Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
54. Kembali Terusik


__ADS_3

"Selamat pagi sayang". Ucap Marvin sambil mendaratkan ciuman dipuncak kepala Marinka.


"Selamat pagi ". Jawab Marinka tak bersemangat. Marvin mengerutkan keningnya. Melihat keanehan pada wajah Marinka yang tak bersemangat. Wajahnya pun sedikit pucat.


" Ada apa denganmu? Kau tak bersemangat sekali? ". Tanya Marvin khawatir.


" Entahlah Marvin, aku merasa tidak enak badan. Rasanya lemas sekali ". Ucap Marinka.


Marvin yang pagi itu sudah terlihat setengah rapi segera duduk disisi ranjang Marinka. Mencoba memberikan pijitan dikepala istrinya.


" Kenapa pagi-pagi kau sudah rapi? Kau mau kemana? ". Tanya Marinka.


" Semalam aku kan sudah bilang, ada pertemuan penting dengan klien. Kau istirahatlah dulu, jangan pergi bekerja. Sudah dua bulan ini kau bekerja terlalu keras. Kau sampai lupa istirahat. Biar aku nanti membantumu. Lagi pula ada catty disana bukan? ". Ucap Marvin.


" Tapi hari ini aku sudah ada janji. Aku tidak bisa membatalkan begitu saja. Dia sudah jauh-jauh dari luar kota ". Ucap Marinka malas.


" Baiklah, istirahatlah sebentar, aku buatkan sarapan untukmu ".Marvin mengusap lembut kepala Marinka lalu bergegas keluar membuat sarapan. Tak lama terdengar dering Ponsel Marinka.


" Ya Bibi, ada apa? ".


"..."


"Apa! ".


********


Terdengar langkah kaki setengah berlari. Marinka menghampiri Marvin yang sedang sibuk membuat sarapan didapur.


" Marvin ".


Marvin yang terkejut melihat raut wajah Marinka yang semakin pucat menjadi lebih khawatir.


" Sayang, ada apa? ". Tanya Marvin sambil menghampiri Marinka lalu mengajaknya duduk disofa.


" Ada apa Tenanglah ". Ucap Marvin sambil mengusap punggung Marinka.


" Papa.. Baru saja bibi mengabari kalau papa masuk rumah sakit. Pagi ini tiba-tiba kesehatannya menurun drastis. Aku harus segera kerumah sakit ". Ucap Marinka gemetar.


" Baiklah, aku mengerti. Kau Bersihkan dirimu. Aku akan mengantarmu ". Ucap Marvin lalu Marinka bergegas mandi.


******


Marinka dan Marvin bergegas menyusuri lorong rumah sakit. Mereka tidak sabar segera mengetahui keadaan orang tua mereka. Ini seperti de javu saat Tuan Louis mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu.


Dari jauh Marinka sudah bisa melihat ketiga keluarganya. Bibi elly, bibi mouli dan paman Mike.

__ADS_1


"Paman, Bibi, apa yang terjadi? ". Tanya Marinka berderai.


" Entahlah sayang awalnya papamu tidak apa-apa. Tapi setelah dia menerima telepon tiba-tiba saja dia pingsan ". Jelas bibi elly.


" Siapa yang menelpon Bibi? ". Tanya Marvin penuh selidik.


" Bibi juga tidak tahu Marvin. Sebuah private number".jelas bibi Elly.


"Tenanglah sayang, tidak akan terjadi apa-apa dengan papamu Nak ". Ucap bibi Mouli sambil menggenggam lembut tangan Marinka.


" Bibimu benar, kau jangan khawatir ". Ucap Tuan Mike ikut menenangkan.


Marvin mengusap kasar wajahnya. Beberapa bulan ini hidupnya sangat tenang dan damai. Dia memiliki apa yang dia inginkan. Keluarga yang bahagia. Ayah, ibu, istri semua hampir lengkap. Namun pagi ini dia merasa ada seseorang yang kembali mengusiknya.


Tiba-tiba Ponsel Marvin berdering. Dengan cepat dia merogoh saku celananya. Ada nama Arina disana. Marvin lalu menolak panggilan itu. Kemudian memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya.


"Ada apa dengan Arina. Kenapa menghubungiku disaat yang tidak tepat ".


" Marvin, telepon dari siapa? ". Tanya Marinka.


" Tidak penting. Jangan khawatir ". Ucap Marvin sambil tersenyum.


" Mungkin itu salah satu klien yang akan kau temui nanti. Kau bekerjalah, aku tak apa disini dulu. Aku akan menghubungi Catty untuk mengatur ulang jadwalku".


"Aku akan menunggu hasil pemeriksaan dokter dulu. Baru aku akan pergi ".Ucap Marvin lembut sambil mengusap lengan Marinka memberinya dukungan penuh.


