Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
23. Jangan sakit


__ADS_3

Aqohhh kembali 😍😍


Selamat membaca....


***********


Marvin panik bukan main melihat keadaan Marinka yang tak sadarkan diri. Wajahnya pucat seperti kehabisan darah.


Dokter briyan sudah datang lima belas menit yang lalu untuk memeriksanya.


"Bagaimana briyan? ".


" Tak apa.. Itu reaksi yang wajar. Dia memang tidak bisa makan pedas. Jadi jangan kau beri dia makanan pedas. Meskipun itu hanya sedikit".Jelas briyan. Marvin mengangguk mengerti.


"Apa tidak akan berbahaya? ".


" untuk saat ini tidak. Aku akan memberinya obat pereda sakit. Aku juga akan menasehatimu. Berhentilah makan makanan yang terlalu pedas. Nanti lambungmu akan bermasalah ".


" Baiklah... Aku mengerti. Jangan cerewet ".


" hey... Ini demi kebaikanmu. Kau tidak mau kan sakit sakitan. Memangnya kau tidak mau bermain bola dengan anak lelakimu yang menggemaskan. Kau harus sehat. Kau mengerti? Kau ini terlalu berlebihan jika sudah menemukan makanan pedas". Marvin hanya mengangguk di nasehati sahabatnya itu.


Memikirkan soal anak membuat wajah Marvin memerah.


Dan itu tak luput dari perhatian Briyan. Membuatnya ingin menggodanya.


"kenapa wajahmu merah? Kau berpikir tentang keponakanku kan? Aku benar kan?". Ucap Briyan sambil menaik turunkan kedua alisnya menggoda Marvin.


" Diamlah.. Kau ini berisik sekali ".


" Apa yang kau tunggu? Aku sungguh menantikan Marvin Junior. Apa mungkin dia akan menggemaskan seperti Marinka atau menyebalkan sepertimu". Kata Briyan antusias.


" kenapa masih bertanya,, menikahlah sendiri. Kenapa memaksaku membuatkanmu bayi. Yang benar saja. Dasar dokter aneh ". Gerutu Marvin.


" Aku pikir kalian harus pergi berlibur sepertinya ". Kata Briyan sambil mengetukan jarinya pada dagunya. Marvin mendelik.


" Aku curiga padamu,, sebenarnya kau ini dokter atau agen perjalanan Hah. Kenapa mengurusi liburan pasienmu. Pulanglah,, setiap kau datang pasti membuat pusing kepalaku ". Ucap Marvin sambil mendorong Briyan keluar kamar.


" Baiklah... Baiklah... Aku pulang. Berikan dia teh chamomile saat dia sadar. Kau mengerti ".


" Iya.. Baiklah... Kau sudah mengatakannya dari tadi".ucap Marvin lalu menutup pintu kamarnya.


Tak berselang lama Marinka pun sadar. Dan berusaha untuk mendudukkan tubuhnya.


" hey.. Pelan-pelan".ucap Marvin sambil membantu Marinka duduk.


"bagaimana keadaanmu? ".


" sedikit lemas ".


" Minumlah ini.. Aku membuatnya tadi ". Kata Marvin sambil menyodorkan secangkir teh chamomile.


Marinka meminum teh itu.


" perutku seperti terbakar rasanya. Rasanya sakit sekali diulu hati". Kata Marinka lemah.


"Aku ambilkan air dulu untuk mengompres perutmu. Biar terasa nyaman". Ucap Marvin berlalu. Tak sampai lima menit dia sudah kembali.


"buka lah.. Biar aku kompres perutmu ". Ucap Marvin sambil sedikit menarik selimut Marinka.


" bi.. Biar aku saja ". Ucap Marinka gugup lalu mengambil paksa handuk ditangan Marvin. Kemudian meletakkan di atas perutnya yang tersembunyi dibalik selimut.


