
HAPPY READING 😘😘😘😘
**********
Marvin melangkah cepat menuju kamarnya. Setelah dia tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya, dia memutuskan mencari tau sendiri. Emosinya sudah sampai diubun-ubun. Sedangkan Leo masih tetap tinggal karna mendapati keadaan yang tidak beres. Marvin langsung menuju kamar mandi karna tidak mendapati Marinka dikamarnya. Berusaha membuka pintu nyatanya terkunci dari dalam sana. Dia yakin David mencoba menakuti Marinka lagi, seperti beberapa waktu lalu.
"Marinka... Buka pintunya...!! ". Marvin terus menggedor pintu kamar mandi itu. Berkali-kali tak jawaban membuat Marvin khawatir. Dia berniat mendobrak pintu. Lima kali dobrakan baru pintu itu terbuka. Marvin terperanggah melihat keadaan Marinka yang duduk memeluk lututnya didalam bath up yang terisi air. Tubuhnya bergetar ketakutan terkejut menatap kedatangan Marvin.
"Marinka kemarilah..... ". Marvin berkata lembut sambil mengulurkan tangannya. Marinka beringsut menghindar masih dengan ketakutan. Sambil berkali-kali menggelengkan kepalanya.
" Kemarilah.. Nanti kau sakit. Aku tidak akan menyakitimu Marinka ".
Marinka sedikit menoleh pada Marvin. Setelah mulai menyadari keberadaannya perlahan Marinka menggapai tangan suaminya tersebut, menggenggam erat seolah takut terlepas. Akhirnya Marvin menariknya perlahan dari sana. Tanpa pikir panjang Marinka memeluk erat tubuhnya suaminya tersebut. Marvin melihat Marinka masih gemetar.
" Marvin... Aku tidak mau disini, bawa aku pergi dari sini, aku tidak mau disini ". Ucapnya sambil terus menangis.
" Aku mengerti, sudah, jangan takut, aku disini ". Marvin memeluk Marinka erat mencoba menenangkan. Emosinya semakin naik melihat keadaan Marinka seperti ini.
" Gantilah bajumu, nanti kau sakit ". Bujuk Marvin. Marinka masih menggeleng dalam pelukan Marvin. Kini kemeja Marvin pun terlihat basah.
" Jangan keras kepala, jika kau tak ingin aku marah maka patuhlah. Ganti bajumu ". Marvin memberi ultimatum. Mau tak mau Marinka menurut.
Setelah membujuknya akhirnya Marinka berganti baju dengan baju yang dipilihkan Marvin. Lima belas menit pintu kamar mandi terbuka. Marvin lalu membimbing Marinka perlahan dan mendudukkannya ditepi ranjang.
" minumlah.... ". Marvin memberikan segelas air putih yang tersimpan diatas nakas. Marinka meminumnya hingga tandas.
Marvin merapikan rambut Marinka yang berantakan, mengusap sisa airmatanya dengan ibu jarinya. mereka duduk berhadapan Marinka hanya tertunduk dengan sisa isakannya. Marvin sungguh kasian melihat Marinka, kenapa menjadi istri seorang Marvin harus semenderita ini. Mulai dari bibi yang mulai membencinya, lalu Dania dan David yang terus mengganggunya, lalu cibiran orang-orang sebagai perusak hubungan orang. Marvin menarik nafas sesak.
Tiba-tiba mata Marvin menangkap sesuatu yang membuat Emosinya semakin mendidih.
Dia menyibak rambut Marinka dan menarik leher Marinka mencoba memastikan penglihatannya. Marinka terkejut dan panik mendapati Marvin melihat tanda itu.
"Apa dia yang melakukan ini padamu? Sejauh inikah dia mengganggumu? ". Geram Marvin menatap tajam. Marinka seketika memegang tangan Marvin.
" Maafkan aku Marvin... Aku tidak bisa menjaga diri.. Aku mohon maafkan aku".
Marvin yang dilingkupi emosi kemudian berdiri menarik diri dari Marinka. Berjalan menuju lemarinya dan mengambil sesuatu dari sana.
Marinka terus menangis menatap Marvin. Namun matanya membulat setelah tau benda apa yang ada ditangannya.
__ADS_1
"Marvin.. Kau mau apa? Kau jangan macam-macam".
"Aku akan mengeluarkan isi kepalanya ". Jawabnya penuh penekanan. Marvin lalu bergegas keluar kamar diikuti Marinka yang panik. Sampai dibawah ketiga orang itu terkejut melihat Marvin yang datang dengan pistol ditangannya. Dicengkeram krah kemeja David lalu diarahkan pistol itu kedahinya. Dania berlari menjauh melihat kegilaan Marvin. David pun sama terkejutnya melihat Marvin benar-benar akan senekat ini.
"Sudah berapa kali kubilang jangan mengganggunya, dan kau berani menyentuhnya ".
"Marvin... Aku bisa jelaskan". Ucap David gemetar.
"Marvin aku mohon jauhkan benda itu. Tahan emosimu ". Leo berusaha menasihati. Dia paham betul jika Marvin sudah marah akan suatu hal, maka dia tidak akan bisa dinasihati. Apalagi ada senjata api ditangannya.
" Apa kau bisa tenang jika melihat istrimu disentuh orang lain hah? ". Kini Marvin beralih menatap tajam Leo. Membuat yang ditatap tak berkutik.
