
Poligami
33
Pernikahan
Akhirnya hari ini hari pernikahan Randa dan juga Xena. Tampak Xena cantik dengan gamis putih syar'i dan mahkota kecil di atas kepalanya. Qoilila memegang tangan sang putri menuju dimana Randa tengah duduk di depan pak penghulu serta Hilman, ayah Xena.
Sedangkan Arumi tengah duduk tidak jauh dari Randa dengan gaun putih serta hijab hitam dikepalanya. Gadis itu cukup anteng tanpa merengek seperti biasa saat melihat keberadaan Randa.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aqila Xena binti Hilman Amanah dengan mahar tersebut dibayar tunai!!" ujar Randa menjabat tangan Hilman dengan sedikit gemetar. Jujur saja rasanya ini bagai mimpi yang dilalui Randa. Dirinya tidak menyangka akan menikah dengan pujaan hatinya yang telah lama ia inginkan.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!!!"
"Selamat Nak, semoga ini menjadi pernikahan terakhir kamu Nak. Jadilah istri yang penurut sama suami Nak. Semoga kamu bahagia," ujar Qailila dengan haru. Harapannya hanya satu, anaknya bahagia dan pernikahan ini menjadi pernikahan terakhir bagi anaknya.
__ADS_1
"Aamiin, terima kasih Ibu do'anya." jawab Xena dengan tersenyum manis. Harapannya juga sama dengan sang ibu, ini pernikahan terakhir bagi dirinya.
"Selamat Nak atas pernikahan kamu dan juga Randa. Ayah berharap dengan pernikahan ini kamu akan merasakan yang namanya bahagia tanpa rasa sakit. Ayah berharap rumah tangga kalian langgeng sampai maut memisahkan tanpa ada masalah yang berat datang. Namanya juga rumah tangga tidak melulu tentang bahagia dan akan ada kerikil-kerikil kecil yang datang menghampiri. Lalui bersama, dan selesaikan bersama insya Allah rumah tangga kalian akan awet."
"Aamiin terima kasih Ayah,"
Hilman menganggukkan kepadanya. "Ayah berharap kamu akan membahagiakan putri Ayah, Randa. Menerima setiap kekurangan yang dimiliki putri, ayah. Dan menjadi imam terbaik bagi putri dan juga cucu ayah."
"Insya Allah, aku akan menjadi suami dan ayah yang baik bagi istri dan anakku, Yah. Aku janji akan membahagiakan Xena maupun Arumi dengan semampuku. Ayah tidak perlu khawatir akan hal itu karena tanpa Ayah katakan pun aku pasti akan melakukannya." ujar Randa dengan penuh keyakinan.
"Ayah akan pegang kata-kata kamu Ran," Randa menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Randa menganggukkan kepalanya. "Iya Sayang, malam ini Baba akan tidur di rumah Uti." jawab Randa sambil menciumi pipi chubby Arumi.
"Mulai sekarang Arumi tidak boleh lagi manggil Om tapi manggilnya Baba. Apa Arumi mengerti kata baba?" tanya Randa menatap gadis kecil itu.
"Baiklah Baba," jawabnya malu-malu.
__ADS_1
*****
Malamnya Xena maupun Randa sudah berada di kamar pengantin mereka. Kamar yang sudah dihias sedemikian rupa cantiknya. Dengan taburan bunga mawar yang di bentuk dua gambar hati yang saling menyatu.
"Umma, Baba boleh arum masuk?" Atiku melonggokkan kepalanya.
"Boleh, masuklah Sayang," jawab Randa sambil tersenyum.
Dengan senang hati Arumi melangkah menuju Xena maupun Randa yang kini tengah duduk di bibir ranjang.
"Baba, Umma malam ini arum mau tidur disini ya? Arum ingin merasakan tidur bersama Baba dan Umma seperti teman-teman arum yang lainnya. Arum iri dengan mereka yang sering menceritakan malam mereka bersama ayah dan ibu mereka." ujar Arumi dengan mata penuh binar.
"Boleh, Arumi boleh kok tidur bareng Umma sama baba malam ini," ujar Randa.
Jujur saja dirinya iba dengan putri sambungnya yang tidak merasakan kasih sayang seorang ayah. Dimana anak seusianya masih asik-asiknya bermain dengan ayahnya kamu gadis kecil itu tidak merasakan sama sekali.
"Beneran Baba?" Randa menganggukkan kepalanya sambil menampilkan senyum manisnya.
__ADS_1
TBC