POLIGAMI

POLIGAMI
50


__ADS_3

Poligami


Ending 50


Sejak terakhir Yogi bertemu dengan putrinya, Arumi dan juga mantan istrinya Xena hingga saat ini Yogi tidak pernah lagi bertemu atau menemui anaknya. Dirinya begitu kecewa dengan penolakan yang dilakukan Arumi kala itu sehingga Yogi memilih menjauh dan pindah dari sana ke kota seberang yang jaraknya lumayan jauh.


Bukan tidak ada rasa rindu yang di rasakan Yogi untuk sang putri, hanya saja hatinya seperti beku dan mulai egois sendiri. Sejak bercerai pun Yogi tidak pernah memberi nafkah untuk putrinya, dirinya enggan dan juga malu. Malu karena rasanya sudah begitu lama tidak memberikan nafkah kepada sang anak. Toh pikir Yogi, ayah sambung putrinya tidak akan menelantarkan anaknya dan tidak akan membiarkan Arumi kelaparan melihat dari bagaimana laki-laki yang dulu berstatus sepupu mantan istrinya itu begitu menyayangi sang anak.


"Mas, kamu ngapain ngelamun saja dari tadi sih?" Kanina yang sudah lama berdiri di dekat suaminya angkat bicara karena Yogi yang tidak menyadari kehadiran dirinya.


"Hmm, aku nggak apa-apa kok Sayang," jawabnya dengan senyum yang berusaha dia paksakan.


"Oh yaudah kalau kamu nggak mau cerita sama aku, Mas. Oh iya Mas besok aku minta uang ya soalnya aku mau beli tas sama perawatan." Kanina mengembangkan senyumnya sambil mengusap lembut tangan Yogi yang ada di atas laga laki-laki itu.

__ADS_1


Yogi menatap istrinya cukup lama. "Bukankah dua hari yang lalu Mas sudah kasih kamu uang Sayang? Masa uang sebanyak itu kamu habisin dalam dua hari?" tanya Yogi heran.


"Ya habislah Mas, kamu kan tahu jika aku habis bersenang-senang dengan teman-temanku dan aku juga yang mentraktir mereka. Belum lagi aku juga beli kalung sama gelang mana mungkin uangya akan bersisa Mas," jawabnya enteng.


"Lima puluh juta kamu habiskan dalam dua hari Sayang? Bukankah Mas sudah berpesan jika uang itu juga untuk kebutuhan kita dan yang lainnya?" Yogi heran dengan kelakuan istrinya yang semakin hari semakin tidak terkendali.


"Sesekali aku belanja banyak dan mentraktir teman-temanku apa salahnya sih Mas? Lagian juga nggak setiap hari kan aku boros seperti itu?" Kanina menekuk wajahnya kesal. Tidak bisanya Yogi akan protes dengan apa yang dia lakukan. Apapun yang dia minta pasti Yogi akan menuruti keinginanannya.


Yogi memijit keningnya karena terasa sakit. "Seengaknya uang lima puluh juta itu masih ada sisanya Sayang, ini masa kamu habiskan semuanya. Paling tidak tinggal sepuluh juta atau tidak lima juta paling rendah lah, tapi ini kamu memang keterlaluan borosnya." kesal Yogi. Siapa yang tidak akan kesal, jika uang sebanyak itu hanya habis dalam waktu dua hari, itupun belum termasuk untuk tagihan listrik dan biaya makan mereka selama sebulan.


"Bukan begitu Sayang, hanya saja akhir-akhir ini Mas lihat kamu itu semakin boros saja."


"Lagian kan kita belum punya anak Mas, masih bisa aku bersenang-senang untuk sementara waktu bukan? Nanti kalau aku sudah hamil lagi pasti aku nggak akan boros lagi kok Mas, aku pasti juga mikirin masa depan anak kita juga nantinya." jawab Kanina enteng.

__ADS_1


Anak? Yogi terdiam dan kembali mengingat sang putri yang jauh di seberang sana. Ntah seperti apa wajah anaknya itu saat ini Yogi tidak tahu, sudah terlalu lama dirinya tidak kembali ke kota di mana anaknya tinggal. Rindu itu jelas saja Yogi rasakan, meskipun dirinya mengikuti egonya yang mulai meninggi namun jika ada yang menyebut kata anak dirinya pasti balan mengingat sang putri.


"Kamu kok malah bengong sih Mas?" kesal Kanina yang membuat Yogi tersadar dari lamunannya.


"Aku hanya merindukan putriku saja Sayang, sudah lama aku tidak melihat wajahnya dan ntah seperti apa dia sekarang." jawab Yogi dengan pandangan nanar.


"Ckckck, ngapain lagi sih kamu mengingat anakmu itu Mas? Bukankah terakhir kamu bertemun dengannya dia malah tidak menghargai kamu dan menganggap kamu ayahnya? Lantas apa gunanya kamu mengingat orang yang bahkan malas untuk berbicara sama kamu," ujar Kanina.


Kata-kata itulah yang sering dikatakan Kanina bila Yogi merindukan anaknya dan kata itu pulalah yang menbuat ego Yogi semakin tinggi. Maka dari itu dia menjadi enggan untuk datang dan melihat rupa sang anak.


"Lagian anakmu itu aku yakin kok Mas tidak akan kekurangan kasih sayang dari ayah sambungnya, bahkan kamu tidak lupa kan jika waktu itu kita melihat betapa bahagianya dia bersama ayah sambungnya."


"Kamu benar Sayang, buat apa aku mengingatnya lagi jika dia sendiri tidak ingat aku," jawab Yogi akhrinya.

__ADS_1


Lagi-lagi Yogi kembali membenarkan ucapan istrinya. Toh apa yang dikatakan Kanina memang benar, dirinya tidak akan pernah lupa bagaimana bahagianya putrinya itu kala bersama ayah sambungnya bahkan gelak tawa terlihat jelas dari wajah anaknya kala itu. Beginilah akhir dari pikiran Yogi yang mementingkan egonya dari pada berusaha memperbaiki kesalahan. Seperti tidak ada rasa menyesal yang di rasakan laki-laki itu dan lebih mempercayai ucapan sang istri yang membuat dirinya tidak sadar jika itu kata-kata itu hanya sebuah hasutan.



__ADS_2