" Marvin turunkan senjatamu, aku tidak mau kau kena masalah. Ayolah Marvin.. Jangan seperti ini ". Bujuk Marinka sambil terus memeluk Marvin mencoba menjauhkan dari hadapan David.
Saat sedang bersitegang seperti itu tiba-tiba pintu terbuka. Paman dan bibi datang. Mereka sama terkejutnya melihat kekacauan dirumahnya. Marvin sedikit kehilangan fokus. Melihat itu secepat kilat Leo merebut pistol itu dan mendorong Marvin jauh dari David.
David lalu berhambur berlindung dibelakang bibi nya. Sedangkan Marinka sekuat tenaga memeluk Marvin agar tidak berlari mengejar David.
"Kurang ajar kau Leo, cepat berikan padaku ". Teriak Marvin pada Leo.
" Tidak akan, apa kau gila, kau bisa saja membunuhnya ". Leo sama berteriaknya.
Tuan Mike dan bibi mouli masih bingung dengan apa yang terjadi dirumahnya.
" Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian bertikai? ". Teriak Tuan Mike.
" Kau... Apa yang kau lakukan sampai Marvin semarah itu? Dia tidak akan sampai mengarahkan pistol kekepalamu jika kau tidak melampaui batas ". Kata Tuan Mike manajam menatap David.
" Paman.. Aku.. Aku sungguh ti.. Tidak lakukan apapun ".
" Masih berani kau bicara omong kosong begitu ". Ucap Marvin menahan amarah.
" Dia berani mengganggu Marinka bahkan berani menyentuhnya ".
" Apa kau bilang? Beraninya kau? ". Tuan Mike seketika menajam kearah David sama marahnya . Marinka yang sudah dianggap seperti putrinya ada yang menyakitinya.
Bibi mouli sama terkejutnya. Dia pikir kejadian beberapa hari lalu hanya kebohongan. Tapi kekacauan hari ini sedikit membuka matanya.
" Kau tau aku menjaganya dengan nyawaku sebagai taruhannya, bahkan tak kubiarkan dia terluka sedikitpun. Dan dengan Berani kau menyakitinya. Apa kau tak punya malu. Bahkan baju yang kau pakai itu kau beli dari hasil kerja suaminya ".
__ADS_1
David hanya tertunduk malu mendengar kenyataan yang telah ia lupakan.
" Aku akan membawa Marinka pergi dari sini. Aku akan tinggal di apartemenku saja. Aku tidak mau mengambil resiko lagi. Sudah cukup aku diam kemarin. Aku tinggal disini hanya karna menuruti bibi. Tapi maafkan aku bibi, aku sudah tidak bisa mentoleransi ini lagi". Ucap Marvin menyesal.
"Tidak Marvin.. Bibi sangat menyayangimu. Bibi tidak mau kau jauh dari bibi, kau anak lelakiku, bibi tak mau jauh darimu nak". Bibi mouli mulai menangis.
"Aku tidak bisa bibi, aku sungguh minta maaf. Marinka prioritasku sekarang. Aku sudah berjanji dihadapan papa dan juga dihadapan Tuhan untuk selalu menjaganya ". Marvin mendekat dan menggenggam erat tangan bibinya.
" Aku akan melakukan apapun agar kau tetap tinggal. Katakan apa yang harus kulakukan ". Bibi mouli mulai menangis dipelukan suaminya. Tuan Mike tak bisa berbuat apa-apa. Keputusan mutlak ditangan Marvin.
" Marvin.. Kasihan bibi ". Bisik Marinka.
" Tidak Marinka.. Aku tidak akan mempertaruhkan keselamatanmu lagi. Aku tidak mau terlihat tak berguna karna telah gagal melindungimu ". Ucap Marvin memeluk Marinka erat. Entah mengapa hati Marinka menghangat mendengar itu.
" Aku akan menyuruh David keluar dari sini. Tapi tetaplah disini. Bibi mohon ". David dan Dania membelalakkan matanya karna terkejut.
" Aku akan memikirkan lagi bibi. Tapi Untuk malam ini biarkan aku pulang keapartemenku dulu."
"Leo, bekukan semua rekeningnya ". Ucapnya sambil menatap tajam kearah David. Membuat David takut.
" Jangan lakukan itu Marvin . Kau tidak bisa melakukan itu padaku ".David putus asa.
" tentu saja bisa. Apa kau lupa aku yang punya kuasa disini. Dan jika otakmu waras kau seharusnya berfikir ratusan kali untuk tidak mengganggu istriku ".
David tak bisa berkutik. Semua yang dikatakan Marvin itu benar.
" Lalu bagaimana denganku Marvin?, kau sudah tidak peduli padaku? ". Ucap Dania khawatir.
" Maaf Dania, aku tidak bisa menepati janjiku pada orangtuamu. Aku hanya bisa menjagamu, bukan menikahimu. Sekali lagi aku minta maaf ". Ucap Marvin tegas membuat Marinka terkejut setengah mati. Marvin begitu mantap mengakhiri hubungannya dengan Dania. Apakah itu benar demi dirinya? Ataukah hanya karna balas budi belaka?
" Apakah aku harus membuka hatiku untukmu Marvin? ".
***********
Terimakasih buat yang udah mampir**
**Jangan lupa LIKE & KOMEN ya
GRATIS...........
__ADS_1
SELAMAT HARI MINGGU 😘😘😘😘