
Poligami
48
Yogi menyusul istrinya yang kini sudah berlari menuju kamar mereka. Jujur saja dirinya tidak sadar mengatakan kata-kata yang menyakiti hati istrinya. Dirinya hanya terbawa emosi lantaran kata-kata sang istri yang membuat dirinya berkata seperti tadi.
"Sayang maafkan aku, sungguh bukan niatku untuk membuat kamu sakit hati." Yogi mendekati Kanina yang kini tengah menggulung dirinya di dalam selimut sambil terisak-isak.
"Sayang tolong maafkan aku ya, sungguh aku tidak bermaksud begitu. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi Sayang," ujar Yogi yang berusaha membuka selimut yang melilit tubuh istrinya.
"Kamu janji Mas?" tanya Kanina dari dalam selimut.
"Iya Sayang, Mas janji tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan Mas ya?" Kini Kanina sudah membuka selimutnya dan memeluk tubuh suaminya dengan erat. Meskipun kata-kata suaminya tadi membuatnya sakit hati, namun rasa cinta yang dirinya miliki menghilangkan rasa sakit dirinya.
__ADS_1
"Baiklah Mas, aku akan pegang kata-kata kamu Mas," Kanina menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher suaminya. Menikmati bau maskulin yang terasa dari tubuh laki-laki yang amat di cintainya itu.
"Sayang, mas mau es teh apa bisa kamu buatkan Sayang? Mas sangat haus dan pengen meminum minuman dingin itu." pinta Yogi setelah Kanina melepaskan pelukannya dari Yogi.
"Baiklah Mas, kamu tunggu disini dulu aku akan buatkan es teh buat kamu." ujar Kanina beranjak dari kasur lantas meninggalkan suaminya di dalam kamar mereka.
Sepeninggal Kanina, Yogi memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing. Terlalu banyak yang dirinya pikirkan sehingga rasa pusing itu menyerang dirinya, namun begitu sebisanya Yogi menahan rasa sakit itu agar istrinya tidak mengkhawatirkan dirinya. Masalah es teh, dirinya memang menginginkan meskipun sakit kepala seperti ini tidak akan mempengaruhi kondisi tubuhnya karena Yogi sudah sering seperti ini.
"Ini tehnya Mas," Kanina menyodorkan secangkir es teh kepada suaminya yang sudah memperbaiki duduknya.
"Sama-sama Mas," jawab Kanina dengan menyelipkan sedikit senyum manis di bibirnya.
Yogi meneguk es teh itu hingga habis tanpa sisa, dirinya sepertu seseorang yang sangat kehausan.
__ADS_1
"Kamu haus banget ya Mas? Apa masih mau aku bikinin yang baru?" tanya Kanina setelah menerima gelas dari suaminya.
"Tidak Sayang, ini sudah cukup kok. Aku mau tidur sebentar ya Sayang mata aku ngantuk banget." pamit Yogi yang merebahkan tubuhnya. Saat ini bukan hanya pikirannya yang lelah namun juga dengan tubuhnya.
"Baiklah Mas jika memang kamu sedang mengantuk tidurlah. Aku mau masak makan malam buat kita dulu, nanti aku akan bangunin kamu Mas," ujar Kanina sambil menyelimuti tubuh suaminya.
Disisi lain Xena dan juga suami serta putrinya tengah mejikmati makan malam mereka dengan tenang. Sesekali keluarga itu mengeluarkan suara bahkan juga melempar lelucon yang membuat keluarga itu semakin tampak harmonis.
"Kamu mau nambah lagi Bang?" tanya Xena menatap piring suaminya yang tinggal satu suap lagi.
"Tidak Humaira, abang sudah kenyang ini saja sudah yang tambahan untuk kedua kalinya. Masakan Humaira memang tidak akan tandingan. Lihatlah badan abang sekarang sudah semakin besar saja," ujar Randa sambil mengusap kepala istrinya lembut. Laki-laki tampan itu begitu memuja istrinya, dan tak pernah sekalipun dirinya berkata kasar kepada wanita yang kini tengah mengandung anaknya itu begitupun dengan putri tirinya yang amat dia sayangi seperti anaknya sendiri.
"Baiklah Bang, Arumi mau nambah lagi?" Kini Xena beralih pada putrinya yang sudah hampir tepar karena terlalu kenyang.
__ADS_1
"Tidak Umma, arum sudah sangat kenyang. Masakan Umma memang the best banget pokoknya." jawab Arumi sambil mengusap perutnya yang terlihat buncit karena terlalu banyak makan. Sedangkan Xena hanya bisa tersenyum bangga dengan jawaban suami begitupun putrinya.
TBC