Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
55. Tidak menerima penjelasan


__ADS_3

🌻plisss atuh like yaaaa sedih akutuu🌻


Happy Reading


*********


"Jadi seperti ini kalian dibelakangku? ". Tanya wanita itu yang ternyata Marinka. Wanita itu sudah cukup lama menanti didepan pintu apartemen itu. Setelah beberapa waktu lalu ada nomor yang mengirim pesan mengatakan bahwa Marvin sedang bertemu dengan wanita disebuah apartemen. Dan orang itu juga mengirim sebuah lokasi apartemen padanya. Marinka seolah tidak asing akan alamat apartemen itu. Dan kini Marinka menatap nanar dua orang didepannya.


Wajah Marinka terlihat lelah, matanya sayu wajahnya pucat. Seharian dirinya menangis karna papanya belum juga siuman. Dan kini menurutnya keadaan kembali mengajaknya bermain. Dia menemukan suaminya sendiri disebuah apartemen bersama wanita yang sangat dia benci.


"Katakan padaku sejak kapan? ". Tanya Marinka sedikit senyum getir tampak dibibirnya.


" Kalian sangat luar biasa ternyata. Membuatku seperti orang bodoh. Ya.. Aku memang terlihat bodoh jika berhadapan dengan kalian". Setitik air bening jatuh dipipinya.


" Marinka, ini tidak seperti yang kau bayangkan sayang ". Ucap Marvin hendak meraih tangan Marinka. Tapi Marinka memilih menghindar dan memundurkan tubuhnya.


" Lalu seperti apa seharusnya ? ". Teriak Marinka.


" Aku tidak sebodoh yang kalian pikir Marvin. Kau memang selalu terobsesi padanya. Kau tidak bisa bila tidak bersamanya. Lalu kenapa kau harus mempertahankanku ". Teriak Marinka histeris sambil memukuli dada Marvin. Sejengkalpun Marvin tidak menghindar atau bahkan mundur. Membiarkan Marinka meluapkan emosinya.


" Marinka,, ini tidak seperti... ".


" Diamlah! ". Teriak Marinka pada Arina yang mencoba menjelaskan." Dan kau.. Kenapa kau tinggal disini? Bukankah kau sudah hidup mewah dan menjadi seorang putri? Apa yang menyebabkanmu tinggal disini? Apa semua ini karna suamiku yang terlampau luar biasa hingga kau pun tidak bisa menjauh darinya?".ucap Marinka sarkas.


"Demi Tuhan Marinka, yang terjadi tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bisa jelaskan ".


" Siapa pemilik apartemen ini? ".tanya Marvin tanpa menanggapi ucapan Marvin.


" Marinka, sayang ".

__ADS_1


" Jawablah, aku hanya butuh jawaban kalian".


"Itu.... ".


" bicaralah ". Ucap Marinka sambil menatap Arina lelah. Wajahnya beralih sendu. Ya.. Perempuan itu sudah lelah untuk mengalah dan bertahan. Semua yang susah payah dibangunnya beberapa waktu ini terasa sia-sia. Kejujuran yang diinginkan pun tidak dia dapatkan. Lalu apa yang ingin dipertahankan? Apa menang harus ditinggalkan saja semuanya?


"Leo... ". Jawab Arina gugup. Marvin hanya bisa menatap terluka pada Marinka. Andai dia jujur saja dulu. Kini semuanya sudah terjadi dan pada akhirnya semua menjadikan salah paham diantara dia dan Marinka. Marvin mengusap kasar wajahnya.


" Ah iya, satu teman kalian itu ya? Dia sangat setia pada kalian dari dulu. Bersama menutupi perilaku kalian dibelakangku. Menutupi kebusukan kalian ".


" Marinka, jangan berlebihan ". Ucap Marvin sedikit meninggi karna tidak terima atas semua tuduhan Marinka.


" Lalu aku harus menyebutnya bagaimana hal? Bisa kalian jelaskan padaku aku harus menyebut kalian bertiga ini apa? Aku sungguh lelah. Aku lelah bertahan seperti ini. Berjuang sendirian. Kau tahu hubungan kita sejak awal memang sudah salah. Dan kau yang selalu meyakinkanku tentang hubungan ini". Ucap Marinka lirih menatap sendu pada suaminya didepannya ini." Sejak kapan kalian bertemu? Sejak kapan dia tinggal disini? ". Tanya Marinka seraya menatap lelah pada Marvin.


" Kurang lebih dua bulan ". Arina berinisiatif menjawab. Marinka memejamkan matanya bersamaan dengan itu mengalir pula airmatanya.


