
Tubuh Arina diseret memasuki sebuah gudang tua yang berada disebuah kawasan bekas pabrik yang lama tidak beroperasi. Arina masih tak sadarkan diri. Lelaki itu langsung memjatuhkannya pada lantai kotor berdebu dan dingin itu tanpa belas kasihan.
Kemudian tak lama datanglah pria bertubuh tinggi atletis. Siapa lagi kalau bukan Jimy.
"Dimana dia? ". Tanya Jimy pada orang itu.
" Digudang belakang Tuan ". Jawabnya.
" Baiklah, tinggalkan kami". Kata Jimy lalu berjalan menuju tempat yang dimaksud. Tempat untuk menyekap Arina memang sangat kotor, berdebu dan minim cahaya. Jimy melangkahkan kakinya perlahan menuju tempat yang dimaksud. Terlihat Arina tergolek tak berdaya dilantai. Jimy terlihat membuka air mineral yang tadi dibawanya. Dibukanya tutup botol itu lalu disiramkannya air itu perlahan diwajah Arina.
Arina sedikit mengerjab. Badannya terasa nyeri dibeberapa bagian terutama pinggang dan tangan. Mungkin karna efek diseret tadi. Tapi Arina belum menyadari yang terjadi. Arina terbatuk merasakan nafasnya sesak karna debu yang menusuk hidungnya.
Seketika Arina menyadari tempatnya saat ini. Buru-buru dia mendudukkan tubuhnya. Memindai sekelilingnya tapi dia tak menemukan siapapun karna tempat itu minim cahaya.
"Dimana ini? ". Gumamnya pada dirinya sendiri. Arina mulai dilanda ketakutan yang luar biasa. Apalagi saat mengingat percakapan Jimy dan Tuan Andrew. Arina bergidik ngeri lalu mengusap tengkuknya sendiri.
" Kau sudah sadar? ". Tanya sebuah suara yang kemudian sosoknya muncul dalam kegelapan. Arina menajamkan matanya demi melihat sosok tersebut.
" Pa.. Paman Ji.. Jimy ". Ucap Arina gemetar. Tenggorokannya terasa tercekat seketika. Menyadari bahwa dirinya kini dalam bahaya.
Jimy berdecak kesal.
" Bisakah kau memanggilku Jimy saja tanpa embel-embel paman? ". Jimy lantas membuka jasnya dan menyampirkannya pada bangku tua disana. Melepas kancing dipergelangan tangannya kemudian menggulung kemejanya sampai kesiku. Jimy lantas berjongkok tepat didepan Arina.
" Apa aku terlalu tua untukmu sehingga kau terus memanggilku paman? ". Tanya Jimy sedikit kesal.
" Bukan begitu paman, maksudku.. Aku.. Aku harus memanggilmu bagaimana? ". Tanya Arina terbata. Jimy menampilkan senyumnya yang menawan disana. Kemudian Jimy tergelak pelan.
" Kau sangat manis saat ketakutan seperti ini Arina ". Ucap Jimy lirih membuat Arina merinding. Apa lagi Jimy menatapnya sangat tajam.
" Bisakah kita keluar dari sini? ". Tanya Arina pelan.
__ADS_1
" Susah payah aku membawamu kemari, dan kau ingin keluar dari sini. Jangan berpikir terlalu jauh. Aku sedang menyelamatkanmu dari orangtua angkatmu. Jadi kau aman bersamaku ". Ucap Jimy. Arina tertawa getir. Apa bedanya. Bukankah mereka berdua sama kejamnya.
" Apa bedanya hah? Kalian berdua sama kejamnya bukan? Ini ibarat keluar dari mulut harimau masuk kemulut buaya ". Ucap Arina tegas. Arina mendongakkan wajahnya tak ingin menunjukkan sikap takutnya didepan Jimy.
" Kau berani rupanya. Aku pikir kau akan menjadi kelinci manis selamanya. Tapi ternyata kau bisa jadi srigala juga ". Ucap Jimy terkekeh.
" Aku tidak menyangka kalian selicik ini. Mengambilku dari tempat ternyamanku. Mengiming-imgingi sesuatu. Lalu setelah kalian kecewa padaku, kalian akan melenyapkanku. Mudah sekali sepertinya bagi kalian melenyapkan nyawa seseorang ". Ucap Arina dengan nafas memburu menahan amarah.
" Itu salahmu Nona, kau terlalu cepat tergoda dengan barang mewah. Sedikit saja Tuan Andrew memberikanmu kemewahan lalu kau akan lupa segalanya. Itu bukan salah kami. Bagi kami menghidupi sepuluh gadis dengan gelimang harta itu bukan masalah berat. Hanya saja semua itu harus ada timbal baliknya. Seperti juga denganmu. Kau harus membayar mahal untuk semua materi yang kau dapatkan sebelumnya. Dan juga kau harus membayar jauh lebih mahal lagi karna kau telah menolak untuk kembali mendekati Marvin ".
