
Poligami
34
Xena terharu dengan ucapan suaminya, jujur saja dirinya tidak menyangka akan menikah dengan sepupunya sendiri. Bahkan kini putrinya sendiri malah begitu bergantung kepada laki-laki yang dia anggap abang selama ini.
"Terima kasih Bang, terima kasih sudah membuat putraku bahagia dan terima kasih sudah menerima diriku yang banyak kurang ini," lirih Xena.
"Kamu tidak perlu berterima kasih sama baang, Xen. Abang ikhlas melakukannya dan sekarang Arumi juga sudah menjadi putri Abang. Kalian berdua sudah menjadi tanggung jawab abang,"
Xena menatap suaminya dengan tersenyum tulus. Dirinya bahagia akhirnya bisa membuat sang putri merasakan kebahagia yang tidak pernah dia dapatkan dari mantan suaminya.
"Umma, Baba nanti arum tidur di tengah dan di samping kiri dan kanan arum, Umma dan Baba ya," Randa dan Xena lekas menganggukkan kepalanya mereka.
"Baiklah Sayang," jawab Xena.
Akhirnya malam ini impian Arum selama ini terwujud. Dirinya tidur bersama ke-dua orang-tuanya dengan penuh rasa bahagia. Bahkan tangan Arum menggenggam erat tangan Xena maupun Randa.
__ADS_1
"Ibu, Ayah aku meminta izin untuk membawa Xena dan juga Arumi dari sini rumah yang akan kami tinggali karena tidak mungkin aku bolak-balik setiap hari ke sini Yah, Bu apalagi perjalanan yang lumayan jauh." ucap Randa kepada mertuanya. Saat ini mereka tengah duduk di ruang tamu setelah sarapan pagi.
"Boleh, karena ayah maupun Ibu juga tidak bisa melarang kamu untuk membawa Xena mau pun Arumi. Apalagi mereka sekarang sudah menjadi tanggung jawab kamu Ren. Tapi ayah berharap sama kamu, ini menjadi pernikahan terlahir bagi kamu dan juga Xena tentunya. Sayangi cucu ayah dan jangan membuat dia merasakan sedih lagi begitupun dengan putri ayah," pinta Hilman dengan lembut.
"Insya Allah Ayah, aku pasti akan membahagiakan istri dan anakku semampu yang diriku punya." jawab Randa yakin.
"Ibu sama dengan Ayah, Randa bahagiakan putri Ibu dan cucu Ibu. Jangan membaur mereka kembali pada masa yang pernah mereka lalui. Cukup ini yang terakhir bagi kalian berdua."
"Iya Ibu, aku pasti bakal membahagiakan mereka berdua. Ibu dan Ayah tidak perlu khawatir akan hal itu."
"Kapan rencananya kalian akan pindah?" tanya Hilman.
****
Sesuai dengan ucapan Randa kemaren, hari ini mereka akan pindah ke rumah Randa tentunya di kota tempat dirinya mengajar.
"Ayah, Ibu, aku pamit. Jika ada waktu luang kami akan sering kesini mengunjungi Ibu dan Ayah," pamit Xena memeluk kedua orangtuanya bersamaan.
__ADS_1
"Iya Nak tidak apa. Kamu hati-hati dan jadilah istri sholehah buat suami kamu. Patuhi apa yang dia perintahkam jika itu selagi dalam konteks yang baik dan jangan pernah melawan dari apa yang dia katakan." ujar Qoilila kepada sang putri.
"Iya Ibu, terima kasih aku akan selalu patuh terhadap suamiku," jawab Xena.
"Hati-hati Nak, Ayah akan selalu mendo'akan kebaikan untuk kamu dan rumah tangga kamu Nak,"
"Terima kasih Ayah," Hilman menganggukkan kepalanya.
"Sini Sayang peluk uti," Arumi dengan patuh mendekati Qailila dan memeluk tubuh tua neneknya dengan erat.
"Uti bakalan rindu sama kamu Sayang, jangan bandel ya di sana dan jangan lupa sering telepon uti ya Nak," Arumi mengangguk patuh.
"Baik Uti, arum bakalan telepon Uti tiap hari dan arum minta sama Umma atau Baba nanti," jawabnya dengan ceria.
"Baiklah akan Uti tunggu Sayang,"
Akhirnya Xena, Randa dan juga Arumi meninggalkan kediaman Hilman menuju rumah Randa yang ada di kota sebelah. Lumayan jauh perjalanan mereka sehingga Xena dan Arumi tertidur selama perjalanan.
__ADS_1
TBC