itu? ". Seru Tuan Mike terkejut.
" Iya.. Paman ".
" Kau keterlaluan Marvin, kau menyembunyikan itu dari istrimu ".
" Aku terlalu takut untuk jujur pada Marinka paman. Aku tidak mau dia menjadi terlalu cemas. Sedangkan aku sudah hilang akal melarang Arina. Dia selalu membantah apa yang kukatakan. Seolah dia sengaja melakukan itu ". Jelas Marvin panjang lebar.
" Anak itu tidak bisa dibiarkan ". Tuan Mike merasa geram.
__ADS_1
*******