
Marvin dan Leo melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Pikirannya tengah berkecamuk sesaat setelah dia mendapat pesan dari seseorang. Pesan yang mengatakan bahwa Marinka tengah disekap disebuah gudang. Tak lupa orang itu juga mengirimkan foto istrinya itu tengah terkulai tak sadarkan diri. Sebentar lagi waktunya Marinka melahirkan, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Marinka dan bayinya.
Sementara Leo pun sama lelaki itu terus saja merapal doa agar Arina tidak dalam bahaya. Beberapa waktu lalu Leo pun mendapat pesan dari Jimy.
"Terimakasih telah menjaga calon istriku dengan baik. Kini saatnya aku yang menjaganya".
Begitulah kurang lebih pesan Jimy. Arina mungkin sudah memutuskan akan menyerahkan dirinya pada Jimy dan Tuan Andrew demi melindungi Marinka dan bayinya.
Demi Tuhan, seharusnya Arina tidak perlu begitu. Dia tidak perlu sampai mengorbankan dirinya. Dia dan Marvin bisa melindungi Arina dan Marinka bersamaan.
Leo masih setia mengikuti mobil Marvin menuju tempat yang dimaksud untuk menemui Jimy dan orang-orangnya. Mereka memarkir mobil mereka dengan cepat kemudian bergegas keluar dari dalam mobil.
*****
Arina dipaksa memasuki ruangan pengap minim cahaya. Dihempaskannya tubuhnya kelantai. Dan betapa terkejutnya Arina mendapati Marinka tengah terkulai dilantai dengan mulut tersumpal dan kaki tangan yang terikat.
Marinka dapat melihat Arina tapi tidak bisa berbuat apapun. Arina lantas membuka sumpalan dimulut Marinka dan melepas ikatan tangan dan kaki Marinka. Kemudian membantu mendudukkannya.
"Kenapa kau bisa disini? Apa yang terjadi? ". Tanya Arina khawatir.
" ceritanya panjang, demi Tuhan Arina, aku sangar takut sekarang. Aku takut mereka menyakiti anak-anakku ". Marinka tak bisa membendung airmatanya lagi.
" Aku akan menjaminmu jangan khawatir ".
Mereka seolah melupakan kejadian beberapa waktu lalu.
" Ini adalah alasan kak Marvin menyembunyikanmu. Ada seseorang yang mengancam hidupmu Marinka. Begitupun aku. Aku bisa kemana-mana hanya bersama Leo saja. Dan kau tahu Leo bahkan menempatkan beberapa Bodyguard untukku".
"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku tidak mengerti".
"Marinka dengar,, mereka menginginkanku. Karna aku punya semua bukti kejahatan Tuan Andrew. Kecelakaan Tuan Louis dan meninggalnya beliau itu adalah perbuatannya. Kau tahu alasannya? ".
" Tidak.. Apa alasannya? ".
" Tuan Louis dan Tuan Andrew dulu menyukai wanita yang sama, yaitu ibumu. Tuan Andrew sakit hati karna ibumu lebih memilih Tuan Louis. Dan yang lebih menyakitkan lagi ibumu meninggal saat melahirkanmu. Dia membencimu karna dianggap menjadi penyebab meninggalnya wanita yang dicintainya".
Seketika Marinka bergidik ngeri. Kenyataann yang baru saja didengar sungguh mengejutkannya.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu terbuka. Jimy memasuki ruangan pengap itu.
"Apa kabar sayang, lama tidak berjumpa. Apa kau siap menikah denganku? ". Ucapnya menyeringai licik.
" Kurang ajar kau Jimy,, sudah kubilang jangan libatkan Marinka. Hanya aku saja, jangan libatkan siapapun".teriak Arina.
Plakkk
Satu tamparan mendarat diwajah Arina membuat Marinka memekik ketakutan. Demi apapun Marinka selama hidupnya tidak pernah mengalami hal buruk apapun. Papa Louis dan paman Mike menjaganya dengan baik.
"kumohon hentikan, kau menyakitinya". Ucap Marinka bergetar. Perutnya terasa kencang sekali.
"Tenanglah sayang, ayahmu akan datang sebentar lagi". Ucap Marinka lirih sambil mengusap perutnya.
"lepaskan Marinka dan biarkan aku yang menggantikan dia".rintih Arina. Dia merasakan pening luar biasa akibat beberapa tamparan yang melayang diwajahnya.
"Tentu saja, tapi tunggu sebentar. Kekasihmu dan suaminya sedang menuju kemari. Biar dia melihat permainan ini sebentar saja".
"Aku mohon jangan begini, aku akan menikah denganmu. Tapi lepaskan Marinka,kak Marvin juga Leo. Mereka tidak ada hubungannya denganku. Mereka bukan siapa-siapaku". Ucap Arina ditengah isakannya.
