
Sinar mentari pagi menyapa dengan kehangatan, kehangatan itu berhasil masuk di sela- sela tirai jendela kamar yang saat itu terbaring di atas ranjang dua insan manusia yang masih belum terjaga dari tidur nya...
Sesekali bunyi kicauan burung terdengar samar-samar di telinga Aini. ia mencoba mengerjap- ngerjap kan mata nya kala sinar matahari itu meyapa di wajah nya...
sebelah tangan nya mulai mengucek- ngucek mata nya. berusaha memulihkan kesadaran nya. ketika kesadaran nya belum utuh Aini menoleh kesebelah nya memastikan keadaan ibu nya...
Aini tersenyum simpul dan mengecup kening ibu nya..
Ibu nya pun mulai tersadar dari tidur atau lebih tepat nya sadar dari pingsan nya semalam. namun keadaan nya cukup lemah tak dapat bergerak... Aini yang melihat keadaan ibu nya menjadi sedih dan mata nya mulai berkaca- kaca...
" Ibu! bagaimana keadaan Ibu??" Aini bertanya lirih penuh kelembutan.
"A.. Aini!" ujar Ibu nya dengan terbata- bata.
" ya...." jawab Ainidengan tatapan yang sendu kewajah Ibu nya, tangan kanan Aini mulai mendekati tangan Ibu nya, ia raih tangan itu, ia kecup lalu ia sandarkan di pipi nya yang pucat itu.
Dengan susah payah Ibu nya Aini mencoba berbicara kepada nya. namun dengan posisi yang masih terbaring lemah..
" dengarkan Ibu, Aini...!" suara Ibu nya begitu serak dan berat...
Ainitidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan.
Ibu Ningrum melihat mata Aini yang berkaca- kaca itu, ia tidak tega melihat anak nya bersedih.
ya Allah! bagaimana hidup anak hamba ini nanti ya Allah jika hamba harus pergi meninggalkan diri nya sendiri....?
batin ibu Ningrum. tak terasa mata yang tak berdaya itu mulai membentuk bendungan dan sebisa mungkin bendungan itu ia topang agar tidak membanjiri pipi nya...
"Aini...
maafkan Ibu mu ini karna tidak bisa membahagiakan kamu", Aini menatp mata ibu nya dengan lekat. " jika ibu tiada ka.."
" jangan ibu! jangan katakan itu!"
belum sempat ibu ningrum menyelesaikan perkataannya Aini langsun memotong nya.
" tidak Aini! seperti nya waktu ibu semakin dekat!" mendengar perkataan ibu nya tangis Aini pecah seraya menghamburkan tubuh nya di pelukan Ibu nya.
__ADS_1
" jangan tinggalkan Aini bu...! , Anini tidak punya siapa- siapa lagi selain Ibu...!" ini semakin terisak hingga air mata nya membasahi kain yang menyelimuti Ibu nya.
" cobalah untuk tenang anak ku!" pinta ibu Ningrum
Aini tak menggubris permintaan Ibu nya iya tetap saja menagis.
ibu Ningrum membelai pucuk kepala nya dan mengecup keningnya mencoba menenangkan Aini. dan tak lama kemudian Aini mulai mengangakat kepala nya dari sisi ibu nya. tubuh nya bergetar, dadanya sakit seperti ada yang mencabik-cabik paru-parunya hingga rasanya sulit sekali untuk bernafas.
ibu Nigrum menangkup kedua tangan aini seakan menyalurkan energi agar Aini dapat tegar menjalani hidup nya.
" Aini...! sebenarnya selama ini ibu menyimpan rahasia besar darimu..."
Aini mengernyitkan dahi nya, ia merasa was- was, ia takut ada kejutan yang membuat ia tidak sanggup hidup...
" Aini... ! sebenarnya sebelum mendiang Ayah mu meninggalkan kita, Ayah mu telah menjodohkan mu kepada anak rekan kerja nya dulu" Aini terperangah mendengar penuturan ibu nya, tidak percaya bahwa ia telah di jodohkan oleh Ayah nya.
Aini hanya bisa diam mendengarkan Ibu nya yang terbaring lemah itu..
"Aini...!", ujar ibu nya lagi masih dengan suara sendu.
" iya ibu?"
suara batuk ibu nya Aini membuat jeda percakapan mereka, namun ketika batuk itu telah usai aini melihat tangan ibu nya yang berdarah karna menutupi mulut nya.
" ibu darah!" ujar Aini panik.
Aini mencoba beranjak dari tempat tidur ia hendak mengambil obat yang semalam telah ia beli hingga ia rela berjalan kaki menggenggam obat yang di simpan nya dalam kantong plastik.
tapi niat nya terhenti karna ibu nya telah menahan pergelanagan tangan nya.
" Aini ibu sudah ti..tidak kuat..!" ucap ibu nya terbata- bata...
kepanikan Aini semakin menjadi- jadi mendengar perkataan ibu nya.
"apa yang haru Aini lakukan bu....?"
Aini mencengkram tangan ibu nya seraya menatap wajah ibu nya yang semakin pucat itu.
__ADS_1
" Aini...! ibu ingin kamu menjumpai paman mu yang ada di kota, dia akan menjelakan semua nya kepada mu"
Aini mencoba mengangguk...
tanda menuruti keinginan terakhir ibu nya.
" alamat nya ada di dalam lemari itu" ibu nya Aini mengarahkan pandangan nya kearah lemari pakaian yang berda di sisi dinding kamar itu.
" baiklah ibu...!" Aini terisak sedih tidak sanggup menahan rasa yang ia hadapi sungguh takdir selalu bertindak kejam kepada aini.
" selamat tinggal anak ku, semoga kelak kamu akan menemukan kebahagiaan mu..." tak lama setelah mengucap kan itu ibu ningrum memejamkan mata nya untuk selam nya....
" ibu......!!!!!" teriak Aini melihat ibu nya tak bernyawa lagi. suara nya memenuhi ruang kamar yang tidak seberapa luas itu...
ia benar- benar tak kuasa menahan segala yang di derita nya selama ini. kehidupan yang selalu di iringi dengan tangis kesedihan seakan ia tidak berhak atas yang nama kebahagiaan.
ada yang datang ada pula yang pergi, ada yang kaya ada pula yang meskin namun yakinlah bahwa cinta akan hadir menyatu kan membawa kebehagiaan hingga semua insan manusia memuji atas keberadaan sang pencipta cinta.....
ya...! satu persatu cinta yang ia miliki telah di renggut oleh nya, lalu apa lagi cinta yang akan menyatukan dan membahagiakan aini di dunia ini?
adakah itu?
dimana?
batin Aini mencari jawaban teka- teki hidup nya
yang ia tau selema ini hidup yang ia jalani bagai bejalan di atas kerikil- kerikil penderitaan...
haiiii readers....👋👋👋
**terimakasih udah baca cerita ku....🙏🙏🙏🙏
mohon krisan nya ya.....
and jangan lupa tinggalkan jejek ya
like komen and vote...
__ADS_1
jangan lupa klik favorit juga agar tidak ketinggalan cerita ku....😊😊😊😊