" Bagaimana keadaan papa dokter? ".


" Sudah membaik untuk saat ini tapi pasien belum sadar. Perlu diperhatikan bahwa pasien tidak boleh stres. Sepertinya ada yang membuatnya syok. Jadi saya harap pasien jangan dikejutkan dengan berita atau keadaan yang membuat dirinya berpikir terlalu keras". Kata dokter itu lalu pergi.


"Baiklah Marinka, aku akan pergi bekerja dulu. Nanti aku akan kesini lagi. Paman Bibi aku titip Marinka sebentar ". Pamit Marvin lalu pergi meninggalkan rumah sakit.


*******


" Kenapa kau sampai terlambat? ". Tanya Leo.


" Papa Louis tiba-tiba saja harus dilarikan kerumah sakit. Dan aku harus mengantar Marinka dulu kesana ". Jelas Marvin.


" Kenapa tiba-tiba begitu? Apa sebelumnya memang sakit? Tapi kudengar akhir-akhir ini kesehatannya membaik ".


" Entahlah, bibi Elly bilang pagi tadi pada menerima telepon dari seseorang. Lalu tiba-tiba papa pingsan ".


" Kira-kira apa yang orang itu katakan pada paman Louis? ".


" Entahlah Leo, aku merasa ada yang mulai mengusikku ". Marvin mencoba berpikir.

__ADS_1


" Oh iya, tadi Arina berkali-kali menghubungiku. Ada apa dengannya? Kenapa menghubungi disaat yang tidak tepat ".


" Entahlah aku juga tidak tahu ".


" Apa dia sudah mau bercerita tentang masalahnya kemarin? ". Tanya Marvin penasaran.


" Ah iya.. Mm... Itu... Belum ". Jawab Leo gugup.


" Maafkan aku Marvin, tapi ini terlalu berbahaya, aku belum bisa bercerita yang sebenarnya ". Batin Leo.


" Baiklah, mungkin dia belum siap ".


" Aku rasa begitu ".


" Siang ini aku akan pulang cepat, tapi aku akan melihat Arina dulu sebelum kerumah sakit. Dia berkirim pesan katanya ada sesuatu yang penting dan menyuruhku kesana ".


" Baiklah, tak masalah ".


***********


Arina mondar mandir didalam apartemennya. Dia mendapat telepon misterius pagi tadi. Penelpon itu mengatakan akan membuat Marvin kehilangan keluarganya satu per satu. Itu membuat Arina tidak tenang seharian. Dia takut terjadi sesuatu dengan Marvin.


Pintu terbuka dan Marvin memasuki apartemen itu. Lalu bergegas mendatangi Arina.


"Ada apa? Kenapa terus menghubungiku? ". Tanya Marvin tanpa basa-basi. Lalu pria itu menjatuhkan tubuhnya disofa. Waktu menunjukkan sudah hampir petang. Dan dia sudah terlambat kerumah sakit karna pekerjaannya yang menumpuk. Harusnya saat ini dia sudah berada dirumah sakit bersama Marinka. Mengingat Marinka tadi pagi tidak enak badan membuat Marvin semakin khawatir.


Arina yang melihat Marvin telah berada diapartemennya merasa lega.


" Syukurlah kakak datang. Aku sangat takut sejak pagi. Aku mendapat telepon misterius kak. Dia bilang akan membuat kak Marvin kehilangan segalanya. Aku tidak tahu siapa mereka ". Ucap Arina gugup.


" Siapa yang berani memberi ancaman seperti itu ". Ucap Marvin mulai gelisah. Apalagi dia teringat bahwa papa Leo masuk kerumah sakit juga gara-gara telpon misterius.


" Berhati-hatilah kak, juga Marinka. Jangan biarkan dia pergi terlalu jauh. Aku curiga pada seseorang. Aku takut Jimy mulai gila karna tidak berhasil menemukanku dan menjadikan kau sasarannya. Dia itu psyco ". Ucap Arina sedikit bergidik ngeri.


" Baiklah.. Aku berterima kasih padamu. Aku harus segera pergi. Ada sedikit masalah dirumah dan Marinka membutuhkanku. Dan kau jangan pikirkan apapun. Biar aku yang mengurus semuanya ".


" Baiklah, cepatlah pulang. Jangan sampai Marinka berpikir macam-macam kak ". Ucap Arina.


" Baiklah aku pergi dulu ". Arina mengantar Marvin sampai kepintu. Dan saat pintu terbuka Marvin dan Arina dikejutkan oleh kedatangan seseorang.


Seketika Arina dan Marvin membeku. Wajah mereka pucat dan bibir mereka pun kelu. Tak bisa berkata apapun.


" Jadi seperti ini? ".


********

__ADS_1


Kira-kira siapa yang dateng?


__ADS_2