
Sejak pagi suasana rumah Marvin begitu ramai. Hari ini mereka akan mengadakan pesta ulang tahun yang pertama untuk anak mereka. Si tampan Nick dan secantik Naina .
Marvin akhirnya membeli rumah besar yang lengkap dengan taman bermain dibelakangnya. Marvin benar-benar menginginkan keamanan dan kenyamanan nomor satu untuk anak-anaknya.
Acara ini hanya dihadiri oleh teman dekat saja. Mungkin hanya Leo, Arina, Thomas dan Emily. Sedangkan bibi Elly, bibi Mouli dan paman Mike sedang berlibur keluar negeri.
"Apakah kami terlambat?". Sapa sebuah suara yang ternyata adalah Thomas yang datang bersama Emily.
"Ah.. Lihatlah siapa yang datang sayang". Teriak Marinka berbinar saat mengetahui Emily datang lebih awal.
"Bagaimana kabarmu Marinka?".
"Aku sangar baik. Bagaimana denganmu? Aku dengar kau kembali mengandung?". Marinka sedikit hati-hati bertanya. Lalu memeluk hangat wanita yang pernah menjadi rivalnya itu.
"Kau benar, dan ini masih terlalu dini untuk diceritakan. Kandunganku masih berumur lima minggu". Ucap Emily penuh haru.
"Astaga, aku sangat senang mendengarnya. Sekali lagi selamat untuk kalian". Ucap Marinka tulus. Marinka kemudian mengurai pelukannya.
"Bagaimana kabar bibi Julia?". Tanya Marinka kemudian. Tapi baik Emily maupun Thomas masih berpikir untuk menjawab.
"ibuku masih seperti biasanya. Masih murung setiap harinya. Mungkin dia merindukan ayahku". Jawab Thomas kemudian.
"Aku turut prihatin. Tapi aku tidak bisa berbuat apapun. Semua diluar dugaan kita. Dan kau tahu itu". Ucap Marinka ikut prihatin. Marinka menepuk lengan Thomas.
"Aku tahu, tapi setidaknya itu hukuman setimpal untuk papa. Jika saja dia tidak bekerja sama dengan Tuan Andrew untuk mencelakaimu, mungkin semuanya tidak akan terjadi". Jelas Thomas. Emily hanya menepuk pundak suaminya itu untuk membesarkan hatinya.
"Aku berharap dia sudah bebas saat anak ini lahir. Dia sangat menginginkan seorang cucu". Harap Emily dengan mata berkaca-kaca.
"Semoga. Kita hanya bisa berdoa". Ucap Marinka tulus.
"Kalian sudah lama?". Sapa Marvin yang baru saja turun dengan membawa kedua anak mereka dikanan kirinya. Marvin sedikit kerepotan tapi dia menikmatinya. Padahal ada dua pengasuh disana.
"Belum terlalu lama".jawab Thomas. "hay jagoan, ayo kita bermain". Thomas antusias mengajak Nick bermain. Nick pun sangat senang dan tak menolak saat Thomas mengulurkan tangan untuk mengggendongnya. Sedangkan Naina langsung menangis karna ingin ikut ibunya.
__ADS_1
"Kemarilah sayang, kau rindu mommy bukan?" ucap Marinka lalu menyambut putri kecilnya yang sangar lucu dengan rambut yang dikucir dua itu. Lengkap dengan poni cantiknya.
"Kau sangat berlebihan, bahkan sejam yang lalu kau masih bersamanya." ucap Marvin sambil mendaratkan kecupan singkat disisi wajah Marinka.
Thomas dan Emily yang melihat itu turut bergembira. Pasalnya mereka telah melalui banyak hal hingga sampai pada saat ini.
"oh iya, kemana Leo? Kenapa dia belum datang juga?" Tanya Marinka pada suaminya.
"mungkin sebentar lagi. Dia mengatakan sudah dalam perjalanan."
"Baiklah kita akan menunggu." ucap Marinka.
Akhirnya mereka semua sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing. Thomas akan segera memiliki anak bersama Emily. Marvin dan Marinka sedang sangar bahagia menikmati peran mereka sebagai orangtua. Sedangkan Leo tetap menikahi Arina bahkan tanpa persetujuan orangtuanya. Dan Leo sampai berani keluar dari rumah juga mengundurkan diri dari perusahaan keluarganya.
"Kami datang." suara Arina sangat lembut terdengar dari balik pintu utama. Semua orang menyambutnya.
