
hari sudah menunjukkan pukul delapan malam. waktu dimana aini bisa pulang dan beristirahat di rumah nya. saat itu aini hendak berpamitan kepada majikan nya namun iya merasa ragu ada sesuatu yang mengganjal fikiran nya. aini ingin meminjam uang kepada majikan nya tetapi iya takut kalau majikan nya tidak mau memberikan nya pinjaman uang, tapi ia mengingat ibu nya yg terbaring sakit dirumah dan sangat membutuhkan obat itu, aini mulai memberanikan diri berpamitan kepada majikan nya.
dengan tatapan yg sendu dan penampilan yg lusuh aini menghampiri majikan nya itu. majikan nya terlihat sedang menikmati acara tv kesukaan nya. majikan nya itu tidak sendiri ada anak dan suami nya juga di sana. mereka tidak menyadari kehadiran aini di dekat mereka .
" nyonya...?"
"ya" jawab majikan nya tanpa menoleh kearah aini.
__ADS_1
" nyonya, saya pamit dulu"
emmm! kata yang singkat mengizinkan aini pulang kerumah nya. namun aini belum juga beranjak dari posisi . hingga membuat majikan nya mengarahkan pandangan nya terhadap aini.
" ada apa lagi?! kenapa kamu belum pergi?!" tanya majikan nya dengan heran.
"maaf nyonya... ibu saya di rumah sedang sakit parah..."
"maaf nyonya, bisakah anda meminjamkan saya sedikit uang...? " majikan nya tersenyun sinis. " saya ingin membelikan obat untuk ibu saya", lanjut aini kembali.
" kau fikir saya ini bank! seenak nya saja kau meminjam uang!!!!", jawab majikan dengan ketus...
__ADS_1
anak dan suaminyapun tidak memperdulikan apa yg terjadi merka tetap fokus menatap acara tv itu.
" saya mohon nyonya, saya sangat membutuhkan uang itu nyonya.." ujar aini seraya mengatupkan kedua tangan nya memelas mengharapkan belas kasih, namun sayang majikan nya itu tak bergeming, hati nya sekeras batu dengan perwakan nya yg gendut itu iya mengancungkan tangan nya kearah pintu.
" keluar!!!!!! jangan buat saya semakin marah!!!", majikan nya itu terlihat sangat emosi hingga terlihat tangan nya yang bergetar. aini yang melihat hal itu menjadi ciut tak sanggup menghadapi majikan nya itu. tanpa berkata lagi aini beranjak keluar dari rumah itu. air mata nya terus mengalir membuat mata nya memerah dan sedikit sembab. saat aini berada di depan pintu ia berhenti terperangah melihat hujan menguyur begitu deras, saat di rumah tadi aini tidak mengetahui bahwa di luar sedang hujan lebat karna fikiran nya begitu kalut. bahkan seharian ini aini tidak nafsu makan karna terus memikirkan ibu nya.
" bagaimana ini?! hujan!", aini tertunduk lesu. ia mencoba merogoh kantong nya mencari- cari sesuatu di dalam nya. aini mencoba mengeluarkan dan menatap apa yang saat ini ada di tangan nya uang lima ribu rupiah. air mata nya mulai berlinang lagi teringat kalau ibu nya sangat membutuh kan obat itu sementara dia hanya memiliki uang lima ribu itu. rumah aini lumayan jauh dia harus menaiki angkot jika ingin pulang.
" ya allah apa yang harus hamba mu ini lakukan??? ibu sangat membutuhkan obat itu tapi hanya ini yg aku punya".
aini terduduk lemas di teras majikan nya iya akhirnya terisak keras meluapkan kesedihan nya. dada nya terasa sesak dan kepalanya mulai terasa pusing.
__ADS_1
akhirnya dengan sekuat tenaga ia bangkit dan meyakinkan diri nya kalau ia tidak boleh lemah demi ibu nya hingga akhirnya aini memutuskan untuk berjalan kaki pulang kerumah nya setidak nya ia bisa membelikan obat untuk ibu nya itu untuk malam ini saja agar ibu nya tidak merasakan sakit nya.