
Setelah mendorong masuk Marinka kedalam apartemennya. Marvin membanting pintu kencang kemudian menguncinya. Melempar kunci mobil kesembarang arah. Kemudian menjatuhkan tubuhnya kencang disofa. Kedua tangannya menangkup wajahnya.
Sementara Marinka berdiri mematung masih menangis sambil menahan sakit luar biasa di kakinya Yang sudah terlihat membiru.
Entah karna apa dia menangis, mungkin karna kemalangannya bertemu Thomas, atau karna kemarahan Marvin, atau karna merasakan kakinya yang luar biasa sakit. Saat sedang bergelut dengan pemikirannya yang entah dimana tiba-tiba....
prankkkkk.....
Marvin membanting asbak didepannya. Hingga membuat Marinka berjenggit ngeri sambil menutup kedua telinganya. Gemetar setengah mati menahan takut melihat kemarahan Marvin.
Pecahan kaca dari asbak pun berceceran kemana-mana.
"Marvin....aku....".
"Diam... Jangan bicara apa pun ". Teriak Marvin sambil menunjuk kearah Marinka. Marinka menelan salivanya kasar.
" Aku baru sadar ternyata ini yang kamu pikirkan saat menanyakan pertanyaan bodoh itu kemarin malam".
"Pertanyaan..? Pertanyaan apa... Aku tak mengerti... "
" Sebegitu Bodohnya dirimu masih mengharap cinta Thomas. Sampai kau merendahkan dirimu. Hah.....! Kau mau menjual dirimu supaya laki-laki brengsek itu kembali padamu? ". Teriak Marvin tambah tinggi tepat di depan Marinka.
Ah iya... Aku pernah menanyakan apakah pikiran semua pria itu sama ketika menjalin hubungan dengan wanita. Apakah mereka juga menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar sebuah hubungan ....
Tapi itu hanya sekedar pertanyaan bukan?
Marinka tak menyangka Marvin bisa mengatakan itu. Untuk kesekian kali airmata nya jatuh. Mendapati sahabatnya ternyata lebih percaya ucapan Thomas dibanding dirinya.
" kenapa kau mudah percaya ucapannya? Apa kau tak mengenaliku marvin". Ucapnya bergetar.
"pada kenyataannya semua berubah seiring berjalannya waktu. Termasuk dirimu yang terlalu Bodoh menginginkan lelaki itu. Lelaki yang sudah jelas jelas tidak ada baiknya untukmu ". Ucapnya lirih namun menusuk.
" berapa kali aku harus mengatakan, aku sudah tidak menginginkannya. Mungkin aku masih belum sepenuhnya rela melepaskannya. Tiga tahun bersamanya bukan waktu yang sebentar". Ucap Marinka bergetar pun dengan nada yang tinggi.
" Pembohong... Lalu apa yang terjadi malam ini. Jika aku tidak datang mungkin dia sudah berbuat lebih padamu. Dan apa kau masih percaya jika kau menyerahkan dirimu lantas dia akan menikahi mu? ".
" Kau salah sangka Marvin... Bukan begitu kejadiannya".ucap Marinka lirih.
"bagaimana jika berita ini sampai pada orang tua kita besok pagi, ini benar-benar memalukan ".
" Apa kau masih tidak percaya padaku Marvin? ". Ucapnya berkaca - kaca.
" Tatapanmu padanya masih membuktikan kau masih menginginkannya dan aku melihatnya beberapa kali, kau merasa cemburu pada Emily. Dan pertanyaanmu kemarin malam membuktikan semuanya. Kau akan melakukan apa pun agar dia kembali padamu kan?".
"Itu hanya tatapan kekecewaan....!! ". Teriak Marinka.
__ADS_1
" cih.. Kekecewaan.... Kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah melupakanmu. Kau tidak suka saat dia menyentuh Emily. Kenapa....? Kau tiba-tiba menginginkan sentuhannya? ". Teriak Marvin tak kalah tinggi. Sejak kecil dia berusaha menjaga Marinka dari apapun. Dan malam ini dia merasa telah gagal melindunginya.
"cukup Marvin, kau tidak berhak menilaiku seperti itu. Jika aku menginginkannya tidak akan ada luka sebanyak ini ditubuhku ". Marinka berteriak sambil melempar jas Marvin kehadapannya. Sambil menunjukkan beberapa luka ditubuhnya.
" Dia memadamkan lampunya, dia menahanku disana, Dia melihatmu pergi dengan Dania, sementara aku masih tertinggal menunggumu. Dia menyuruh Emily pulang terlebih dahulu. Dia mengikuti sampai ketoilet. Setidaknya itu yang dia katakan padaku tadi ". Kata Marinka dalam isaknya.
Marvin mau tak mau melihat pada tubuh Marinka. Bajunya tak berbentuk. Robek di beberapa bagian. Bahkan bagian belakangnya pun Robek cukup parah.
Ada beberapa cakaran di pundak dan lengannya. Memar dipipi , ada pula yang berdarah tapi telah mengering. Lalu luka di bibirnya akibat tamparan Thomas.
Marinka merosotkan tubuhnya kelantai sambil menangis tersedu.