" Kenapa kau memakannya? Dan sejak kapan kau alergi chapcaisin? Kenapa aku tidak tau soal ini? ".

__ADS_1


" Tidak separah itu Marvin, ini bukan alergi, hanya saja pasta tadi memang benar-benar pedas".jelas Marinka malas.


"Lalu kenapa kau memakannya sehingga menyakiti dirimu sendiri. Dasar bodoh? ". Ucap Marvin kesal.


" Lalu apa yang terjadi jika kau yang memakannya? Kau akan menghabiskan dua piring pasta pedas. Mungkin kalau hanya satu piring itu tak masalah. Dan pasta yang dibuat Dania lebih pedas dari pasta ku. Dan kulihat kau pun sudah kewalahan kan?. Demi menjaga perasaan ku dan Dania kau rela menyakiti dirimu sendiri. Aku tidak akan membiarkan itu. Terlebih lagi besok kau akan keluar kota kan? Bagaimana jika disana kau sakit? Siapa yang akan menjagamu?".jelas Marinka panjang lebar. Marvin hanya tersenyum tipis mendengarnya.


"Kau mengkhawatirkanku? ". Tanya Marvin sambil duduk ditepi ranjang.


" tentu saja.. Kau dewa penolongku, jika kau sakit siapa yang akan melindungiku ".


"Ah ternyata... Kupikir kau tulus". Kata Marvin sambil memasang wajah memelas. Marinka tertawa.


"Kau itu seperti doraemon, kau punya kantong ajaib. Apa yang kuminta pasti akan kau berikan ". Ucapnya sambil tertawa riang.


Marvin menyukai itu. Sejak terjadinya salah paham itu sampai akhirnya pernikahan mendadak itu, wajah Marinka selalu murung.


Tapi hari ini alih-alih sedang sakit dia malah bisa tertawa riang.


Ceklek.......


Tiba-tiba pintu terbuka ada Dania, David dan bibi mouli disana. Marvin hendak berdiri namun dengan cepat Marinka menahan tangan Marvin.


"kenapa? ". Bisik Marvin.


" tetaplah disini, aku tidak nyaman ". Jawab Marinka berbisik pula. Marvin tersenyum dan mengangguk.


" Drama apa lagi sekarang? Kenapa kau suka sekali membuat keributan? ". Kata bibi mouli sinis.


" Bibi... Aku tidak bermaksud membuat keributan".jawab Marinka pelan.


"Lain kali perhatikan dirimu sendiri. Jangan mencoba mengikuti kebiasaan orang lain. Kau hanya akan menderita. Kau tau itu". Ucap Dania tak kalah sinis.


"Dania apa maksudmu? Jangan membuat semuanya semakin rumit. Sudahlah.. Lagi pula Marinka sedang sakit. Jangan memojokkannya ". Ucap David manis namun terasa sekali dibuat-buat.


Marinka seketika bergidik ngeri mengingat perlakuan David beberapa waktu lalu. Reflek dia mengusap tengkuknya berkali-kali.


" Kau.. Kenapa? Apa perutmu sakit lagi? ". Tanya Marvin khawatir.


" Entahlah Marvin.. Aku tiba-tiba tak nyaman ".


Jawab Marinka.


" Hmmm baiklah istirahatlah".marvin membantu menidurkan Marinka. "Bibi.. Bisa kah bibi keluar sebentar? Biarkan Marinka istirahat dulu". Lanjut Marvin halus.


"manja sekali dia, aku juga tak mau berlama-lama disini".ucap bibi mouli lalu meninggalkan kamar itu.


"Marvin.. Maukah kau menemaniku minum teh bersama bibi? ". Rayu Dania dengan suara manja yang dibuat-buat. Membuat Marinka serasa ingin muntah.


" kenapa dengan wanita ini, kenapa selalu saja melayu? Menyebalkan! ". Gerutu Marinka.


