
Like, komen, dunkk...
Biar semangat nulisnya
Biar cepet tamat nya
Happy reading..
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Marvin terkejut mendengar penuturan Leo. Lelaki itu benar-benar tak percaya semua yang terjadi.
"Jadi bibi Mary datang lalu menghajar Arina begitu saja? ". Tanya Marvin tak percaya.
" Iya, aku sungguh minta maaf padamu ". Sesal Leo tulus.
" Lalu bagaimana keadaannya? ". Tanya Marvin kemudian.
" Dia tidak baik-baik saja. Selain wajahnya yang terluka, aku yakin hatinya pun sakit. Ibuku mengatakan hal yang buruk padanya ".
" Astaga kasihan sekali dia. Aku harus segera menyiapkan tempat tinggal untuknya. Dia tidak punya siapa-siapa sekarang. Dia hanya punya aku dan bibi Grace. Tapi dia tidak mungkin kembali kepanti ". Ucap Marvin sendu.
" Tapi aku harap kau jangan mengulangi kesalahanmu yang sampai bisa melukai Marinka lagi atau malah melukai keduanya. Kau tahu maksudku kan? ". Tanya Leo sedikit kesal.
" Aku tahu Leo. Aku hanya sekedar berbuat baik saja padanya. Apa kau pikir aku sekejam itu membiarkannya sendirian tanpa ada yang mendukungnya. Aku suami Marinka tapi aku tetap akan menjadi kakak untuk Arina. Kami besar bersama dipanti asuhan. Kuharap kau tak lupa itu ". Ucap Marvin hampir tersulut emosi.
" Sebelum kau bertindak terlalu jauh sebaiknya kau kenali dulu perasaanmu padanya. Agar kau tidak kerepotan dikemudian hari".
"Aku sudah sangat mengenali perasaanku sekarang. Aku hanya menganggap Arina sebagai adik saja. Aku hanya berharap Arina bisa segera menemukan pendamping. Jadi aku bisa tenang melepaskannya ". Harap Marvin. Sedangkan Leo tiba-tiba terpenting mendengar penuturan Marvin.
*******
Marvin memasuki apartemennya dengan gontai. Rasanya lelah seharian ini. Setelah membantu Arina pindahan dan membeli beberapa keperluan untuk apartemennya, akhirnya Marvin memutuskan untuk pulang. Ditariknya pelan dasi yang masih melingkar dilehernya. Tas kerja dan jasnya pun diletakkan begitu saja disofa. Rasanya dia benar-benar lelah sekali.
Tapi tiba-tiba energinya seperti terisi penuh ketika Marinka menyambutnya dengan senyum manisnya. Dress rumahan warna merah yang panjangnya hanya sebatas paha itu menarik perhatiannya. Wanita itu sangat cantik hari ini. Marvin menghampiri Marinka lalu memeluk pinggang ramping wanita itu. Menghilang wanita itu dengan banyak ciuman diwajahnya.
"Kau pulang terlambat sayang. Apa ada hal mendesak sehingga kau pulang terlambat hari ini? Kau terlihat lelah sekali sepertinya ". Sapa Marinka saat mengetahui Marvin pulang.
__ADS_1
" Iya sayang ada urusan mendadak sehingga aku harus pulang terlambat ". Ucap Marvin sambil mendaratkan ciuman singkat dibibir Marinka.
" Kau mau makan sesuatu? ". Tawar Marinka.
" Aku mau memakanmu saja jika boleh ". Ucap Marvin tersenyum sambil membawa Marinka dalam dekapannya. Marinka tersenyum malu lantas menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Marvin.
" Kenapa? Kau malu? ". Tanya Marvin menggoda.
" Kau bilang ingin punya anak yang lucu seperti Emily? ". Ucap Marvin mengingatkan. Marinka memukul dada Marvin yang pastinya pukulan itu tak terasa berarti. Marvin menjahili Marinka dengan menggigiti cuping Marinka hingga wanita itu bergidik geli.
" Hentikan Marvin, itu sangat geli ". Ucap Marinka terkikik sambil mendorong pelan tubuh Marvin.
" Bagaimana aku bisa berhenti, sedangkan kau jelas-jelas menggodaku dengan wajah cantikmu ini. Dan lihatlah pakaianmu ini, astaga aku jadi ingin memakanmu disini ". Marvin semakin mengeratkan pelukannya pada Marinka.
" Kenapa kau ini terus terang sekali?.. Kata Marinka mencebikkan bibirnya.
"Lalu menurutmu aku harus mengatakannya bagaimana? ".tanya Marvin sekali lagi.
" Mandi lah dulu, aku siapkan makan ".
Setelah membersihkan diri, Marvin lalu ikut bergabung dengan Marinka yang sudah berada diatas ranjangnya dengan buku ditangannya.
