
Plakkk
Arina terhuyung hingga tubuhnya membentur sofa. Kepalanya berdenyut nyeri merasakan tamparan yang cukup membuatnya kesakitan. Baru saja hendak berdiri Arina merasa nyeri dikepalanya karna wanita itu telah menjambak rambut Arina dengan keras. Arina memekik kesakitan namun dia tidak bisa berbuat apapun. Hanya airmatanya yang keluar.
"Dasar murahan, pantas saja Leo tidak ingin kembali kerumah. Rupanya kau yang membuat dirinya betah berlama-lama meninggalkan keluarganya ". Ucap wanita itu kasar lalu membenturkan wajah Arina kelantai. Arina merasakan hidungnya sakit. Matanya sedikit berkunang-kunang merasakan nyeri mual bersamaan.
" Aku bisa jelaskan, aku bukan kekasih Leo. Percayalah ". Ucap Arina memohon sambil mengusap hidungnya yang ternyata ah iya benar berdarah. Hidungnya mengeluarkan darah.
" Kau pikir aku akan percaya padamu. Berapa uang Leo yang sudah kau habiskan selama kau menggodanya hah? ". Wanita itu masih terus menjambak Arina hingga sulit untuk Arina melepaskan diri.
" Siksa saja dia Bibi, karna dia Leo sudah berani menentangmu ". Ucap wanita yang lebih muda.
" Tentu saja Thania, aku akan membuat wanita ini membayar semuanya ". Ucap wanita paruh baya itu yang ternyata adalah ibu dari Leo. Dan wanita yang lebih muda itu bernama Thania.
" Berapa hargamu? Aku akan membayarmu sepuluh kali lipat. Tapi jauhilah putraku. Apa kau mengerti? ". Teriak ibu dari Leo.
" Aku bersumpah Nyonya, aku bukan siapa-siapa Leo. Kami hanya berteman ". Jelas Arina.
" Bibi Mary , jangan percaya padanya. Aku yakin dia berbohong ". Ucap wanita bernama Thania itu terus memprovokasi Mary.
Sementara ditempat lain Leo melajukan mobilnya dengan cepat. Beberapa waktu lalu ibunya memberitahu bahwa dia akan mengunjungi apartemennya bersama Thania. Wanita yang akan dijodohkan dengan dirinya. Dalam hati Leo mengumpat kesal. Karna ibunya datang disaat yang tidak tepat. Apa yang akan ibunya lakukan jika mereka bertemu dengan Arina.
Setelah mobilnya terparkir sempurna Leo bergegas menuju apartemennya. Saat pintu terbuka Leo melihat kejadian yang membuat rahangnya mengeras. Terlihat Thania menjambak rambut Arina dan memnghimpitnya dilantai.
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan? ". Teriak Leo membuat Thania terkejut lalu melepas pegangannya pada rambut Arina.
Arina mengangsur tubuhnya mendekati dinding disudut ruangan untuk bersandar seolah mencari perlindungan disana.
" Sayang aku hanya sedikit memberi pelajaran wanita murahan itu saja agar tidak selalu mengganggumu ". Ucap Thania sedikit manja.
__ADS_1
" Siapa yang kau sebut murahan hah? ". Teriak Leo.
" Tentu saja wanita itu. Kau pikir siapa lagi ". Teriak Nyonya Mary tak kalah tinggi.
" Ibu, aku harap Ibu bisa meninggalkan tempat ini segera. Dan bawa perempuan ini keluar dari sini ". Ucap Leo sambil menunjuk Thania berapi-api.
" Wanita siapa yang kau maksud? Dia calon istrimu. Apa kau lupa? ".
" Aku tidak peduli. Cepat bawa dia pergi dari sini ". Ucap Leo dengan amarah tertahan.
" Kau mengusir ibumu Nak? Keterlaluan sekali kau ". Hardik Nyonya Mary.
" Karna ibu juga keterlaluan. Apa maksud kalian melukai Arina seperti ini ". Ucap Leo penuh amarah sambil menunjuk Arina yang penampilannya sangat berantakan. Wanita itu bahkan masih menangis tersedu disudut ruangan. Mengusap perlahan airmatanya.
" Karna gara-gara wanita murahan ini kau jadi meninggalkan rumah. Dan aku tidak akan membiarkan anakku dekat dengan wanita yang tak jelas asal usulnya ". Ucap Nyonya Mary lantang.
"Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Arina, dia saudara temanku. Hanya itu saja. Astaga". Leo mulai kehabisan akal menjelaskan kebenaran pada ibunya. Leo memijat pelipisnya yang berdenyut pusing melihat kekacauan yang terjadi.
