
Happy reading....
Bantu Like dunk... Yang baca ratusan tapi like nya puluhan..
Sedih banget,,, tinggal pencet kiri bawah itu loh sayangku 😊😊😊
******************
Marvin begitu panik menunggu hasil pemeriksaan dokter. Dia mondar-mandir diruangan itu. Sementara Marinka berada diranjang sedang diperiksa. Mereka hanya terpisah tirai yang sengaja ditutup.
"Marvin, duduklah. Bibi pusing melihatmu mondar-mandir seperti itu".Ucap bibi Elly.
"Aku khawatir Bibi ". Ucap Marvin.
" Astaga, dia hanya kelelahan saja. Kau jangan berlebihan. Dia kurang tidur dan tidak memperhatikan makannya sejak kemarin. Dan kau bilang beberapa waktu lalu juga Marinka sempat sakit bukan? ". Ucap bibi Elly tenang.
" Tetap saja aku khawatir Bibi, dia tidak pernah sakit hingga pingsan ".
" Kau ini berisik sekali ". Ucap Briyan yang membuka tirai. Menandakan pemeriksaan sudah selesai.
" Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah sadar? ". Tanya Marvin beruntun membuat Briyan merotasikan bola matanya.
" Hentikan Marvin, kau ini berisik sekali ". Ucap Briyan kesal.
" Sekali lagi mengataiku berisik, kututup tempat praktekmu. Cepat katakan ". Ucap Marvin tak kalah kesal.
" kemarilah dulu, Duduklah disini. Bibi, kemarilah ". Kata Briyan pada bibi Elly juga Marvin. Kedua orang itu akhirnya duduk didepan Briyan. Mereka hanya terhalang meja berukuran sedang.
" Bagaimana? ".
" Sepertinya kau harus bertemu Amelia. Hanya dia yang bisa menjelaskan ". Jawab Briyan.
" Apa maksudmu? Kenapa kau tidak bisa menjelaskan?lalu dari tadi apa yang kau lakukan padanya? ". Tanya Marvin kesal.
" Sabarlah sayang, jangan emosi. Biarkan Briyan menjawab ". Bibi Elly mengingatkan.
"Dia ini katanya dokter,tapi tidak bisa memeriksa Marinka. Lalu apa kerjanya".
__ADS_1
"Aku menyuruhmu menemui Amelia karna ada maksudnya. Sepertinya Marinka sedang mengandung Marvin. Untuk lebih jelasnya biar Amelia yang memeriksanya". Ucap Briyan yang seketika membuat Marvin dan Bibi Elly membeku.
"Apa kau serius? Kau tidak bercanda kan? Awas saja jika bercanda kau akan kulempar keujung dunia". Tanya Marvin tak percaya.
" Mengerikan sekali kau ini. Kenapa Marinka bisa punya suami orang aneh sepertimu, astaga. Itu pemeriksaan awalku, mengingat gejalanya seperti layaknya seseorang yang tengah hamil muda. Kau bilang dia lemas beberapa hari ini. Dia juga menyukai makanan yang harusnya dia tidak suka. Dan masih banyak lagi gejala yang lain. Tapi untuk lebih jelasnya kita bawa keruangan Amelia. Tapi jika ini tidak sesuai dengan prediksiku, kuharap kau jangan kecewa".
"Baiklah aku mengerti ".
" Marvin... ". Marinka memanggil Marvin dengan lemah. Marvin yang mendengar itu bergegas menemui Marinka.
" Kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu? Kau masih pusing? ". Tanya Marvin.
" sedikit. Kau membawaku pada Briyan? Apa katanya? Aku sakit apa? ". Tanya Marinka penasaran setelah tahu dia diruang praktek Briyan. Ruangan yang sangat familiar untuknya.
" Kita akan keruangan Amelia dulu agar kita tahu". Ucap Marvin.
"Baiklah, aku mengerti". Ucap Marinka menurut. Marinka memejamkan kembali matanya. Badannya yang lemas membuatnya lupa bahwa Amelia adakah seorang dokter kandungan. Dia lebih fokus pada badannya yang sakit.
Mereka bertiga akhirnya membawa Marinka menuju ruangan Dokter Amelia. Marvin menggendong Marinka sementara Bibi Elly membawa selang infus milik Marinka. Mengingat ruangan Amelia yang lumayan dekat mereka memilih berjalan kaki.
" Suatu kehormatan kalian mengunjungiku ". Ucap Dokter Amelia berbinar.
" Marinka sakit, tapi kurasa kau lebih tahu soal ini ". Ucap Dokter Briyan mengedipkan sebelah matanya yang kemudian dimengerti oleh Dokter Amelia. Sementara Marvin, jangan tanya bagaimana kabar jantung lelaki itu. Lelaki itu diam membisu seolah sedang meminta atau lebih tepatnya memaksa pada Tuhan bahwa dia menginginkan kabar baik.
