
Poligami
42
Randa hanya diam tanpa menanggapi ucapan Xena, lagian apa salahnya mantan madu menyapa mantan istri. Toh sekarang Xena sudah menjadi miliknya di tambah lagi Xena tengah mengandung anaknya. Dirinya percaya dengan sang istri yang tidak akan pernah berbohong apalagi itu urusan rumah tangga mereka.
"Yasudah tidak apa-apa Humaira," ujar Randa lembut.
"Apa Abang tidak marah?" tanya Xena menatap sang suami yang fokus mengemudi.
Randa menggelengkan kepalanya. "Marah? Buat apa abang marah Humaira, lagian itu wajar kook mereka nyapa kamu. Tapi jika mereka menganggu kamu dengan hal yang tidak baik sudah pasti abang marah." jawab Randa tegas membuat Xena terharu.
Jujur saja rasanya pernikahan Xena kali ini begitu indah, memiliki suami yang penuh kasih sayang dan cinta. Sayang kepada putrinya yang jelas-jelas bukan darah daging laki-laki itu.
__ADS_1
"Terima kasih Bang, terima kasih atas semua yang Abang lakuin buat aku dan juga Arumi," ujar Xena dengan binar bahagia serta rasa haru bersamaan.
"Humaira tidak perlu berterima kasih, yang harus berterima kasih itu Abang karena, kamu sudah mau menikah dan menjadi istri Abang. Wanita yang amat Abang cintai setelah Mama," jawabnya dengan lembut. Tidak lupa tangan Randa mengusap sebentar wajah cantik istrinya.
Randa, Xena dan juga Arumi akhirnya sampai di kediaman mereka. Randa melarang Xena untuk membawa belanjaan yang di beli wanita itu lantaran Randa yang tidak tega membiarkan sang istri membawa belanjaan itu apalagi melihat wajah Xena yang lelah.
Randa menyuruh sang istri untuk duduk di ruang tamu bersama putri mereka, sedangkan dirinya kedapur untuk menyusun belanjaan itu pada tempatnya.
"Terima kasih Bang," ujar Xena menerima air yang di sodorkan suaminya.
"Sama-sama Humaira,"
Di kediaman Yogi, sepasang suami istri itu tengah berbaring di ranjang mereka dengan saling berhadapan. Setelah acara saling diam tadi siang akhirnya Kanina luluh juga dengan ucapan suaminya yang berusaha mengajak wanita itu berbicara.
__ADS_1
"Sayang, aku kapan ya bisa hamil lagi?" tanya Kanina menatap sendu suaminya. Jujur saja hatinya sudah amat sangat merindukan sosok seorang anak. Padahal selama ini mereka sudah berusaha agar dirinya kembali hamil, namun sampai sekarang belum juga membuahkan hasil.
"Sabar Sayang, mungkin kita harus menunggu sedikit lagi agar kita memiliki seorang anak," ujar Yogi lembut. Sama dengan Kanina dirinya juga amat merindukan sosok seorang anak di kediaman mereka. Percuma saja kediaman mereka besar, namun tidak ada suara tawa anak kecil yang menghiasi.
"Apa ini karma buat kita Sayang? Atas apa yang kita lakukan pada Mbak Xena dan anaknya?" Kanina menatap sendu wajah suaminya. Jujur saja ada rasa bersalah dalam diri Kanina atas perbuatannya kepada Xena kala itu. Apalagi dirinya yang menatap Arumi tidak suka.
"Ntahlah Sayang, Mas juga tidak tahu apakah ini teguran buat kita atas perlakuan kita pada mereka kala itu atau tidak. Tapi kita harus tetap berfikir positif, mungkin saja Allah memang mau yang terbaik buat kita sekarang Sayang. Mudah-mudah saja dalam waktu dekat ini kita di kasih seorang anak," Kanina menganggukkan kepalanya setuju. Harapannya hanya itu, agar segera hamil.
"Aamiin, mudah-mudah kali ini kita berhasil Sayang. Jujur saja aku iri dengan Mbak Xena yang sekarang sudah kembali hamil." ujarnya menerawang pada kejadian tadi siang.
"Iya Sayang, tapi dia menikah sama siapa?" tanya Yogi menatap bingung istrinya.
TBC
__ADS_1