Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
40. Thomas


__ADS_3

"ikat mereka...!". Perintah Thomas geram. Beberapa orang bertubuh kekar lalu mengikat dua orang kakak beradik dan satu orang lelaki seumuran Thomas.


"Apa yang kau lakukan? ". Tanya David bingung.


" Seharusnya aku yang bertanya begitu. Apa yang kau lakukan? Gara-gara kau Marinka kehilangan bayinya ".


" Aku malah berharap dia juga mati, asal kau tau itu ". Ucap Dania sambil tertawa.


Plakkk.....


Thomas menampar Dania penuh amarah.


" Apa masalahmu? Jika Marvin tidak memilihmu seharusnya kau tau diri. Kau memang tidak bisa dibandingkan dengan Marinka. Kau dan kakakmu itu tidak lebih dari benar. Hanya bisa membuat masalah. Bisanya merepotkan dan menghabiskan uang". Ucap Thomas sambil mengguyur air pada kepala Dania.


" Lalu kau apa? Kau laki-laki yang masih memikirkan istri orang. Sadarlah dia tidak akan melihatmu. Kau sama brengseknya sepertiku. Cih ". Ucap David.


Bughh.... Bughh.....


Dua pukulan telak diarahkan Thomas pada perut David. Membuat David meringis mengaduh kesakitan.


" Tidak tahu malu, siapa kau berani membandingkan dirimu denganmu. Kau sama sekali tak punya nilai apapun ". Ucap Thomas lalu beranjak dari ruangan sempit itu.


" Biarkan mereka bertiga disini selama beberapa hari. Biarkan mereka kelaparan". Ucapan Thomas membuat ketiga orang itu memucat.


"Hey.. Lepaskan kami, kami tidak melakukan apapun. Bukan kami pelakunya ". Teriak Dania, namun Thomas sudah menghilang.


"Kenapa jadi begini, bahkan kita belum memulai. Siapa sebenarnya yang sudah mengacaukan rencana kita ". Ucap David kesal.


******


" Berikan padaku ". Thomas meminta beberapa file foto yang diambil dari orang suruhan David. Lalu mengeceknya satu persatu.


" Baiklah, ini sudah cukup setidaknya foto ini tidak akan tersebar kemedia".Thomas mulai lega. Namun tiba-tiba dia curiga sesuatu. Dia lantas mengambil ponselnya dan Mulai memeriksanya.


"Tunggu, foto ini diambil dari sudut yang berbeda. Ada dua orang yang mengambil foto ini. Tapi David jelas-jelas mengatakan dia hanya menyewa satu orang saja. Lalu siapa yang mengambil foto ini ". Gumam Thomas berfikir.


" saya akan mencoba mencari informasi lagi Tuan ". Ucap asisten Thomas.


" Kau selidiki lagi, jangan sampe ada yang terlewat. Aku harus tau siapa orang dibalik semua ini. Aku yakin ada orang lain lagi yang membuat kekacauan ini". Ucap Thomas penuh penekanan. Dibalas anggukan oleh lelaki itu.

__ADS_1


*******


" Ada apa menyuruhku kemari? ". Tanya Marvin malas.


" berhentilah bersikap sombong. Aku menemukan sesuatu mengenai foto itu ". Jawab Thomas pada poinnya Tidak mau banyak berdebat. Mau tak mau Marvin tertarik membicarakan itu.


" Siapa? Jangan asal menuduh orang ". Ucap Marvin mengingatkan, membuat Thomas tergelak.


" Aku tidak akan sembarangan menuduh orang. Kau tau kalau aku orang yang selalu penuh perhitungan ". Ucap Thomas sombong.


" Berhentilah menyombongkan dirimu. Cepat katakan intinya ". Ucap Marvin tak sabar.


" Aku baru saja menangkap dua bersaudara itu ".


" Siapa? David? ".


" Tentu saja siapa lagi, Dania dan David merencanakan ini sejak beberapa hari lalu. Mereka menyewa seseorang untuk mengikuti Marinka. Membuat seolah dia buruk dimatamu ". Jelas Thomas santai.


" Astaga... Seharusnya kubuang mereka yang jauh, tidak berada dinegara ini lagi. Aku terlalu baik rupanya ". Ucap Marvin geram.


" Tapi satu lagi yang lebih penting. Foto yang ada pada David bukan foto yang sama seperti yang orang itu kirimkan padamu. Foto itu diambil dari sudut berbeda. Dan aku yakin ada orang lain yang juga ingin melakukan hal yang sama pada hubunganmu ".


" Tapi siapa? ".


" sepeduli itukah kau pada Marinka ". Marvin menatap Thomas nanar.


" Jawabannya adalah ya... Aku berharap kau bisa melindunginya. Tapi ternyata aku salah. Kau lebih peduli dengan pekerjaanmu. Jika kau tidak bisa menjaganya dengan baik, maka aku bisa menjaganya ". Ucap Thomas penuh penekanan.


