
Poligami
41
Yogi baru tersadar saat Xena menyebut kata Nak pada gadis kecil yang sedari tadi asik memakan es krimnya dengan tenang. Bahkan Yogi tidak sadar jika gadis kecil itu putrinya. Jujur saja ada rasa sakit yang dirasakan Yogi kala anaknya sendiri bahkan tidak menatapnya sedikitpun padahal gadis itu melewati dirinya.
Yogi dan Kanina menatap punggung Xena dan juga Arumi yang kian menjauh dari pandangan. Kanina menatap dengan kening mengernyit bingung sedangkan Yogi dengan tatapan sendu sarat akan rasa rindu kepada putri yang dulu bahkan tak dirinya anggap. Semenjak Kanina keguguran waktu sampai sekarang istrinya itu belum juga hamil padahal mereka sudah melakukan program hamil.
"Cepet banget ya Mas, Mbak Xena menikah. Padahal dulu aku kira dia nggak akan secepat itu nikah lantaran dia kan cinta sama kamu Mas. Ya paling lama ya lima tahunanlah. Ehh, tau-taunya habis masa iddahnya langsung nikah dan sekarang juga lagi hamil." ujar Kanina yang masih menatap punggung Xena yang mulai mengecil lantaran jarak.
Yogi tidak menanggapi ucapan istrinya, pikirannya melalang buana pada putri kecilnya yang kini sudah tumbuh besar. Terbesit rasa penyesalan dalam diri Yogi karena tidak menganggap putrinya ada waktu mereka masih bersama. Bahkan sering kali dirinya marah lantaran ketidaksengajaan yang di lakukan Arumi pada dirinya.
__ADS_1
"Mas kok kamu cuekin aku sih?!" kesal Kanina sambil menyenggol lengan suaminya.
"Ehh maaf Sayang, kamu tadi ngomong apa? Mas nggak denger?" tanya Yogi terkejut.
"Gimana kamu bisa dengerin aku ngomong, kamu sendiri sibuk dengan pikiran kamu yang ntah apa itu Mas," ujarnya kesal.
"Maaf Sayang, emang kamu tadi ngomong apa?" ulang Yogi merasa bersalah.
Yogi hanya bisa pasrah dengan kelakuan istrinya yang sudah mulai ngambek lantaran dirinya yang tidak menyimak ucapan Kanina. Bukan suatu hal yang baru dari sifat Kanina yang satu ini, bahkan sering kali Yogi melakukan hal seperti ini maka istrinya memilih pergi duluan atau mengambil jarak dari dirinya.
Dalam perjalanan pulang tidak ada obrolan yang terjadi dari ke-dua pasangan suami istri itu. Hanya kesunyian yang menemani perjalanan pulang mereka.
__ADS_1
Disisi lain Xena maupun Arumi berjalan menuju mobil Randa yang setia menunggu mereka. Randa berjalan menuju istrinya untuk membantu sang istri membawakan belanjaan yang di beli. Dirinya sungguh tidak tega membiarkan sang istri membawa belanjaan sebanyak itu apalagi dengan perut Xena yang sudah besar.
"Apa Abang sudah lama nungguin aku sama Arumi?" tanya Xena saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Tidak kok Humaira, lagian abang tadi juga bawa mobilnya santai jadi ya nggak lama nungguin Humaira sama Arumi di sini," Randa mengelus pipi Xena dengan lembut. Tidak lupa Randa mendaratkan bibirnya pada pipi serta dahi Xena dan terlahir pada perut sang istri yang di dalamnya ada anak mereka yang kian hari kian tumbuh besar.
"Alhamdulillah kalau gitu mah Bang, aku kirain tadi abang sudah lama nungguin aku sama Arum." ujar Xena. "Aku tadi ketemu sama mantan madu sama mantan suami aku, Bang," lanjut Xena membuat Randa yang tengah mengemudi menatap sekilas istrinya.
"Lalu?"
"Awalnya aku sama Arumi duduk di depan supermarket karena kita beli es krim Bang. Nggak mungkin kita makan es krim sambil berjalan mendingan memilih duduk sebentar. Saat aku menikmati es krim tau-taunya ada yang memanggil aku dan otomatis aku menatap kearah sumber suara. Suara itu suara Kanina mantan maduku, Bang sama suaminya. Dia nanyain kabar aku begitupun sebaliknya. Terus pas mantan suami aku mau ngomong ntah apa aku lupa, tiba-tiba kamu nelpon ya sudah aku angkat telpon kamu. Setelahnya aku pamit deh dari hadapkan mereka menuju ke mobil." jelas Xena tanpa ada yang di tutupi. Lagian dalam sebuah rumah tangga itu harus adanya kejujuran meskipun kadang kejujuran itulah yang menyakitkan. Namun itu harus di lakukan, agar rumah tangga tetap baik-baik saja.
__ADS_1
TBC