
Poligami
49
Satu tahun berlalu
Tanpa terasa kini sudah satu tahun berlalu, bahkan kini bayi yang dulu di kandung Xena sudah berumur tujuh bulan. Bayi mungil yang diberi nama Muhammad Abizar Alfarizi, bayi laki-laki yang kini tumbuh menjadi bayi yang tampak sangat mengemaskan dan juga sangat lucu.
Kehidupan rumah tangga Xena semenjak menikah dengan Randa berjalan begitu indahnya. Seakan rasa sakit yang dulu di rasakannya saat masih menjadi istri Yogi seakan terganti sudah dengan pernikahannya bersama Randa. Laki-laki penuh kasih sayang dan cinta, laki-laki yang memperlakukannya bak ratu di istana sang raja.
Tak ada lagi rasa sedih, kecewa yang dirasakan wanita beranak dua itu. Bahkan kasih sayang begitu banyak di curahnya Randa untuknya dan juga kedua buah hatinya. Meskipun Arumi bukan putri kandung Randa, namun laki-laki itu begitu menyayangi anak sambungnya bak anak kandung sendiri. Bahkan rasa sayang itu tidak pernah pudar barang sedikitpun. Masih sama seperti awal mereka bertemu hingga menjadi ayah dan anak.
"Humaira apa hari ini kamu terlalu lelah?" Randa menghampiri istrinya yang tengah menganti popok putra mereka.
"Tidak Bang, aku tidak merasakan lelah kok." Senyum manis terukir indah di bibir Xena sebelum menjawab ucapan suaminya.
Randa menghampiri Xena setelah meletakkan tas kerjanya di meja tempat biasanyanya. Sedangkan Xena langsung saja menyalami dengan takzim tangan suaminya setelah selesai memakaikan popok pada sang putra.
"Abang mau makan dulu apa mau istirahat?" tanya Xena saat Randa tengah mengajak Abizar untuk bercanda.
__ADS_1
"Nanti saja Humaira, lagian Abang juga belum terlalu lapar." jawab Randa menatap sekilas sang istri sebelum kembali pada sang putra.
"Baiklah Bang,"
***
Xena, Randa dan kedua buah hati mereka tengah berada di ruang tamu. Randa membantu Arumi untuk belajar, sedangkan Xena memangku Abizar yang sedikit rewel karena bocah laki-laki itu tengah lapar. Meskipun sudah di berikan makanan tambahan namun Xena akan tetap menyusui putranya disaat-saat jam segini.
"Umma, dedek bayi sudah tidur ya?" Arumi menatap sekilas pada Xena yang tengah menepuk-nepuk pan*at putranya.
"Sudah Sayang, apa Arumi mau sesuatu?" tanya Xena kepada putrinya.
"Terima kasih Baba karena sudah membantu arum belajar malam ini." Arumi menghampiri Randa yang tengah duduk di sofa. Mendaratkan satu kecupan pada pahlawannya yang begitu dia sayangi dan menyayangi dirinya tanpa banding itu.
"Sama sama Sayang," balas Randa dengan tersenyum kecil.
Xena meletakan tubuh kecil Abizar pada tempat tidur goyang yang memang di sediakan di ruang tamu. Tidak mungkin Xena akan meletakkan putranya ke dalam kamar karena ini masih jam sembilan malam. Takutnya nanti anaknya terbangun tanpa dirinya sadari dan akan berakibat fatal juga akhirnya karena tidak ada pengawasan dirinya dan juga Randa. Maka dari itu lebih baik Xena meletakkan putranya di tempat tidur itu untuk sementara sebelum akhirnya dirinya dan sang suami pindah ke kamar untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah.
"Baba, Umma, Arumi pamit mau tidur dulu ya?" Arumi sudah menyandang tas punggungnya karena hendak ke kamar.
__ADS_1
"Iya Nak, jangan lupa baca do'a sebelum tidur." Arumi mengangguk, lantas meninggalkan mereka karena jujur dirinya sudah beberapa kali menguap sedari tadi.
Kini tinggal Xena, Randa dan juga Abizar yang tengah tertidur pulas karena kekenyangan sehabis menyusu.
"Sini duduk dekat abang, Humaira," pinta Randa yang di angguki Xena.
Xena menyenderkan kepalanya pada bahu suaminya yang di balas Randa dengan memeluk erat tubuh sang istri yang kini semakin berisi dari sebelum mereka menikah kala itu.
"Abang mau ngomong sesuatu sama kamu Humaira. Terima kasih karena sudah suka rela menjadi pendamping abang dan hendaknya nanti sampai maut memisahkan kita berdua. Terima kasih karena sudah memberikan warna baru dalam kehidupan abang yang dulu begitu kelabu dan terima kasih karena sudah memberikan abang seorang putra dan putri yang begitu lucu dan mengemaskan seperti Arumi dan juga Abizar, Humaira," Randa menatap dalam mata Xena yang menatap dirinya terharu.
Jujur saja tidak ada yang lebih membahagiakan dalam kehidupan Randa kecuali kehadiran Xena wanita yang begitu membuatnya cinta bahkan secinta-cintanya.
"Yang harusnya ngomong seperti itu aku sama Abang, bukan malah Abang yang ngomong seperti itu sama aku. Aku yang paling bahagia dan paling berterima kasih sama Abang karena kehadiran Abanglah yang membuat kehidupan aku yang dulu samar kembali bewarna. Kehidupan yang bahkan tidak pernah aku bayangkan akan berakhir bahagia seperti ini Bang." Xena mengusap air matanya yang mengalir karena dirinya benar-benar bersyukur memiliki suami seperti Randa yang penuh kasih sayang dan cinta. Suami yang tidak pernah membentak dirinya maupun sang putri meskipun mereka berbuat salah melainkan menasehati dengan cara yang halus dan lembut tanpa menyinggung perasaan mereka.
"Terima kasih Bang, terima kasih karena sudah hadir dalam kehidupan aku dan juga Arumi. Aku sangat bersyukur dan bahagia memiliki suami seperti Abang," Xena memeluk erat tubuh Randa dengan air mata yang kian mendesak ingin keluar. Ini bukan tangis kesedihan melainkan tangis kebahagiaan yang tiada kiranya.
Randa memeluk tubuh istrinya dengan erat, jujur saja dirinya sangat bahagia bahkan tak tahu lagi apakah dirinya yang pantas berterima kasih kepada Xena atau malah sebaliknya. Karena wanita di pelukannya itu memang wanita yang memberikan kebahagiaan yang tidak akan bisa dirinya dapatkan dari wanita lainnya.
Meski sejatinya segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan mereka adalah kehendak Allah dan garis takdir yang memang sudah tertulis untuk mereka.
__ADS_1
TBC