" Maaf Dania, mungkin lain kali. Aku harus merawat Marinka dulu ". Tolak Marvin halus.


" Baiklah.. Apa kau berjanji? ". Desak Dania.


" hmmm.... Baiklah.. Kita lihat nanti". Jawab Marvin mau tidak mau, dia harus segera mengeluarkan Dania dari kamarnya agar tidak terjadi keributan lagi. Dania tersenyum senang kemudian berlalu dari situ bersama David. Seketika raut wajah Marinka berubah kesal. Lalu menarik selimutnya sampai menutupi kepala dan tidur membelakangi Marvin.


"Ada apa lagi Marinka? ".


" Aku ingin istirahat Marvin, jika kau mau menemani Dania, aku tak apa. Pergilah ".


" benarkah? Kau mengizinkan?". tanya Marvin memastikan. Seketika Marinka membuka selimutnya. Menoleh kearah Marvin.


"Kau mau pergi? ". Marinka menajam.

__ADS_1


" Jika kau izinkan ". Jawab Marvin sambil menahan senyum. Dia tau Marinka kesal.


" pergilah.... ". Ucap Marinka lalu membenamkan wajahnya dibalik selimut dan memunggungi Marvin lagi. Marvin tersenyum. Lalu akhirnya dia pun merebahkan dirinya dibelakang Marinka dan memeluknya.


Deg....


" Marvin.. Apa yang kau lakukan? ". Ucap Marinka terkejut.


" Tidur.. ". Jawab Marvin santai.


" tidurlah disana.. Disini sempit, kau Bisa saja jatuh ". Ucap Marinka salah tingkah sambil menunjuk sisi ranjang yang kosong.


" Diamlah.. ". Marvin semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Marinka tak berani banyak bergerak.


" Jangan macam-macam, jika kau berani begitu, aku pukul kepalamu".


" Tidak akan... ".


Kemudian hening.....


" Marvin.. Kau akan bekerja keluar kota besok. Istirahatlah dengan benar. Jangan sampai kau sakit ". Marinka berkata pelan.


" Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Lagi pula jika aku sakit ada Leo yang menjagaku ". Jelas Marvin membuat Marinka terkekeh.


" Aku berani bertaruh.. Dia akan kuwalahan menghadapimu yang keras kepala saat sakit. Kau sangat menyebalkan saat sakit. Apa kau tau hah?".


"Benarkah.....? ". Ucap Marvin sambil terus membaui hidungnya dengan aroma strawberry dirambut Marinka. Membuat wanita itu risi lalu memukul kepala Marvin.


" auuuu... Kenapa memukulku ".


"Kau membuatku takut. Menjauhlah.. Atau ku tendang kau ". Marinka mulai kesal. Entahlah setiap berdekatan dengan Marvin kerja Jantungnya selalu tidak beraturan.


", baiklah.. Aku hanya memelukmu saja. Aku berjanji. Tidurlah.... ". Ucap Marvin lembut. Rasanya sia-sia berbicara dengan Marvin. Akhirnya Marinka mengalah.


" Marinka.... ".


" hmmmm ... ".


" Apa kau sungguh mengkhawatirkan ku? ".


" hmmm.... ". Jawabannya masih sama masih dengan posisi membelakangi Marvin.


" Ikutlah denganku besok ".


Mata Marinka mendadak terbuka. Dia menoleh kearah Marvin. Kini jarak wajah mereka hanya beberapa senti.


" Kau bilang apa...? ".


" Ikutlah bersamaku keluar kota besok.... ". Ucap Marvin setengah berbisik sambil menatap lekat mata hitam Marinka.


" Marvin... Aku..... ".


************


Like dan spam komen dunk biar rame


GRATISSSSS


Tekan like disisi kiri yak... Plisss Plisss....


Yang gambar jempol bukan gambar badak..


Eh... 😄😄😄

__ADS_1


TERIMAKASIH 😘😘😘😘😘


__ADS_2