
Happy reading 🌻🌻🌻🌻🌻
********
Terdengar gemericik air dari kamar mandi. Aroma strawberry menguar diseluruh kamar itu. Aroma yang mengusik indra penciuman Marvin. Marvin mulai tersadar dari tidur singkatnya. Belum juga tiga jam dia sudah terbangun.
Tadi setelah membantu bibi didapur dan melihat papa nya sebentar, lantas Marinka membersihkan dirinya.
Tak lama Marinka keluar dari kamar mandi itu. Dengan wajah yang segar. Marvin mengintip dari balik selimut. Terlihat Marinka berjalan kearah meja riasnya. Mengeringkan rambutnya yang basah, Menyisirnya, kemudian memoles lipbalm pada bibirnya.
Wanita itu tidak perlu dandan berlebihan untuk terlihat cantik.
Marvin merenggangkan otot tangan dan lehernya. Kemudian mendudukkan tubuhnya.
"Kau sudah bangun? Ini bahkan belum 2 jam kau tidur? ". Marinka melihat Marvin kemudian mengarahkan pandangannya pada jam dinding. Marvin hanya mengangguk.
" Apa aku membangunkanmu? ". Tanya Marinka merasa bersalah. Melihat itu Marvin menggeleng cepat.
" Tidak Marinka.. Aku hanya terbangun saja. Tidak ada hubungannya denganmu ". Jawab Marvin kemudian. Dia masih terus menatap Marinka yang terlihat menggemaskan memakai dress rumahan berwarna mustard dengan panjang selutut itu. Juga rambutnya yang setengah basah membuat Marvin tak henti menatapnya.
Di tatap seperti itu membuat Marinka jadi salah tingkah. Marvin lalu berdehem dan mengalihkan pandangannya setelah mengetahui Marinka tidak nyaman.
"Kau butuh sesuatu? ".
" Buat kan aku teh dan sandwich. Aku akan turun setelah mandi ".
" Baiklah... kau mau aku dibuatkan sandwich isian apa? ".
" Tuna... Atau jika tidak ada telur juga tidak apa ". Jawab Marvin.
Marinka mengangguk kemudian keluar dari kamar itu. Marvin kemudian beranjak membersihkan diri.
*****
" pagi papa.... Bagaimana keadaanmu? ". Sapa Marvin setelah menghampiri Tuan Louis .
" Papa sangat baik nak... Bahkan kesehatan papa sepertinya meningkat drastis. Kapan kau datang? Marinka bilang semalam ada pekerjaan mendadak. Jadi Leo menghubungimu,dan membuatmu tidak bisa kesini. Tapi kau memberi papa kejutan pagi ini". Ucapnya perlahan.
" rupanya Marinka sedikit berbohong ". Marvin tersenyum.
" Iya papa, semalam ada pekerjaan mendadak, jadi aku terpaksa menyuruh Marinka datang lebih dulu. Aku datang sudah lewat tengah malam, hampir dini hari".
"Jangan terlalu lelah nak, istirahat lah. Kau jangan sampai merugikan dirimu sendiri. Jagalah kesehatanmu". Tuan Louis menasihati.
__ADS_1
"iya papa, aku mengerti ". Jawab Marvin dengan tersenyum.
Tak lama Marinka terlihat masuk kekamar Tuan Louis, sambil membawa bubur ditangannya.
" Marvin, kau disini? Aku mencarimu sejak tadi. Ternyata kau bersama papa? ".
" Iya aku disini, aku ingin melihat keadaan papa. Ada apa mencariku? ". Jawab Marvin.
" Sarapan mu sudah siap, makanlah dulu. Aku mau menyuapi papa bubur dulu".
"Aku akan menunggumu, kita sarapan bersama ".
" Tapi nanti teh nya dingin Marvin ". Marinka merasa tidak enak membuat Marvin menunggunya.
" Tidak apa Marinka, tak masalah ". Ucap Marvin tersenyum sambil membimbing Marinka untuk duduk ditepi ranjang Tuan Louis.
Tuan Louis yang melihat kedekatan mereka tersenyum tipis.
Dia berharap putrinya bahagia dengan orang yang tepat. Meski dia tau pernikahan ini sulit untuk mereka, tapi baik Marvin ataupun Marinka selalu berusaha menerima dan terlihat menyesuaikan satu sama lain. Kemudian raut sedih tiba-tiba terlihat diwajahnya setelah menyadari ada Dania dalam hidup Marvin. Dia pun tak boleh egois demi mementingkan putrinya.
Lima belas menit kemudian Marinka selesai menyuapkan bubur untuk papanya. Terlihat Marinka begitu tlaten mengurus papanya. Marvin yang melihat itu menjadi sedikit terharu dan emosional karna kedekatan Marinka dan papanya. Setelah itu Marinka berpamitan pada papanya.
"Papa, aku keluar dulu. Nanti bibi perawat akan segera datang memberikan obat untuk papa ".
