POLIGAMI

POLIGAMI
40


__ADS_3

Poligami


40


Xena serta Arumi siang ini tengah pergi bertelanjang kebutuhan dapur lantaran sudah habis tanpa sisa. Kemaren rencana mereka untuk pergi kepasar tapi karena Arumi yang tengah sekolah membuat Xena mengundurnya di hari ini. Untung saja hari ini tanggal merah karena ada isra' dan mi'raj Nabi SAW.


Xena mengandeng tangan kecil putrinya agar tidak berpisah darinya. Apalagi di pasar lumayan banyak orang yang datang berbelanja. Sehingga Xena tidak bisa leluasa melepaskan tangan sang putri. Takutnya putrinya hilang atau bahkan sulit di temuinya nantinya.


"Umma, arum mau beli buah pir sama sama rebutan ya?" pintanya dengan mendongakkan kepalanya menatap sang ibu.


Xena menipis bibirnya agar membentuk sebuah senyuman sambil menganggukkan kepalanya. "Baiklah Nak, nanti kita beli ya buat Arumi?" Dengan antusias Arumi mengangguk cepat.


Satu setengah jam mereka berbelanja kebutuhan dapur dan sebagainya kini Xena maupun Arumi tengah duduk di depan supermarket sambil memakan es krim dengan rasa yang sama yaitu coklat.


"Mbak Xen?" Xena mendongak kala mendengar suara yang amat di kenalinya.

__ADS_1


"Kanina," ujar Xena dengan terseyum ramah.


"Apa kabar Mbak?" tanya Kanina basabasi.


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat Kan. Mbak sehat," jawab Xena dengan tersenyum.


Kanina menganggukkan kepalanya. Kini mata wanita itu beralih pada perut Xena yang terlihat agak membuncit meski Xena memakai gamis lebar. "Mbak, kamu hamil?" kejut Kanina. Bahkan laki-laki yang bersama Kanina pun kini mengalihkan pandangannya pada perut Xena kalau mendengar ucapan istrinya.


Yogi, laki-laki yang kini sudah bersatus mantan suami Xena itu amat terkekut melihat perut mantan istrinya tengah buncit. Dirinya amat yakin jika mantan istrinya itu tengah hamil. Tidak mungkin perut Xena berlemak sebanyak itu apalagi tubuh Xena terlihat tidak gendut, bisa di bilang sedang.


"Kapan Mbak menikah? Bukankah kandungan Mbak tidak bisa dikatakan satu atau dua bulan, bahkan ini sudah lumayan besar loh Mbak?" ujar Kanina dengan penuh selidik. Seakan-akan Xena wanita buruk yang akan menjajakan tubuhnya pada pria hidung belang.


Mungkin kalau orang lain sudah sakit hati dengan pertanyaan Kanina, apalagi dengan pandangan mata wanita itu yang penuh hina. Namun, Xena hanya menipiskan bibirnya. Dirinya tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Kanina yang hanya angin lalu baginya. Toh, dia hamil punya suami, anaknya juga punya ayah.


"Alhamdulillah, sehabis masa iddah ada laki-laki yang menikahi Mbak, Kan." jawabnya dengan tersenyum.

__ADS_1


Kanina hanya menipiskan bibirnya sedikit, bahkan dirinya terkejut dengan jawaban Xena. Sungguh dirinya tidak menyangka jika Xena akan secepat itu menikah padahal dirinya tahu jika wanita itu mencintai Yogi kala itu.


Di sisi lain Yogi hanya bisa mematung mendengar ucapan Xena, jujur saja dirinya tidak pernah menyangka jika Xena akan secepat itu mencari penganti dirinya. Padahal yang Yogi tahu Xena begitu mencintainya kala itu, namun apa yang sekarang dirinya dengar sungguh di luar dugaannya.


"Kenapa sec--"


"Maaf suami saya menelpon," ujar Xena membuat Yogi yang hendak bebicara terhenti.


Xena mengangkat telepon dengan sedikit mengambil jarak dari Kanina maupun Yogi. Dirinya merasa kurang sopan jika berbicara dengan lawan teleponya di hadapan sepasang suami istri itu.


"Maaf ya Kanina, Mbak harus pergi karena suami Mbak sudah nungguin di jalan raya," pamitnya.


"Ayo Nak, kita pulang Baba sudah nungguin kita di jalan sana!" ujar Xena pada sang putri.


TBC

__ADS_1


__ADS_2