"Baiklah, aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggumu ". Ucap Marinka lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat. Marvin bergegas mengejarnya.


" Tunggu Marinka, aku akan bersamamu ". Ucap Marvin sambil menggapai tangan Marinka.


" Sudahlah,, aku lelah berdebat denganmu ". Ucap Marinka lirih. Dia sungguh benar-benar lelah kali ini. Marvin akhirnya menarik tangan Marinka dan mendorongnya memasuki mobil. Lalu Marvin mengemudikan mobilnya dengan kencang. Membuat Marinka ketakutan.


"Marvin,, berhenti. Kau mau membuat kita celaka? ". Ucap Marinka sambil memegang lengan Marvin. Melihat kondisi Marinka yang begitu ketakutan akhirnya Marvin menepikan mobilnya. Nafasnya memburu menahan amarah. Sementara Marinka masih terisak disebelahnya. Marvin lantas memeluk Marinka. Mendaratkan beberapa ciuman disisi wajah Marinka.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud mencurangi dirimu. Aku bersumpah. Aku hanya membantunya. Dia tidak punya siapapun sekarang. Aku mohon mengertilah posisiku Marinka ". Ucap Marvin parau.


" Kau terlalu sering berbohong Marvin. Kepercayaanku sudah hilang sepenuhnya padamu ". Ucap Marinka sambil mendongakkan wajahnya pada Marvin.


" Jangan bicara begitu. Aku sungguh minta maaf ". Marvin kembali memeluk Marinka.

__ADS_1


" Aku belum menerima penjelasanmu. Jalankan mobilnya. Aku ingin menunggu papa dirumah sakit. Bibi elly berkirim pesan papa sudah sadar hanya saja kondisinya masih lemah".ucap Marinka dingin. Marvin tidak mau menambah masalah lagi. Dia hanya bisa menuruti Marinka. Menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.


*****


"Jadi Marinka kesini? ". Tanya Leo terkejut. Arina mengangguk. Terlihat Leo menghela nafas panjang.


" Aku sudah berkali-kali mengingatkan Marvin untuk berterus terang pada Marinka. Tapi dia selalu menundanya. Akhirnya semua jadi rumit. Tapi darimana Marinka tahu apartemen ini? ". Ucap Leo bingung.


" Entahlah, aku merasa takut Leo. Tadi pagi seseorang menghubungiku. Dan mengancamku. Aku harus kembali kerumah Tuan Andrew jika aku ingin semuanya baik-baik saja. Aku harus bagaimana? ". Ucap Arina gemetar.


" Aku tidak mau kembali kesana, tapi aku juga tidak mau jika kak Marvin mendapat masalah karna aku ".


" Aku rasa kau melewatkan sesuatu saat menceritakan keadaanmu padaku. Selain karna mereka ingin kau mengganggu pernikahan Marvin, apa saja sebenarnya yang kau ketahui. Tidak mungkin Tuan Andrew begitu kejam terhadapmu hanya karna masalah ini kan. Kau harus bicara Arina. Aku tidak bisa membantumu jika kau tidak jujur dan terkesan menutupi kebenaran ". Ucap Leo menajam.


" Aku.. ". Arina tercekat seolah sulit mengatakan kebenaran.


" Berjanjilah kau akan melindungiku jika sesuatu terjadi padaku".ucap Arina memohon. Leo mengangguk tanda setuju.


*********


Langkah sepatu yang bertabrakan dengan lantai terdengar menggema dilorong rumah sakit. Setelah mencari-cari ruangan yang menjadi tujuannya, akhirnya orang itu sampai juga diruang VVIP. Perlahan handle pintu terbuka dan menampilkan tubuh Tuan Louis yang lemah dengan beberapa alat medis menempel padanya. Terlihat matanya berkedip lemah. Dia sudah sadar tapi tidak bisa melakukan apapun. Cidera beberapa waktu lalu belum pulih dan ditambah lagi kondisi tubuhnya yang tiba-tiba menurun hingga dilarikan kerumah sakit, membuat semuanya menjadi semakin parah.


Orang itu mendekat keranjang Tuan Louis, dengan gerakan yang lemah Tuan Louis menolehkan kepalanya hendak menatap tamu yang datang menjenguknya. Namun seketika tubuhnya menegang.


" Aku beruntung sekali, tidak ada yang menunggumu disini. Selamat malam Louis. Bagaimana keadaanmu? Apa kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu". Seringai menakutkan terlihat dari bibir orang itu.


*******


Bantu Like ya teman-teman. Mampir juga dikaryaku yang satunya "Istri untuk Mas Zein"

__ADS_1


__ADS_2