Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
36. Bahagia ataukah berduka?


__ADS_3

Marinka melangkah ragu memasuki satu ruangan disebuah rumah sakit. Dia berniat akan melakukan USG untuk mengetahui apakah dirinya hamil atau tidak. Pagi tadi dia telah melakukan tes kehamilan dan ada dua garis samar disana. Dia belum berani menyimpulkan apa-apa.


"Silahkan masuk nyonya Marinka. Silahkan duduk. Dokter Briyan sudah memberitahu maksud kedatangan anda".ucap dokter Amelia ramah.


"Trimakasih banyak Dokter". Ucap Marinka tak kalah ramah.


"Silahkan anda berbaring diranjang itu nyonya ". Ucap dokter Amelia sambil menunjuk pada ranjang disudut ruangan itu. Marinka kemudian berbaring dan dokter Amelia mulai mengoleskan gel dingin diperut Marinka. Kemudian dokter itu tersenyum.


" Iya nyonya, anda sedang hamil. Usianya sekitar enam minggu ". Ucap dokter Amelia bersinar.


" Benarkah? Apa anda yakin? ". Tanya Marinka tak percaya.


" Iya nyonya, saya yakin. Dia masih terlalu kecil. Mungkin sebesar biji kacang. Lihatlah! ". Seru dokter Amelia tak kalah bahagia.


" Iya.. Aku melihatnya. Dia sangat kecil sekali ". Ucapnya haru. Matanya pun sudah berkaca-kaca. Andai Marvin ada disini, apakah dia akan sebahagia Marinka. Melihat buah hatinya tumbuh diperutnya. Merasakan keberadaannya yang membuat Jantungnya berdetak cepat. Marinka akan menjadi ibu.


Beberapa waktu lalu Marinka menghubungi Marvin. Memintanya menemani kedokter tapi kata Marvin dia sedang ada pertemuan dan akan menemaninya kedokter sore hari saja. Akhirnya Marinka mengalah memilih berangkat dahulu tanpa memberitahukan maksud dirinya mengajak Marvin kedokter . Toh jika benar dia hamil, kabar ini nantinya bisa ia sampaikan pada Marvin dirumah.


Saat sedang berbincang dengan dokter Amelia, dokter Briyan pun ikut memasuki ruangan. Marinka sudah duduk bersebrangan dengan dokter Amelia. Hanya meja yang menjadi penghalang mereka.


"Bagaimana Marinka? Apa keponakanku sudah tumbuh disana? ". Kelakarnya sambil menunjuk kearah perut Marinka. Marinka pun tersenyum bahagia.


" Menurutmu bagaimana Briyan? ". Tanya Marinka berbinar.


" Jika kulihat dari binar diwajahmu sudah dapat kupastikan dia sudah tumbuh disana. Aku ucapkan selamat dan jaga dia baik-baik. Ya Tuhan aku senang sekali. Akhirnya kalian memutuskan untuk serius menjalani hubungan kalian ". Ucap Briyan berkaca-kaca.


" Kenapa kau menjadi emosional dokter Briyan? ". Goda dokter Amelia.


" Entahlah dokter Amelia, sepertinya aku orang yang turut bahagia disamping kedua orang tuanya ". Ucapnya tersenyum sambil menyeka bulir bening disudut matanya. Membuat dua wanita didepannya tertawa.


" berapa umurnya? , lalu bagaimana perasaanmu? ". Tanya Briyan antusias.


" Dia baru berumur enam minggu, tentang perasaanku,, entahlah aku tidak bisa berkata apapun Briyan. Andai Marvin ada disini ". Ucap Marinka sambil menangis haru.


" Aku mengerti, kemana Tuan sok sibuk itu? ".


" Aku sempat menghubunginya, tapi dia sedang ada pertemuan penting. Aku bisa pahami itu ". Ucap Marinka tersenyum getir.


" Oh ayolah jangan bersedih, dia sedang menggali berlian untuk kalian berdua. Dan kau tau itu kan? ". Ucap Briyan membesarkan hati Marinka. Marinka hanya bisa mengangguk.


" Bagaimana jika kuantar pulang? ".


