
"Luar biasa, aku kira aku tidak boleh keluar rumah karna kau benar-benar mengkhawatirkanku. Tapi ternyata agar kalian bertiga bisa seenaknya membodohiku seperti ini ya". Ucap Marinka getir. Ketiga orang yang berada diruangan itu sontak berdiri dengan keterkejutan mereka.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku sudah memintamu untuk tidak keluar rumah. Kenapa kau susah diberitahu". Ucap Marvin sambil berjalan mendekati Marinka. Kesal, marah dan khawatir berkumpul jadi satu.
Marinka menghempas tangan Marvin kasar. Kemudian berjalan mendekati Arina dan Leo. Marinka menarik tangan Arina kasar sehingga mereka saling berhadapan.
"Sampai kapan kau akan mengganggu suamiku? apa kau tidak punya pekerjaan lain? Kenapa kau tidak menikah agar kau tidak menjadi pengganggu". Ucap Marinka penuh emosi.
"Marinka kau keterlaluan, dia disini untuk membantumu menemukan pembunuh ayahmu. Dan kau menuduhnya yang tidak-tidak". Ucap Leo sedikit meninggi.
"menuduhnya kau bilang? Apa kau lupa bagaimana dia sudah menciptakan jarak antara aku dan Marvin dulu?".
"Dia sudah berubah, dia sudah meminta maaf padamu. Apa kau lupa?". Leo menahan suaranya yang penuh kekesalan.
"Marinka, sudah kubilang jangan suka menyimpulkan apapun sendiri".Marvin mencoba menengahi.
"Kalian sama saja, aku salah telah percaya padamu".
"Marinka, Aku minta maaf soal apa yang telah aku lakukan beberapa waktu lalu padamu. Aku sungguh sangat menyesal. Aku tidak memintamu memaafkanku. Tapi kumohon jangan katakan hal buruk tentangku".ucap Arina bergetar. Leo hanya mampu memalingkan wajahnya melihat Arina yang terlihat begitu menyedihkan sekarang.
"Aku juga tidak akan memaafkanmu. Dan kau akan membayar semua kesakitanku. Tuhan akan menghukummu untuk itu". Ucap Marinka tertahan.
"Sudahlah Marinka, jangan begini. Tahan dirimu". Marvin menggenggam tangan Marinka untuk meredakan emosinya.
"ingatlah kau akan membayarnya, seumur hidupmu".
"ijinkan aku membantu mengungkap kematian ayahmu, setelah ini kau akan mendapat apa yang kau inginkan. Aku berjanji. Aku akan pergi dari kehidupan kalian".
"Aku tidak akan percaya begitu saja padamu. Bagiku kau tetap wanita licik".
"Lalu aku harus bagaimana? ". Tanya Arina putus asa hingga satu isakan keluar dari mulutnya.
" Menikahlah, cari pria tua kaya sana dan pergi jauh dari kehidupanku".
"Baiklah, aku akan menikah, aku akan menemui lelaki yang melamarku beberapa waktu lalu. Dan aku akan berjanji untuk tidak mengusikmu. Tapi biarkan aku membantumu untuk yang terakhir kali".
"Apa kau gila? ". Teriak Leo kehabisan akal.
" Kau mau bunuh diri? ".
" kalau pun aku tiada, tidak akan ada yang bersedih Leo. Aku tidak punya siapapun. Jadi tidak akan ada yang meratapi kepergianku.
"Susah payah aku melindungimu berbulan-bulan dan dengan seenaknya kau akan menyerahkan dirimu padanya". Ucap Leo geram.
__ADS_1
"Beban hidupku hanya pada keikhlasan Marinka. Jika dia bisa memaafkanku maka aku rela". Satu butir airmatanya jatuh sudah.
"Bagus, siapa pria malang yang sudi menikahimu? ". Tanya Marinka sinis.
" Cukup Marinka, kau sungguh terlalu. Aku akan menikahinya. Apa kau puas?". Ucap Leo mantap.
"Apa kau yakin?". Tanya Marinka tersenyum sinis.
"Aku yakin". Ucap Leo.
"Sudahlah, kenapa kalian harus ribut seperti ini? ". Ucap Marvin mulai meninggi. Tiba-tiba Marinka merasakan perutnya sedikit mengencang karna dia terlalu lelah dan emosi. Marinka sedikit mendesis membuat Marvin dan yang lainnya khawatir.
"Kau kenapa? Apa perutmu sakit? Jangan membuatku takut". Ucap Marvin gugup.
"Tidak apa-apa. Sudah biasa". Jawab Marinka datar.
"Aku akan pulang. Tidak usah mengantarkanku. Jangan mengikuti atau aku tidak akan bicara padamu". Ucap Marinka kemudian keluar dari ruangan itu tanpa bisa dicegah.
Marvin memijat pelipisnya. Merasakan pusing yang luar biasa.