Dia tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Bibi Elly yang memahami perasaan Marvin hanya mampu mengusap lembut punggung Marvin sambil tersenyum memenangkan dengan tatapan teduhnya. Bahkan kini telapak tangan Marvin pun sudah berkeringat. Matanya sudah berkabut. Kalau-kalau jika benar kabar baik yang akan dia terima, maka dia akan segera meledakkan emosinya.
"Marvin, jangan khawatir, aku tidak apa-apa. Kenapa wajahmu pucat sekali? ". Ucap Marinka menenangkan.
" Aku sangat mengkhawatirkanmu, kau tahu itu ". Ucap Marvin setengah berbisik pada Marinka yang saat ini sudah berbaring. Marvin menggenggam tangan Marinka lembut. Terlihat Dokter Amelia sedikit menekan-nekan perut bagian bawah Marinka. Membuat Marinka meringis.
" Apa sakit? ". Tanya Marvin.
" Tidak terlalu tapi lebih tepatnya geli ". Jawab Marinka.
" Dokter Amelia, kenapa kau memeriksaku seperti saat pertama aku kesini dulu? ". Tanya Marinka yang merasa pemeriksaannya sedikit lama.
" Tenanglah Marinka, memang ini adalah pemeriksaan untuk kehamilanmu".Jawab Dokter Amelia senang. Terlihat Marinka seperti mencerna ucapan Dokter Amelia kemudian menatap bibi Elly dan Marvin bergantian. Bibi Elly mengangguk lembut.
__ADS_1
"Kehamilanmu memasuki usia kurang lebih 6 minggu Marinka ". Ucap Dokter Amelia yang sontak membuat Marinka lemas. Sebutir airmata jatuh disudut matanya karna bahagia.
" Kau tidak bercanda kan? ". Tanya Marinka bergetar.
" Kita akan lakukan USG dan kita lihat hasilnya nanti ". Ucap dokter Amelia. Dokter cantik itu mulai mengoleskan gel diperut Marinka. Dan mulai mencari-cari sesuatu didalam perut Marinka.
" Aku dapat ". Ucap Dokter Amelia senang.
"Dapat apa?". Tanya Marvin gugup.
"Lihatlah... Ini calon anak kalian. Masih sangat kecil. Sebesar biji kacang. Tapi... Tunggu. Sepertinya ada sesuatu diperutmu ". Ucap Amelia tak percaya.
" Apa? Kau jangan menakutiku ". Ucap Marvin kesal.
" Sepertinya kita dapat kejutan luar biasa hari ini ".
" Ayolah jangan berbelit-belit ". Ucap Marvin tak sabar. Wajahnya sudah pucat karna penasaran.
" Baiklah, lihatlah, sepertinya anak kalian kembar ". Ucap dokter Amelia membuat semua orang yang ada diruangan itu terkejut. Tak terkecuali Dokter Briyan yang tadinya hanya menjadi pendengar, tiba-tiba ikut memperhatikan gambar itu dalam jarak dekat.
" Apa? Kembar? ". Marvin dan Marinka tak percaya.
" Doa kita Marvin, doa kita didengar ". Marinka tercekat Marvin lantas memberikan banyak kecupan diwajah istrinya itu.
" Akhirnya mereka hadir ditengah kita, kita tidak akan kesepian. Mereka yang akan menghibur kesepian kita nanti sayang ". Ucap Marvin terharu.
" Akhirnya kau benar-benar melihat kehadiran mereka Marvin. Tuhan masih memberimu kesempatan kedua. Jangan disia-siakan ". Ucap dokter Briyan ikut terharu.
" Pasti Briyan, aku akan menjaga mereka dengan nyawaku. Akhirnya aku punya keluarga yang sedarah denganku ". Ucap Marvin berkaca-kaca.
" Tuhan memberikan kepercayaan pada kalian sangat cepat. Aku turut senang untuk kalian ". Ucap Bibi Elly bahagia sambil mengusap airmata disudut matanya.
" Papa sangat menginginkannya. Tapi sayangnya dia belum sempat melihat kalian sayang". Ucap Marinka sedih sambil mengelus perutnya yang rata.
" Jangan bersedih. Tuhan mengganti kesedihan kita dengan menghadirkan mereka. Sesuai dengan keinginan kita. Tuhan sekaligus mengirimkan dua malaikat kecil untuk kita ". Marvin tak henti memberikan kecupan dipuncak kepala istrinya saking bahagianya.
" Papa selalu bermimpi bermain dengan cucunya saat pagi. Mengajak mereka jalan-jalan. Membelikan banyak mainan ". Suara Marinka tercekat. Hanya airmata yang keluar. Bibi Elly memeluknya erat.
__ADS_1
" Jangan membebani pikiranmu, papamu sudah tenang disana. Jangan sering bersedih. Ingatlah anak didalam kandunganmu ". Ucap bibi Elly.