Sejenak Marinka mematung. Dia sungguh tidak mengerti ada apa sebenarnya. Tapi tiba-tiba Marinka terkejut melihat kedatangan Leo dan Marvin yang sangat berantakan. Terlihat rahang Marvin mengeras menahan amarah.
" Marvin, maafkan aku. Aku tidak mendengarkanmu". Ucap Marinka sesenggukan. Marvin hanya menatap sendu pada Marinka. Kesal, marah, khawatir menjadi satu.
"Akhirnya kalian datang juga. Aku sudah lama menunggu momen seperti ini. Jadi siapa yang ingin kalian selamatkan terlebih dahulu?". Tanya Jimy pongah.
"keduanya. Aku ingin keduanya". Ucap Leo mantap. Tapi ucapan Leo ternyata membuat Jimy tertawa keras.
"Kau tidak bisa mendapatkan keduanya. Kau tau kan Arina akan menikah denganku. Jadi kau hanya bisa membawa Marinka saja. Itupun jika Tuan Andrew menghendaki. Karna setahuku, Tuan Andrew sangat menginginkan Marinka". Ucap Jimy dengan seringai liciknya.
"Kalian benar-benar licik".
"Kalian sudah tahukan kalau aku licik. Tapi kalian begitu bodoh. Juga istrimu itu sama bodohnya".
"Baiklah, mari kita bernegosiasi. Lepaskan mereka dan aku tidak akan mengungkit kejahatan Tuanmu itu. Bagaimana?". Tawar Leo.
"Aku hanya mau Arina. Jika Arina dalam genggamanku maka Tuan Andrew pun aman. Aku tidak butuh negosiasi apapun".
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menurut padamu. Tapi lepaskan mereka bertiga. Aku mohon padamu Jimy. Aku berjanji tidak akan lari darimu".
"Kau dengar sendiri kan yang dikatakan Arina". Ucap Jimy mengacu pada Leo.
"Arina, apa yang kau katakan? Aku akan membebaskanmu".
"Tidak perlu, aku rela melakukan ini semua demi Marinka. Untuk menebus segala kesalahanku".Arina menjeda sebentar ucapannya.
"Marinka, maafkan aku. Aku sebenarnya tidak pernah menyukai kak Marvin. Mereka yang mengancamku melakukan itu untuk menghancurkan ayahmu. Dan untuk mengambil alih perusahaanmu. Aku berkali-kali menolak tapi mereka mengancam akan mengakhiri hidupku. Maafkan aku". Arina menggenggam tangan Marinka. Tak ada kebohongan disorot mata Arina. Membuat Marinka merasa bersalah.
"Sekali lagi maafkan aku. Dan mengenai kecelakaan ayahmu aku tahu bahwa...... ".
Plakkkkk......
Satu lagi tamparan mendarat diwajah Arina. Membuat wanita itu tersungkur.
"Jimy, apa yang kau lakukan".pekik Leo dan Marvin bersamaan. Leo dan Marvin hendak menahan pernah dua wanita diseberang mereka. Namun Jimy lalu mengacungkan senjata kearah mereka. Membuat Leo dan Marvin mundur teratur.
"Baiklah, kami tidak akan membuat ulah. Turunkan senjatamu". Ucap Marvin merendah. Tidak ingin memprovokasi.
Jimy mendekati Arina lalu menjambak rambutnya hingga kepala Arina mendongak. Ringisan Arina lolos sudah menahan nyeri dikepalanya.
"Kau tidak ada hak berbicara tentang kejahatan Tuan Andrew. Kenapa kau lancang sekali. Apa kau mau mati sekarang juga?". Gertak Jimy. Arina berdecih, entah keberanian dari mana dia bisa membuat Jimy murka.
"Jika aku mati aku akan membawa kalian juga keneraka. Apa kau mengerti? ". Teriak Arina. Jimy lantas mengambil pisau kecil dari balik jas mahalnya lalu dengan perlahan menyayat sisi wajah Arina.
Marvin, Marinka dan Leo menatap tak percaya. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Jimy seperti memiliki gangguan mental.
" Marvin aku takut ". Marinka menggigil melihat semua itu. Seketika Marinka merasa mual melihat darah keluar dari wajah Arina.
" Tenanglah sayang, tutup matamu. Jangan dilihat". Ucap Marvin mencoba menenangkan dari kejauhan.
"Wah, rupanya ada pesta disini". Sebuah suara yang berat tiba-tiba mengisi seluruh ruangan pengap itu.
"Tuan Andrew".ucap Marvin dan Leo bersamaan.
"Senang bertemu kalian". Ucapnya dengan seringai yang menyeramkan.
__ADS_1
******