
Semenjak tanggal pernikahan nya di tentukan Azmi terlihat sangat pendiam di rumah nya maupun saat dia berada di kantor.
Thasya menyadari perubahan azmi, Ia juga kerapa kali menanyakan ke pada azmi perihal perubahan sikap nya itu. akan tetapi azmi tidak pernah memberikan satu jawaban pun ke pada Thasya.
Thasya semakin khawatir dengan sikap azmi yang berubah jadi dingin itu. Diam - diam Thasya menyelidiki azmi mengapa Ia sampai berubah.
Dalam tiga hari Thasya sudah menemukan jawaban atas ke khawatiran nya mengenai Azmi.
Thasya mendapatkan informasi itu dari orang yang berhubungan langsung dengan keluarga Azmi yakni Paman nya Azmi, Adik kandung dari ummi nya Azmi.
Thasya merasa syok mendengar tentang pernikahan Azmi yang di selenggarakan sebentar lagi
"pantas saja Mas Azmi berubah akhir - akhir ini, ternyata Dia akan menikah!"
Thasya yang kala itu di sulut rasa cemburu menghempaskan beberapa file kelantai. file- file itu kini berserakan di lantai, kebetulan ada seorang pegawai lain nya yang melihat thasya dan file - file yang berserakan itu. pegawai itu menghampiri Thasya, Ia mencoba membantu Thasya membereskan file - file itu.
Thasya tidak memandang pegawai itu bahkan Ia tidak mengucapkan terima kasih karna sudah membantu nya. Ia begitu saja berlalu meninggalkan pegawai itu.
" Thasya! Apa - apaan kamu ini ha!" suara azmi terlihat lantang!
"maaf pak saya tidak sengaja..."
" tidak sengaja kamu bilang!!! kamu tau tidak kalau kontrak itu sangat berarti untuk perusahaan ini?"
" iya pak, saya tau"
" lalu?!" wajah Azmi merah padam.
Ia begitu emosi karna saat miting dengan perusahan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan nya, Thasya malah menghilangkan surat kontrak nya. sementara tidak ada waktu lagi untuk membuat salinan nya.
karena keteledoran Thasya, Perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan milik Azmi kini membatalkan kontrak kerja sama nya, Mereka merasa perusahaan yang di pimpin oleh Azmi itu tidak sungguh - sungguh menjalin kerjasama.
Azmi emosi, Ia memarahi Thasya yang kini tengah menangis sesegukan di dalam ruangan Azmi.
" sudahlah lupakan!" ujar azmi yang kini mulai meredam emosi nya, Ia tidak tega melihat wanita yang Ia cintai menangis.
" Mas, maafin Aku, tadi aku benar tidak sengaja!" tutur thasya dengan suara lirih.
" ya sudahlah, Aku udah maafin kamu"
" makasih Mas!"
" Thasya, selama ini kamu tidak pernah melakukan kesalahan tapi mengapa hari ini kamu sangat mengecewakan?"
tanya Azmi dengan nada yang lembut.
kini amarah nya hilang berganti dengan kelembutan. Azmi menyurh Thasya duduk di kursi yang bersebrangan dengan nya karena sedari tadi Thasya hanya berdiri ketika di marahi oleh azmi.
Sebenarnya Thasya ingin sekali berkata lantang, akan tetapi Ia urungkan niat nya karena masih di kantor.
Dengan jantung yang berdebar - debar serta kekecewaan yang mendalam, dengan lirih Ia mencoba memberitahukan hal apa yang membuat nya sampai melakukan keteledoran itu.
__ADS_1
" Mas, apa mas mencintai aku?" tanya thasya seraya menatap mata Azmi dengan sendu.
Pertanyaan itu bagai petir yang menyambar kepala Azmi.
Azmi teringat akan pernikahan nya yang sebentar lagi akan di laksanakan
Ia begitu kesal karna tidak bisa menolak pernikahan itu...
" Thasya, Aku ngak tau mau ngomong apa"
" kenapa? karna pernikahan nya Mas?!" Thasya mulai geram.
" jadi kamu sudah tahu! Maafkan Aku Thasya"
" Mas! Apa kurang nya aku di banding wanita itu?!" thasya mulai meninggikan nada bicara nya, " apa aku kurang cantik? begitu!" lanjut nya kembali.
" Maafkan Aku thasya? Aku mau menikah itu ada alasan nya, bukan karna kamu tidak cantik atau apalah!
intinya sebentar lagi Aku akan menikah
jadi lebih baik kamu lupakan Aku!"
" Mas!"