" Kurang ajar, jangan berkhayal memiliki istri lebih dari satu. Otakmu ternyata masih sama seperti dulu ". Marvin berdecih.


" Aku tidak harus menikahi nya bukan, kau tau aku pernah menawarkan sesuatu padanya kan? Aku pikir dia akan segera berubah pikiran mengingat perlakuanmu padanya sangatlah buruk ". Ucap Thomas sedikit memprovokasi membuat Marvin mengeraskan rahangnya.


" Jangan pernah bermimpi menjadikan Marinka simpananmu ". Ucap Marvin penuh penekanan.


" Itu tergantung padamu Marvin, semua ada ditanganmu kau bisa menjaganya atau tidak ". Thomas lalu meninggalkan Marvin yang tersulut emosi.


" Jangan bermimpi ". Geram Marvin.


*******

__ADS_1


Marvin kembali keruang rawat Marinka, terlihat Marinka sedang membereskan barang-barangnya. Marvin lalu memeluk Marinka dari belakang membuat Marinka terkejut. Marvin memberikan kecupan dipelipis Marinka.


" Sudah lebih baik? ". Tanya Marvin sambil terus memeluk Marinka erat. Tapi perlahan Marinka mengurai pelukan Marvin.


" Aku lebih baik. Aku ingin pulang ". Ucap Marinka lirih. Marvin membalikkan tubuh Marinka sehingga mereka berhadapan.


" Kita akan pulang, sebentar lagi ". Ucap Marvin tersenyum. Marvin semakin mengikis jarak hendak mengecup bibir Marinka tapi Marinka menghindar. Marvin sedikit terkejut.


" Kenapa? ". Tanya Marvin sedikit kecewa.


" Mmm.. Aku... Aku ingin menginap dirumah papa beberapa hari. Aku rindu papa juga bibi elly. Kemarin mereka tidak bisa datang jadi aku ingin kesana".ucap Marinka bergetar Sambil terus menunduk.


"Kita akan menginap disana bersama ". Ucap Marvin meyakinkan tapi Marinka menggeleng pelan.


" Aku akan menginap sendirian saja, aku akan mengabarimu jika aku akan pulang ". Kata Marinka sambil terus meremas kedua tangannya. Marvin tersenyum getir lalu menjauhkan tubuhnya dari Marinka kemudian mendudukkan tubuhnya diranjang.


" Kau bukan sedang merindukan papa, tapi kau sengaja menghindariku ". Marvin tercekat.


" Tidak Marvin, bukan begitu... Aku hanya.. ".


" Kita sudah sepakat akan memulainya dari awal bukan? Kenapa kau berubah fikiran? ". Tanya Marvin dengan tatapan penuh kecewa. Tak terasa airmata Marinka menetes kemudian dia terisak pilu.


" Aku mohon izinkan aku kali ini, aku ingin memulai dari awal. Tapi entah kenapa hatiku mengingkarinya. Aku belum siap untuk itu. Ada baiknya kita tinggal berjauhan sebentar agar kita sama-sama berpikir ". Ucap Marinka terisak.


" Tidak ada masalah yang bisa diselesaikan dengan berjauhan. Kita perlu bersama kita perlu membenahi yang salah. Kita tidak bisa egois seperti ini. Ayolah Marinka, beri aku kesempatan sekali lagi ". Ucap Marvin memohon.


" Aku ingin tapi rasanya begitu berat, kau tidak pernah percaya padaku sejauh ini. Kau tau tidak akan ada hubungan yang berhasil tanpa sebuah kepercayaan. Hubungan kita tidak akan berhasil Marvin. Mengertilah ".


" Berikan aku kesempatan aku mohon. Jangan menghukumku seperti ini. Aku tau pernikahan kita memang tak seperti pernikahan kebanyakan. Tapi aku tidak pernah main-main. Aku tidak mau kita berpisah ". Ucap Marvin putus asa.


" Kita tidak akan berpisah, kita hanya akan saling membenahi diri ditempat berbeda. Itu saja ".


" Tidak.. Aku tidak percaya. Kau sengaja menghindariku. Kau membenciku, benar? ". Marvin tersenyum getir.


" Kau belum memaafkanku".


"Maafkan aku Marvin, aku ingin menganggap semuanya biasa saja tapi aku tak bisa ". Marinka semakin terisak. Lihatlah,, harusnya Marvin yang merasa bersalah dan meminta maaf. Bahkan wanita ini masih bisa berbicara sopan ditengah hatinya yang terluka.


" Apa yang kau katakan? Akulah yang bersalah, aku yang harusnya meminta maaf ". Marvin mendekati Marinka yang yang tergugu kemudian memeluknya.

__ADS_1


" Baiklah, aku izinkan kau menginap disana. Tapi jangan berfikir untuk meninggalkanku. Karna aku tidak akan pernah setuju akan hal itu".ucap Marvin getir.



__ADS_2