" Jangan bicara begitu papa, aku tak masalah. Kesehatan papa tetap prioritasku". Jawab Marvin tersenyum.
"Marvin,,, boleh aku meminta sesuatu padamu? ". Seketika tuan Louis berkaca-kaca. Marvin mendekat duduk ditepi ranjang sambil menggenggam tangan Tuan Louis. Marinka seketika mengurungkan niatnya untuk pergi. Dan ikut berdiri disebelah Marvin.
" Katakan papa, tidak perlu meminta begini. Aku juga anakmu bukan ". Jawab Marvin lembut. Tuan Louis pun menghela nafas berat.
" Aku tau pernikahan ini sulit untukmu, mengingat sebelumnya kau punya Dania. Jika memang kau berencana mengakhiri pernikahan ini setelah semua stabil, papa tak masalah. Papa juga tidak bisa memaksakan semuanya padamu. Tapi jika itu memang terjadi, Berjanjilah jangan mengabaikan putriku. Dia tidak punya siapapun selain papa dan bibi elly. Setidaknya berikan dia bekal cukup agar bisa mengelola perusahaan sendiri. Papa sudah seperti ini. Papa takut tidak bisa lama mendampingi kalian ".
Seketika Marinka membeku. Matanya terasa panas. Marvin menggenggam mantap tangan Tuan Louis.
" Aku berjanji padamu papa, apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkannya. Kau bisa pegang janjiku". Ucap Marvin mantap. Membuat Marinka menoleh kearah Marvin. Terasa tak percaya Marvin bisa mengatakan hal itu. Lalu bagaimana dengan Dania nanti.
Tuan Louis tersenyum lega. Marvin lalu memohon diri bersama Marinka. Marvin kemudian berjalan sambil menggenggam tangan Marinka. Kemudian Marinka berhenti, membuat Marvin yang berjalan disampingnya ikut berhenti.
"Ada apa? ". Tanya Marvin tak mengerti.
Marinka berusaha menjawab namun lidahnya kelu.
" Marvin,, kenapa kau membuat janji seperti itu dengan papa..? ". Ucap Marinka sendu.
__ADS_1
" kenapa? Aku hanya ingin membuat pikiran papa tenang. Jangan sampai dia memikirkan hal yang berat. Itu bisa memengaruhi kesehatannya ". Jelas Marvin.
" Tapi kau tak perlu berbohong untuk menenangkannya Marvin ". Ucap Marinka pelan.
"Berbohong apa? Aku tak mengerti Maksudmu". Tatapan Marvin mulai menajam. Membuat Marinka menunduk.
"Bicaralah, apa maksud ucapanmu? ".
" Kau tau hubungan kita ini rumit, Dania masih mengharapkanmu. Dan kau juga tidak bisa lepas darinya. Begitu juga bibi mouli, dia berharap banyak pada hubungan kalian. Jadi jangan membebani hidupmu dengan berjanji pada Papa. Kau tidak perlu berbohong untuk menenangkannya ". Jelas Marinka perlahan.
" Berbohong katamu? Marinka... aku tau hubungan kita ini rumit. Tapi aku tidak pernah main-main dengan pernikahan ini. Aku berusaha menjalani peranku sebagai suamimu untuk bisa melindungimu dan memberimu rasa aman dan nyaman. Meskipun ini sulit tapi aku akan berusaha. Jadi jangan berpikir untuk mengakhiri hubungan ini".ucap Marvin sambil menggenggam kedua tangan Marinka erat. Marinka memberanikan diri menatap Marvin.
"Tapi aku takut bergantung padamu ".
" Tak apa.. Bergantunglah.. Marinka Bergantunglah semaumu. Selagi aku masih bisa kau andalkan, aku tak keberatan". Ucap Marvin tersenyum tulus.
"Bagaimana dengan bibi mouli? Lalu Dania? ".
" Aku tak bisa mengabaikan mereka sepenuhnya untuk saat ini. Bibi mouli sudah seperti ibuku. Tapi kenyataannya adalah kau sudah menjadi istriku. Kau adalah prioritasku. Tapi kumohon jangan berpikiran buruk jika aku sedang bersama Dania. Kita semua butuh waktu. Yang jelas aku akan berusaha mendahulukanmu sebisaku ". Jelas Marvin.
" Trimakasih... ". Ucap Marinka terharu.
" Hmmm... Asal satu hal,, jangan menghianatiku. Kau tau aku tidak suka kebohongan apapun. Aku tidak akan mentolerirnya. Karna aku yakin kau juga belum menerima ku sepenuhnya kan? ".
Marinka mengangguk.
" Aku mengerti.. ".
" Bagus... Bolehkah aku memelukmu? ".
" a-apa...? ".
" Sebagai suamimu... ". Ucap Marvin tegas...
Marinka membeku...
Haruskah.........
**************
Jangan lupa like dan komen yaa....
Terimakasih sudah mampir 😍😍😍
__ADS_1