" sudahlah! jagan bahas ini lagi, lebih baik kamu sekarang pulang karna ini sudah waktunya jam pulang" ujar Azmi seraya melirik Arloji yang melekat di lengan nya.
tidak dapat di pungkiri bahwa Azmi sangat mencintai Thasya namun disisi lain ada orang tuanya yang tidak mungkin Ia bantah. Kedaan sungguh membuat nya dilema seperti memakan buah simalakama.
****
****
Di salah satu Mesjid terbesar di kota itu tengah berlangsung Akad nikah Azmi dan Aini.
tidak banyak tamu yang datang hanya kelurga dan beberapa kerabat saja yang di undang, sesuai dengan permintaan Azmi dan keluarga nya.
Karna sejauh yang mereka yakini menikah itu bukan ajang mempertontonkan pasangan pengantin
hingga kerap sekali orang akan mengadakan pesta pernikahan yang mewah dan mengundang orang banyak.
keluarga Hamid tidak ingin melanggar nilai agama yang selama ini mereka yakini.
proses akad nikah berjalan lancar terlihat keluarga Azmi dan keluarga Aryo sangat bahagia...
di sisi lain Aini merasa cemas karna dari awal perjumpaan nya dengan Azmi tidak pernah mereka saling berbicara. bahkan setelah acara ijab kobul selesai Azmi tetap saja bersikap dingin.
Azmi hanya bisa sesekali melepas senyum nya jika ada orang yang menyalami nya memberikan selamat atas pernikahan nya.
" Azmi!"
" ya Abi?"
__ADS_1
" Abi sudah membelikan rumah untuk kalian berdua, Abi harap kalian sukak"
" terima kasih Abi" jawab Azmi dengan nada datar"
" baiklah berhubung ini sudah malam sebaiknya kita pulang!" ujar aryo dan di angguki oleh Nadia.
" Kamu benar Aryo, sebaik nya kita beri kesempatan untuk pangantin baru kita ini beristirahat" balas Hamid menggoda Anak nya itu.
mereka semua tertawa mendengar ucapan Hamid. semua orang di sana mengerti maksud perkataan nya. kecuali Aini, Ia begitu polos yang Ia tahu saat ini Ia butuh istirahat karna tubuh nya benar benar lelah.
Akhirnya merekapun pulang kerumah masing - masing.
begitupula Azmi dan Aini, meskipun Azmi sempat kebertan untuk pulang kerumah baru nya yah..! apa boleh buat lagi- lagi Ia tidak bisa berkutik dengan permintaan orang tua nya itu.
****
****
sebuah rumah mewah dikawasan Elit, Azmi memarkirkan mobil nya di pelataran parkir.
Azmi dan Aini masuk dalam rumah itu. Aini sangat kesusahan bergerak karena kebaya pernikahan yang Ia kenakan begitu panjang Azmi yang melihat hal itu mencoba menolong nya. dan sampailah mereka kedalam ruangan yang cukup mewah sejenak Aini terbelalak memandang isi ruangan itu.
Ia teringat rumah nya yang ada di desa, kalau di bandingkan bagai bumi dan langit.
Azmi tidak memperdulikan Aini, Ia naik kelantai dua mencari kamar yang cocok dengan nya.
Aini mencoba mengekori nya dari belakang.
saat itu sudah menunjukan pukul 11 malam. Aini begitu kelelahan, Ia hendak membersihkan dirinya namun Ia lupa membawa pakaian nya. Azmi yang sedari tadi telah membersihkan diri nya memilih duduk di ruang tamu, Ia tidak ingin berlama- lama dalam satu ruangan bersama Aini.
Aini bingung harus berbuat apa, Ia mencoba membuka lemari barangkali ada pakaian yang bisa ia kenakan namun sayang dalam lemari itu hanya ada pakaian azmi yang sebelum nya sudah di persiap kan oleh Ummi nya Azmi di situ.
" Bagaimana ini! aku tidak punya pakaian ganti! aku tidak mungkin memakai kebaya ini sepanjang malam, lebih baik Aku minta tolong saja sama Mas Azmi untuk menjemput pakaian ku"
Aini mulai beranjak dari kamar itu, Menuruni anak tangga satu persatu.
setelah Ia sampai di ruang tamu niat nya untuk meminta bantuan Azmi malah di urungkan nya karna melihat Azmi yang tertidur pulas di atas sofa.
Akhirnya Aini kembali lagi di dalam kamar nya dengan wajah yang kecewa.
karna merasa tidak tahan mengenakan kebaya itu Ia memutuskan memakai kemeja dan celana panjang milik Azmi.
ya, kemeja putih yang kerap sekali di pakai azmi untuk kekantor...
***Hallo readers....👋👋👋
terima kasih udah baca cerita ku
jangan lupa tinggalkan jejak ya...
like, komen, rate bintang 5 dan vote
__ADS_1
jangan lupa juga klik favorit agar selalu up cerita ku...
😊😊😊🙏🙏🙏***