"Aku minta maaf pada kalian berdua. Semenjak hamil emosinya terkadang naik turun. Aku sendiri terkadang bingung menghadapinya". Ucap Marvin tulus.
"Tidak apa-apa". Ucap Arina sedikit tercekat. Arina masih mengingat sumpah serapah yang Marinka ucapkan untuknya. Jujur dirinya merasa takut jika Tuhan benar-benar menghukumnya seperti yang Marinka inginkan.
"Tidak kak, aku tidak memikirkannya". Ucap Arina tersenyum sedikit dipaksakan.
"Jika tidak ada yang menikahimu maka aku akan menikahimu. Aku berjanji". Ucap Leo. Kemudian Arina tertawa.
"Jangan bodoh, orangtuamu akan mengusirmu. Aku tidak mau punya suami miskin". Ucap Arina sedikit bercanda.
"Apa kau meragukan uangku? Aku bisa hidup tanpa bantuan mereka".ucap Leo.
"Sudahlah, Marinka sudah tidak ada disini. Jangan mengatakan hal konyol lagi". Ucap Arina masih dengan senyum khas nya.
"Apa aku terlihat bercanda". Ucap Leo serius dengan tatapannya yang dalam dan menghujam. Arina bisa melihat itu. Arina terdiam dan memilih memutus tatapan mereka. Marvin yang menyaksikan itu hanya mampu terdiam. Jika memang mereka saling menyukai, maka Marvin akan senang hati merestui mereka. Terlebih Marvin sudah mengenal Leo sejak lama.
Arina menjadi pendiam sejak perkataan Leo tadi. Wanita mana yang tidak menyukai Leo. Dia mapan, dia punya bisnis, wajahnya pun tampan. Lalu siapa dirinya? Wanita yang tidak tau darimana asal usulnya. Dia hanya berasal dari panti asuhan.
Tiba-tiba ada orang baik yang mengambil dirinya sebagai anak. Tapi ternyata hanya dijadikan sebagai alat untuk menghancurkan hidup seseorang.
Dia pun tidak tahu akhir hidupnya nanti, mungkin dia akan menerima lamaran Jimy. Meskipun dia tahu akan menjadi mayat setelah menikah dengan Jimy. Tapi setidaknya dia tenang karna bisa menjauh dari kehidupan Marvin dan Marinka.
"Apa yang kau pikirkan? ". Tanya Marvin membuyarkan lamunan Arina. Membuatnya terkejut.
__ADS_1
" Ah.. Tidak ada". Ucap Arina canggung. Arina harus cepat-cepat menghubungi Jimy. Dia masih menyimpan nomor Jimy saat terakhir kali lelaki itu menghubunginya. Dia akan menggantikan dirinya untuk Marinka.
Marinka harus selamat. Begitu pikirnya.
"Aku ketoilet dulu". Ucap Arina kemudian. Leo dan Marvin menatapnya aneh. Arina keluar ruangan dan mencari toilet. Arina kemudian bergegas memasuki bilik toilet itu. Dengan gemetar Arina mencari nomor Jimy. Lalu melakukan panggilan.
"Halo.. ". Jawab nomor diseberang.
" Aku menerima tawaranmu. Asal jangan ganggu Marinka dan keluarganya. Apa kau bisa menjamin? ". Tanya Arina gugup.
" Tentu saja sayang, asal aku mendapatkanmu dan Tuan Andrew mendapatkan semua berkas miliknya, maka semua bisa kita atur". Ucap lelaki diseberang sana.
"Baiklah aku mengerti ". Ucap Arina kemudian memutuskan panggilan itu.
Lelaki diseberang sana menyeringai licik.
"Tidak perlu susah payah menangkap mereka. Mereka sendiri yang menyerahkan diri padaku". Ucap Jimy puas mendapatkan dua mangsa sekaligus.
Sementara diruangannya Marvin sibuk menghubungi bibi Mouli.
"Bibi, apa Marinka sudah sampai rumah?".
"..."
"iya, dia tadi kekantor. Kabari aku setelah dia sampai. Aku sangat khawatir tapi dia tidak mau aku antar".
"..."
"Baiklah terimakasih Bibi ". Panggilan terputus.
" Dia belum sampai? ". Tanya Leo.
" belum, mungkin terjebak macet". Ucap Marvin sedikit khawatir.
"Arina juga belum kembali. Aku ingin mengajaknya pulang".
Tiba-tiba notifikasi Ponsel Marvin berbunyi. Marvin mengeceknya dengan cepat. Dan seketika wajah Marvin memucat.
"Ya Tuhan, ini tidak mungkin. Lindungi dia Tuhan ". Ucap Marvin lemas tubuhnya seakan tak bertulang.
" Kenapa? Ada apa? ".
" Marinka.. Dia... ".
__ADS_1
********