Marvin tertegun, dia tersadar, pada saat bertemu Marinka keadaan gelap remang-remang dia tidak melihat beberapa luka dibagian tubuhnya.
Astaga ada apa dengannya. Padahal tadi jelas - jelas dia menemukan gadis itu dalam ketakutan yang luar biasa. Dengan bajunya yang robek sana sini. Orang bodohpun tau jika Marinka adalah korbannya
Kenapa dia seolah menutup kebenaran diatas amarahnya yang tak tau kenapa dia bisa semarah itu. Marvin mengusap wajahnya kasar. Marinka masih terduduk dilantai. Marvin mendekati bermaksud memeluk untuk meminta maaf atas sikapnya yang tak terkendali. Namun Marinka menarik diri. Tatapannya berubah dingin.
"Aku minta maaf.. Aku keterlaluan ". Ucapnya parau. Namun Marinka tetap diam. Pandangan masih penuh amarah dan kecewa pada Marvin.
" Biar kuobati lukamu. Apa kakimu masih sakit?".
"Aku mau pulang..... ". Jawab Marinka dingin sambil membuang muka. Tak mau melihat Marvin. Kekecewaannya pada Marvin lah yang lebih membekas. Dibandingkan rasa sakit dan malu yang dia dapat malam ini.
" Biar ku obati dulu lukamu. Atau kau bisa mengganti bajumu dengan bajuku ". Tawar Marvin tak tega melihat melihat keadaan Marinka.
" Baiklah jika itu maumu ". Marvin hendak membantu berdiri Marinka. Tapi Marinka menepis tangannya.
" Aku bisa sendiri.. ". Marvin menelan salivanya kasar. Sepanjang sejarah ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar hebat.
Saat hendak mengambil kunci mobil tiba-tiba ponselnya berdering. Marvin segera menjawabnya.
" Ya Dania... ".
" Apa kau sudah sampai? ".
" emmmm..... Aku... ".
" kenapa tidak menghubungiku, dimana kau sekarang?. Kau baik-baik saja? ".
" Maaf aku lupa... ".
" Kau tidak bertemu dengan Marinka kan? ".
Tanyanya penuh selidik.
__ADS_1
Sejenak dia menoleh kearah Marinka,yang masih diam mematung menatap kosong.
" mmm... Tidak... Aku sedang bersama Leo ". Marinka reflek melihat kearah Marvin. Cih.. Lelaki dimanapun sama saja bukan. Akhirnya dengan susah payah Marinka berdiri bertumpu pada dinding disebelahnya. Berjalan tertatih menuju pintu hendak keluar.
Ternyata Dania pun lebih percaya omong kosong yang diucapkan Emily. Dan sekarang ternyata mulai curiga juga padanya...
" mmm Dania aku tutup dulu ya. Nanti aku hubungi lagi ".
"Tapi Marvin aku....".
Tutttt.....
Panggilan terputus sepihak. Marvin setengah berlari menggapai tangan Marinka. Tapi Marinka menghempaskannya kasar.
" Marinka maafkan aku... ".
" Tidak perlu.. Seharusnya memang kau tidak usah peduli padaku. Bahkan Dania pun sekarang tak percaya padaku. Dan kau.... Kau mulai berbohong juga padanya. Entah nanti siapa lagi yang akan membenciku". Kata Marinka tersenyum getir. Marvin menunduk merasa bersalah.
"Aku akan mengantar mu pulang.. ".
" panggilkan saja aku taksi aku bisa pulang sendiri ". Ucapnya dingin.
" Jangan keras kepala... ". Kata Marvin menarik tangan Marinka agar mengikutinya. Marvin lupa jika kaki Marinka terkilir.
" asssshhhhhh...... ". Langkah Marinka terhenti sambil memegang sebelah kakinya. Marvin berbalik menunduk dan menyibak gaun yang menutupi kaki Marinka. Ternyata kakinya membiru dan mulai bengkak. Marvin berinisiatif menggendong Marinka. Tapi Marinka menepis tangan Marvin.
" Sudah ku bilang aku tak butuh bantuanmu ".
Astaga.. Marvin mengusap wajahnya gusar. Rasa marahnya kembali muncul, melihat Marinka yang keras kepala.
" Apa kau tidak bisa diam hah.... Jangan menguji kesabaranku..... ". Kata Marvin geram. Marinka mendelik takut. Dia memilih diam saat Marvin menggendongnya membawanya ke dalam mobil.
Marvin mulai menyetir. Hanya hening yang tercipta didalam mobil itu. Sesekali Marvin menoleh ke arah Marinka, tanpa mengurangi fokus nya. Ekor mata Marinka menangkap itu. Namun dia lebih memilih mengedarkan pandangan matanya keluar mobil. Jalanan lengang karna waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam.
Marinka masih berkutat pada masalah tadi. Perkelahian yang melibatkan dirinya tadi, pasti akan menjadi pembicaraan dimana-mana.
Marinka mendesah kasar. Memijat pangkal hidungnya terasa pusing. Kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran mobil.
Marvin hanya melirik sekilas.
Entahlah apa yang akan terjadi esok....
TBC
Sabtu, 11 juli 2020
__ADS_1
Terimakasih yang udah mampir... 😊😊😊
Bantu like dan komen ya kakak kakak sayonggg.....