"kemarilah ". Ucap Marvin sambil menyuruh Marinka merebahkan kepalanya dilengannya sebagai bantalan. Marinka mengikuti mau suaminya itu.
" Apa ada yang ingin kau katakan? Atau Jangan-jangan kau melakukan kesalahan sehingga kau bersikap manis padaku? ". Tanya Marinka menebak. Sebenarnya Marinka hanya bercanda, tapi itu cukup membuat Marvin gugup. Wajahnya mendadak pias.
" Kau ini bicara sembarangan ". Ucap Marvin kesal menyembunyikan kegugupannya.
" Maaf,, aku hanya bercanda. Aku sudah berjanji akan selalu percaya padamu bukan? ". Ucap Marinka lalu memeluk erat Marvin.
" Kau sudah bertemu Amelia dan Briyan? ". Tanya Marvin penasaran.
" Sudah tadi siang. Memangnya kenapa? ". Tanya Marinka.
" Apa maksud pertanyaanmu itu? Kau sungguh menyebalkan ". Gerutu Marvin membuat Marinka tergelak sangat kencang sehingga membuat Marvin menutup mulut istrinya itu dengan telapak tangannya.
" Dasar wanita ini, kau menertawaiku? ". Kesal Marvin.
__ADS_1
" Tidak Marvin, aku tidak akan berani melakukan itu padamu ". Ucap Marinka masih dengan senyum tertahan.
" Jadi, kapan aku bisa membuatkan mereka keponakan yang lucu? ". Tanya Marvin dengan tatapan penuh arti.
" Sekarang pun bisa jika kau mau ". Ucap Marinka pelan lalu tersenyum malu.
" Benarkah? ". Tanya Marvin sedikit berbisik ditelinga Marinka. Membuat Marinka meremang. Lalu Marinka menatap mata Marvin dalam.
" Apa kau mau aku berubah pikiran? ". Tanya Marinka.
" Tidak, kumohon jangan berubah pikiran. Aku sudah menahan diriku cukup lama ". Setelah Marvin mengatakan itu, dengan cepat dia mendaratkan bibirnya pada bibir Marinka yang menggodanya sejak tadi.
Marinka yang tidak siap karna terkejut akhirnya bisa mengimbangi ciuman Marvin.
Lama mereka saling menautkan bibir mereka hingga akhirnya Marvin menyusui leher jenjang Marinka. Ada luapan yang sangat besar pada diri keduanya. Kerinduan pada pasangan mereka masing-masing.
Decapan-decapan dari tautan bibir mereka menggema mengisi ruangan yang sepi itu. Keduanya bergerak saling menuntut lebih dan saling berebut udara.
********
Dua anak manusia itu masih bersusah payah meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Setelah pergulatan yang telah sekian lama tertunda akhirnya mereka bisa saling melepas rindu bersama. Marvin menjatuhkan tubuhnya disisi tubuh Marinka lalu menarik wanita itu dalam pelukannya. Tubuh mereka pun masih penuh dengan peluh.
"Kau ingin bayi laki-laki atau perempuan? ". Tanya Marvin membuka percakapan. Marinka yang masih memejamkan matanya pun terpaksa kembali tersadar kemudian berpikir sejenak mengenai pertanyaan Marvin.
" Aku ingin gadis cantik, tapi aku juga ingin pria tampan dan jagoan. Entahlah, jika bisa aku ingin keduanya ". Ucap Marinka berbinar. Tangannya sibuk menggambar pola abstrak didada suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu.
" Aku berdoa supaya kita bisa dapat dua-duanya ". Ucap Marvin lalu mengecup puncak kepala Marinka lembut.
" Semoga, jika dia perempuan aku akan belikan dia gaun yang cantik dan bandana yang lucu. Dan jika dia laki-laki aku akan menjadikannya pria yang paling tampan". Marinka tersenyum menatap lembut suaminya. Lalu mendaratkan ciuman dipipi suaminya.
" Sudah aku bilang aku mau keduanya. Semoga doa kita didengar dan segera terwujud ". Ucap Marvin tulus.
" Tidurlah, kau pasti sangat lelah ".Ucap Marvin sambil terus membelai punggung Marinka. Marinka hanya mengangguk lalu menenggelamkan wajahnya pada dada Marvin. Tak lama terdengar nafas teratur Marinka yang mulai terlelap.
" Maafkan aku Marinka, aku tidak jujur tentang kedatangan Arina. Bukan berarti aku menginginkannya. Itu lebih pada kemanusiaan saja. Aku tak mungkin membiarkan dia terlunta-lunta dijalanan. Aku akan menjelaskan lain hari. Tapi percayalah aku tidak akan menghianatimu. Perasaanku tak pernah meragu padamu. Aku akan tetap menjaga Arina dari jauh. Sampai dia mendapatkan pendamping hidup yang benar-benar menyayanginya tanpa syarat". Ucap Marvin lirih.
*******
__ADS_1