***********
Leo membawa Arina duduk disofa. Lalu dengan segera Leo mengambil kotak obat.
" Maafkan ibuku Arina, aku tidak tahu semua akan menjadi seperti ini. Aku sungguh minta maaf ". Sesal Leo. Lelaki itu membersihkan beberapa luka disudut bibir dan hidung Arina yang berdarah. Wanita itu hanya menatap kosong. Tak ada isak tangis yang terdengar. Namun airmatanya seakan tak mau berhenti mengalir. Wanita tak mengaduh sedikitpun. Padahal Leo tau itu pasti sakit sekali. Rambut wanita itu pun berantakan. Pasti banyak luka juga disana.
"bicaralah padaku Arina, aku mohon. Jangan membuatku takut ". Ucap Leo khawatir. Leo lantas mengeluarkan ponselnya berniat untuk menghubungi Marvin. Tapi tiba-tiba Arina mencegahnya. Dia menarik tangan Leo pelan.
" Jangan katakan apapun padanya. Aku mohon padamu kali ini saja ". Ucap Arina parau. Dia seakan tahu bahwa memang Marvinlah yang akan Leo hubungi.
" Baiklah, tapi Berjanjilah jangan membuatku khawatir lagi ". Arina mengangguk pelan.
__ADS_1
" Leo, bisakah aku meminta sesuatu? ". Ucap Arina tiba-tiba. Leo menatap penasaran tentang permintaan Arina.
" Apa? ". Tanya Leo datar.
" Bisakah aku meminjam uang padamu? ". Ucap Arina ragu.
" untuk? ".
" Aku ingin menyewa rumah kecil. Tidak perlu bagus yang penting aku bisa tinggal. Dan terlebih lagi aku akan mencari yang harganya murah ". Ucap Arina terbata.
" Lalu dengan cara apa kau membayarnya padaku? ". Tanya Leo sambil bersedekap menatap Arina tajam.
" Aku akan mencicil. Aku akan bekerja apapun. Dulu waktu dipanti aku biasa bekerja serabutan untuk menghasilkan uang. Aku pernah bekerja tanpa sepengetahuan bibi Grace. Aku bisa melamar menjadi cleaning servis atau apapun nanti ". Ucap Arina yakin.
Leo menatap wanita didepannya ini dengan tatapan iba. Dalam sekejap dia tidak memiliki apapun. Bahkan jauh lebih miris dibandingkan kehidupannya saat dipanti. Gadis ini diangkat bagai putri kemudian dihempaskan begitu saja. Dan sampai saat ini dia tidak tahu alasan apa yang membuatnya menjadi seperti ini.
"Baiklah akan aku pikirkan nanti. Aku perlu bertanggung jawab untuk semua yang terjadi hari ini. Aku akan membantumu, anggap saja sebagai ucapan permintaan maafku padamu. Karna ibuku telah berlaku melampaui batas padamu".
"Kau tidak perlu melakukannya. Aku tak tersinggung sama sekali. Seorang ibu pasti akan selalu menjaga anaknya. Dia tidak mau anaknya berbuat tidak benar. Dia begitu karna menyayangimu. Bahkan aku iri padamu. Jangan marah pada ibumu atau kau akan menyesal nanti ". Ucap Arina tersenyum tulus.
" Terimakasih untuk tidak tersinggung. Besok aku akan bicara pada Marvin. Kemarin kami sempat berpikir akan membelikanmu apartemen yang dekat denganku disini. Jadi kau tidak perlu khawatir soal tempat tinggal. Kau juga tidak perlu mencicil karna Marvin yang membelinya untukmu. Tapi tentu saja atas namaku. Ini demi menjaga perasaan Marinka. Kita tidak boleh membuatnya curiga sedikitpun. Kau mengerti ? ".
" Iya aku mengerti. Tapi tidakkah ini terlalu berlebihan. Aku hanya butuh tempat tinggal yang sederhana saja. Lagi pula aku sudah terlalu banyak menyakiti mereka. Aku tidak mau membuat mereka dalam masalah lagi ". Ucap Arina sendu.
" Jangan kau pikirkan yang penting urusan tempat tinggalmu sudah beres. Sebagai gantinya kau harus berjanji menceritakan semua kejadian yang menimpamu padaku. Aku ingin tahu tanpa ada yang kau tutupi sedikitpun ". Arina sejenak berpikir kemudian mengangguk.
" Baiklah aku akan menceritakan semuanya padamu besok ".
" Baiklah, kau berhutang cerita padaku ".
__ADS_1
***********