" Tidak perlu, aku membawa mobil ". Tolak Marinka halus.


" Bagaimana tekanan darahnya? ". Tanya Briyan pada dokter Amelia.


" Mmm.. Sedikit rendah, sebenarnya tidak disarankan mengendarai mobil seorang diri. Karna dia kadang merasa pusing mendadak dan lemas". Ucap dokter Amelia berhati-hati.


" Kau dengar itu, jadi biarkan aku menjaga keponakanku. Berhubung pekerjaanku sudah selesai ". Tawar ya lagi.

__ADS_1


" Baiklah,, terserah kau saja ". Marinka mengangguk setuju.


Mereka berdua akhirnya berpamitan dengan dokter Amelia. Lalu berjalan melewati koridor rumah sakit sambil berbincang. Tak sengaja sudut mata Marinka menangkap sosok yang ia kenal. Secepat kilat dia menarik Briyan untuk bersembunyi.


"Kenapa? Ada apa? ". Tanya Briyan bingung. Tapi setelah mengikuti arah pandangan Marinka akhirnya dia tau yang terjadi.


Terlihat Marvin sedang berjalan dengan seorang wanita yang bergelayut manja dilengannya. Bibirnya tersungging senyum bahagia. Wanita itu tentu saja Arina. Briyan yang melihat itu hanya bisa menunduk.


" Marinka, apa kau baik-baik saja? ". Pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja dari mulut Briyan. Marinka hanya mengangguk dan tersenyum yang dipaksakan. Terlihat dia sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak menangis.


" Briyan.. Aku ingin pulang sendiri. Tidak usah mengantarkanku ". Kata Marinka.


" Tapi itu sangat berbahaya. Biarkan aku mengantarmu ". Bujuk Briyan.


" Aku mohon untuk kali ini jangan memaksaku Briyan. Dan satu lagi, jangan pernah katakan soal apapun pada Marvin. Termasuk kehamilanku ". Marinka memohon.


" Apa kau yakin? Baiklah jika kau memaksa. Hati-hatilah ". Ucap Briyan melepas kepergian sahabatnya.


Marinka lalu melajukan mobilnya perlahan, entah kenapa rasanya begitu menyakitkan. Dia bilang sedang ada rapat, tapi jelas-jelas dia menemukannya dirumah sakit yang sama.


Marinka menghela nafas panjang. Airmatanya sudah jatuh sejak dia keluar dari pelataran rumah sakit.


*********


Marinka memutuskan untuk pulang. Tidak kembali kekantor. Karna tiba-tiba dia merasa pusing dan lemas. Dia merebahkan dirinya diranjang. Memijit pelipisnya yang sesekali berdenyut.


Ceklek....


"Apa kata dokter? Kau sudah memeriksakannya? ". Tanya bibi Mouli penasaran kemudian duduk diranjang. Marinka ikut duduk dan bersandar pada headboard.


" Hanya kelelahan bibi, dokter memintaku untuk berisirahat ". Ucap Marinka berbohong. Bibi Mouli menatap tajam. Tidak percaya pada ucapan Marinka.


Pandangan bibi Mouli tertuju pada sling bag yang tergeletak didekat Marinka. Dengan cepat bibi Mouli menarik dan membukanya.


" Bibi apa yang bibi lakukan ". Ucap Marinka panik mencoba meraih tasnya. Namun bibi mouli menghindarinya. Terjadi perebutan disana tapi bibi Mouli yang menang. Tubuh Marinka terlalu lemas untuk melawan bibinya itu.


" Ini apa? Kau mau menyembunyikan ini dariku? ". Ucap bibi sambil memperlihatkan hasil USG Marinka.


" Maafkan aku bibi, bukan begitu maksudku. Aku hanya mencari waktu yang tepat ". Marinka terduduk menunduk.


" Apa karna beberapa waktu lalu kita sempat berselisih jadi kau tak percaya padaku? ". Kata bibi Mouli meninggi.


" Demi Tuhan bibi, aku tidak berfikir begitu ". Marinka mulai terisak.


" Kita memang pernah berselisih, hubungan kita sekarang pun tak sehangat dulu. Tapi aku tetap ibumu. Jangan rahasiakan apapun ". Tegas bibi. Marinka mengangguk.