"Apa kalian sudah lama?" Tanya Leo pada Thomas.
"Baiklah kita mulai makan malam ini. Biar aku menyiapkannya." ucap Marinka lantas memberikan Naina pada Marvin.
"Aku akan membantumu." Emily dan Arina lantas mengikuti arah kaki Marinka menuju dapur. Untuk menyiapkan makan malam suami mereka.
Dalam ulangtahun sikembar ini Marinka memang sengaja tidak mengundang siapapun kecuali keluarga mereka. Dan Leo juga Thomas lah keluarga mereka.
Marinka tidak terlalu suka keramaian. Sejak kecil dia hanya hidup dilingkup yang kecil dan itu sangat mempengaruhi pola pengasuhan Marinka terhadap kedua anaknya.
Dia menerapkan hal yang sama karna sangat ingin melindungi Nick dan Naina. Meskipun Marvin sangat keberatan dia pun tidak bisa apa-apa karna semua kendali dirumah adalah Marinka. Tugas Marvin hanya bekerja dan membahagiakan Marinka dan sikembar.
"Bagaimana kabarmu Arina? Selamat atas pernikahanmu. Maaf aku tidak sempat datang karna waktu itu aku masih kerepotan dengan sikembar." Ucap Marinka.
"Terimakasih banyak Marinka, aku senang kau masih peduli padaku. Kabar ku baik, dan kami sangat bahagia." Ada titik kesenduan yang Marinka tangkap dari senyum tipis Arina. Bahkan senyuman itu nyaris tak terlihat.
"Kau yakin kau baik-baik saja? Maaf tapi aku hanya ingin berusaha membuatmu nyaman. Kau tahu kita memang bukan teman baik. Tapi aku bisa menjaga rahasia. Kau bisa bercerita padaku lain waktu jika kau membutuhkan teman." Senyum Marinka sangat tulus. Dia ingin memulai semua dari awal. Toh Arina sudah menikah dengan Leo. Sedangkan dirinya sudah memiliki keluarga bahagia bersama Marvin.
__ADS_1
"Kita bisa memulai dari awal sekarang. Akupun juga ingin menjalin pertemanan dengan kalian." Ucap Emily.
"Baiklah kita sekarang berteman, jangan berpikir hal yang buruk lagi." Ucap Marinka.
"Astaga lihat dia Arina, bukankah yang punya pikiran buruk diantara kita hanya dia seorang. Dan dia berani menasihati kita. Berkacalah!" wajah Emily berpura-pura kesal.
"Kau benar Emily." jawab Arina terkekeh. Lalu keduanya tertawa lepas.
"Astaga kalian berkomplot untuk membuatku." Ucap Marinka seolah kesal. Akhirnya tawa ketiganya pecah juga.
"Setahun lagi kita akan sering berkumpul bersama ditaman." Ucap Emily bahagia.
"Untuk apa?" Tanya Marinka bingung.
"Kau ini lambat sekali, sebentar lagi aku punya anak, kemudian Arina juga. Dan jika bayi-bayi itu lahir kedunia, maka kita akan sering berjalan-jalan dengan mereka bukan? Ah aku tak sabar." Ucap Emily berbinar sambil mengusap rata perutnya.
"Astaga Emily itu masih lama. Kau ini." Marinka tertawa lebar. Namun tidak dengan Arina. Perempuan itu lantas terlihat murung.
"Hey, kau kenapa? Kenapa bersedih? Apa ucapanku menyakitimu?" Marinka panik melihat Arina meneteskan airmata.
"Ayolah, ucapan kami yang mana yang membuatmu sedih." Emily pun ikut khawatir. Dua wanita itu lantas mendekati Arina yang tampak bersedih.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya terharu." Arina menyusutkan airmata disudut matanya.
"Kau jangan bohong, aku tidak mau jika Leo marah padaku." Marinka terus saja mendesak Arina agar jujur.
"Tenanglah, aku hanya sedang bahagia. Aku terharu. Aku dulu tidak memiliki siapapun. Bahkan siapa orangtuaku pun aku tidak tahu. Tapi sekarang aku punya kalian. Aku merasa seperti punya sebuah keluarga. Dan aku sangat bahagia." jelas Arina.
"Sukurlah kalau begitu. Kau membuatku panik."
'Aku tidak ingin kalian ikut bersedih karna keadaanku, cukup aku saja yang tahu.' batin Arina.
______
__ADS_1