
Poligami
46
Yogi terdiam melihat putrinya yang begitu antusias menyebut kata Baba. Ada rasa nyeri yang dirasakan Yogi kala putrinya sendiri seakan tidak menganggap dirinya ada padahal jelas-jelas baru saja dirinya berbicara dengan putrinya itu, namun apa yang dirinya dapatkan sebuah ketidak pedulian. Inikah yang dirasakan putrinya kala itu, inikah yang dialami putrinya dulu saat dirinya tidak peduli dengan kata-kata putrinya, sungguh sakit sekali rasanya hati Yogi.
Xena melirik sekilas pada Yogi yang tampak terdiam, jujur saja dirinya merasa tidak enak dengan perlakuan putrinya terhadap Yogi. Namun, Xena juga tidak bisa memaksakan putrinya agar berbuat seperti yang dirinya inginkan, lantaran selama mereka masih menjadi keluarga putrinya dianggap tidak ada oleh ayahnya sendiri. Lantas apa yang harus Xena lakukan kali ini, tentu saja dirinya tidak akan memaksa putrinya untuk menerima ayahnya. Kebahagiaan putrinya itu yang kini diutamakan Xena.
"Yasudah kita pulang, Nak," jawab Xena akhirnya. "kami pulang dulu Mas,"
__ADS_1
"Tunggu Xen," Xena yang hendak melangkah di tahan oleh suara laki-laki yang kini berstatus mantan suaminya.
"Iya Mas, ada apa?" tangan Xena.
"Bisakah kamu membujuk Arumi agar mau menerima diriku dan tidak mengacuhkan aku seperti ini lagi Xena?" pinta Yogi dengan lirih sarat akan rasa sedih, penyesalan yang bercampur menjadi satu.
"Akan aku usahakan Mas, tapi maaf aku tidak bisa memaksakan Arumi agar segera menerima kamu. Kamu tentu saja tidak akan pernah lupa dengan apa yang dulu kamu perbuat pada Arumi bukan? Mungkin memaafkan memang mudah, namun untuk melupakan apa yang terjadi itu tidaklah mudah Mas," ujar Xena yang membuat Yogi terdiam.
"Baiklah Xena, tapi aku mohon bantu aku agar bisa dekat dengan Arumi. Aku menyesal dengan apa yang aku lakukan dulu kepadanya Xen," Yogi mengatupkan kedua tangannya tanda dirinya benar-benar memohon kepada wanita hamil itu.
__ADS_1
"InsyaAllah aku akan usahakan Mas, namun kamu juga harus bersabar karena ini tidak seperti membalikkan telapak tangan." Yogi menganggukkan kepalanya. Dirinya juga tidak bisa memaksakan kehendaknya agar cepat bisa akrab dengan putrinya, yang ada putrinya malah akan semakin menjauh dari dirinya.
"Terima kasih Xen,"
"Iya Mas sama-sama, aku pamit dulu," Xena dan juga Arumi meninggalkan Yogi yang masih berdiri mematung menatap kepergian dua orang yang pernah hadir di hidupnya. Jika yang satu tidak akan ada hubungan dengannya lagi, namun yang satunya jelas tidak akan bisa terpisah darinya lantaran darahnya melekat kental pada tubuh gadis kecil itu.
"Semoga kamu cepat menerima ayah, Nak. Maafkan ayah yang sudah membuat kamu tidak tahu arti pentingnya sosok seorang ayah dalam dirimu," ujar Yogi menatap nanar punggung putrinya. Jangan lupakan mata Yogi yang sudah berkaca-kaca menahan tangis yang hendak keluar.
Lama menunggu hingga Xena dan putrinya hilang dari pandangan Yogi, kini laki-laki itu juga ikut meninggalkan tempat itu menuju rumahnya. Pikirannya tengah tidak baik setelah pertemuan dirinya dan juga putrinya.
__ADS_1
"Mas wajah kamu kenapa kusut begitu?" Kania yang datang dari dapur menatap heran suaminya. Tidak bisanya suaminya berwajah murung serta tidak semangat seperti ini.
TBC