" Sebenarnya apa mau kalian? Seharusnya ini tidak ada hubungannya denganku ataupun kak Marvin. Kenapa kau menjadikannya sesulit ini? ". Arina sedikit meninggikan suaranya.
" Kau tidak perlu tahu sedetil apa permasalahannya. Yang jelas jika kau tidak bisa menikahi Marvin setidaknya buat dia tak berguna atau bantu kami melenyapkannya. Maka kau akan terbebas dari semua siksaan. Kau bisa membalas kebaikan Tuan Andrew dengan cara itu ".
" Aku tidak akan melukai kakakku. Atau pun membuatnya menderita ". Tegas Arina.
" Jadi kau benar-benar menolak untuk mendekati Marvin? ". Tanya Jimy sekali lagi.
" Bagus, jika begitu aku akan bebas melakukan apapun padamu. Karna sejak kau menolak perintah itu berarti kau tidak ada hubungannya lagi dengan Tuan Andrew. Kau menjadi tawananku sekarang. Dan sudah terlambat untuk menolak. Jadi jangan berfikir kau akan menarik ucapanmu lagi karna itu semua sia-sia ". Ucap Jimy penuh penekanan. Terlihat Jimy mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Ternyata itu adalah sebilah pisau kecil berujung sangat runcing. Dan bisa dipastikan itu pasti sangat tajam. Mata Arina membelalak.
" Apa yang akan kau lakukan? ". Ucap Arina bergetar ketakutan.
" Sedikit bersenang-senang. Aku paling tidak suka dengan penolakan. Dan kau telah menolak bekerjasama denganku dan Tuan Andrew. Bagaimana jika aku melukai wajahmu yang cantik ini. Yang membuatku hampir gila karna memikirkanmu setiap malam. Bagaimana? ".
"A-Apa?".
"Kau terkejut? Ya.. Aku sedikit menyukaimu sebenarnya. Hanya sedikit. Tapi sayang kau adalah orang yang dipersiapkan oleh Tuan Andrew untuk membalas dendam. Jadi aku tidak bisa mendekatimu".ucap Jimy tepat didepan wajah Arina.
"Kau manusia yang mengerikan, sama seperti Tuanmu. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Dan aku menyesal telah mengenal kalian. Manusia menjijikan ". Teriak Arina.
" Kau.. ". Jimy mengeraskan rahangnya.
__ADS_1
" Selama ini tidak ada yang berani berteriak padaku. Dan kau satu-satunya orang yang berani melakukannya ". Geram Jimy menahan amarah.
" Memangnya siapa kau sehingga aku harus bertekuk lutut padamu. Kau bukan siapa-siapaku. Aku tidak perlu takut padamu ". Ucap Arina lantang. Dia benar-benar melawan Jimy.
Dengan marah Jimy lantas mengambil tali yang sudah ia persiapkan kemudian mengikat tangan Arina dibelakang tubuhnya.
" Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku? ". Teriak Arina mencoba memberontak.
" Diamlah! Aku akan sedikit menyiksamu. Dengan begini kau tidak akan berani untuk melarikan diri bukan". Seringai Jimy begitu menakutkan. Apalagi ada pisau kecil ditangannya.
"Bagaimana jika kau dengan senang hati menjadi kekasihku? Aku berjanji akan melindungimu dari Tuan Andrew ".
" Tidak akan pernah. Aku semakin membencimu. Kau lebih mengerikan ".
" Aku sudah bilang aku tidak terima penolakan. Apa kau tidak mengerti? ". Ucap Jimy sedikit berteriak.
" Aku tidak sudi menjadi kekasihmu. Apa kau tidak dengar? ". Arina kembali berteriak. Tanpa banyak bicara akhirnya Jimy mendaratkan bibirnya pada bibir Arina. ********** kasar kemudian menghempaskan tubuh Arina yang gemetar ketakutan. Arina seketika membeku. Airmatanya kembali menetes.
" Apa kau takut sekarang? Aku bisa melakukan lebih dari ini jika kau berani berteriak padaku sekali lagi ". Ucap Jimy lirih. Mata Arina menatap nyalang pada Jimy.
Cuih..
Arina berdecih dan Melu*ah didepan Jimy. Membuat Jimy benar-benar terbakar amarah.
Plakkk... Plakkk
Jimy menampar Arina dikedua pipinya. Ada sedikit darah disudut bibirnya.
" Pikirkan baik-baik tawaranku. Jadilah kekasihku dan kau aman. Aku akan mengatur segalanya. Termasuk keamananmu. Apa kau mengerti? Aku akan kembali lagi besok ".
***********
__ADS_1