" Aku mengerti bibi. Maafkan aku ". Ucap Marinka menyesal.


" Mari kita mulai dari awal". Marinka hanya mengangguk.

__ADS_1


" Kau mau makan apa, bibi bisa buatkan untukmu. Kau pasti belum makan ". Bibi Mouli melembut.


" Terimakasih bibi, tapi aku belum lapar ".


" Kau tau Marinka Aku dan suamiku menantikan momen seperti ini. Tapi nyatanya momen itu tidak pernah datang padaku. Hingga akhirnya kami menemukan Marvin. Dan aku sangat bahagia kalian akan memiliki seorang bayi ". Jelas bibi Mouli berkaca-kaca.


" Aku mengerti bibi. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud menyembunyikan ini dari bibi". Ucap Marinka lembut sambil menggenggam tangan bibinya.


" Apa Marvin sudah tau? ".


Marinka menggeleng.


" Bukankah dia bersamamu, mengantarmu kerumah sakit? ". Tanya bibi Mouli penuh selidik. Sekali lagi Marinka menggeleng.


" Bibi, aku mohon jangan memberitahu Marvin. Biar aku saja ". Ucap Marinka pelan.


" Ada apa? Apa ada masalah? Katakanlah. Aku siap mendengarkan".


Akhirnya mau tak mau Marinka menceritakan semua permasalahan yang dialaminya tanpa terkecuali. Termasuk tentang Arina. Sebenarnya bibi Mouli sudah mengetahui sedikit banyak tentang Arina. Tapi dia memilih untuk diam dan menyerahkan semua kepada Marinka. Bibi Mouli tidak mau terlalu ikut campur urusan mereka. Yang menjadi prioritasnya sekarang adalah kandungan Marinka.


"Baiklah terserah kau saja. Sepertinya Marvin pulang. Aku akan melihatnya dahulu ". Ucap bibi Mouli sambil menyerahkan hasil USG kemudian berlalu dari kamar itu.


Tak berselang lama Marvin pun memasuki kamar. Senyum manis terpancar dari wajahnya sejak dia memasuki kamar.


" Kau sudah pulang? ". Sapa Marinka dengan senyum terbaiknya.


" Seperti yang kau lihat. Bagaimana keadaanmu. Apa kau jadi kedokter? ". Ucapnya lembut sambil memeluk Marinka.


" Aku baik-baik saja. Aku hanya membeli obat saja tadi. Dari mana kau tau aku dirumah? ".


" Aku menghubungi catty tapi dia bilang kau sedang keluar. Aku berfikir kau pulang istirahat dan ternyata benar". Ucap Marvin gembira.


"Kau terlihat bahagia sekali hari ini. Apa terjadi sesuatu? ". Tanya Marinka berusaha menormalkan mimik wajahnya yang tegang.


" Entahlah,, ada sesuatu yang membuatku senang. Tapi aku juga tidak mengerti apa itu. Jantungku terasa berdetak tak beraturan ". Ucap Marvin sedikit bingung.


Mungkin kehadiran janin yang ada diperut Marinka yang mempengaruhinya. Tapi tidak menurut Marinka. Dia berfikir Marvin bahagia karna telah menghabiskan waktu dengan Arina. Marinka hanya bisa tersenyum getir dalam pelukan suaminya.


"Oh ya apa saja yang kau lakukan hari ini ". Tanya Marinka perlahan sambil membuat pola abstrak didada Marvin.


" Tidak ada, hanya melakukan pertemuan. Kemudian aku pulang karna sangat merindukanmu ". Ucap Marvin sambil mengecup puncak kepala Marinka. Entah mengapa hati Marinka berdesir ngilu.


" Bersihkan dirimu. Aku akan menyiapkan makanan untukmu ". Ucap Marinka dibalas anggukan Marvin. Kemudian dia berjalan menuju kamar mandi.


Marinka menutup mulutnya agar suara tangis ya tak terdengar.


" Sampai kapan Marvin? ".


************

__ADS_1


Jangan lupa Like nya ya.. Terima kasih yang udah dengan suka rela tap JEMPOL.


__ADS_2