
"Bau alkohol, sepertinya dia mabuk" Clovis membawa Diana ke dalam mobilnya.
"Bagaimana ini? Aku harus membawanya kemana?" diraihnya tas milik Diana, ditemukan kartu apartemen miliknya. "Baiklah, Aku akan membawanya pulang ke apartemen miliknya. Kenapa Kamu selalu menyulitkan ku Diana?"
Clovis mengendarai mobilnya dengan sangat lambat, jalanan begitu macet mengingat malam ini adalah malam minggu. Banyak orang yang pergi keluar untuk melakukan refreshing. Dia melihat jam pada mobilnya menunjukkan pukul sebelas malam. "Sudah hampir tengah malam dan orang-orang masih berkeliaran? Apa mereka tidak bisa menghabiskan waktu libur dengan beristirahat?"
Pukul dua belas malam Clovis berhasil memasuki loby apartemen milik Diana. Diangkatnya tubuh itu, namun pakaian Diana sangat minim sehingga Clovis membuka jas miliknya dan menyelimuti tubuh Diana. "Aku tidak ingin orang berpikiran yang tidak-tidak kepadaku"
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Aku juga mencintaimu" Mata Diana masih tertutup namun bibirnya mulai meracau.
"Kalau Kamu tidak terbiasa, seharusnya Kamu menghindari minuman itu. Dasar bocah" Clovis memasuki lift. Hanya ada mereka berdua disana, mungkin orang-orang sudah berada di alam mimpi mereka.
"Aku harap ini terakhir kali Aku membawamu seperti ini. Tubuhmu sangat berat Nona" Clovis menatap wajah Diana. Wajahnya yang polos, nyaris tak ada make up di wajahnya. Bibirnya terlihat merah alami. Bahkan bisa dikatakan Tuhan begitu menyayangi Diana sehingga menciptakannya dengan begitu sempurna. Pintu lift terbuka, Clovis tersadar dari lamunannya.
Clovis membawa Diana ke apartemen miliknya. Dia mengetahui apartemen Diana dari Tio yang waktu itu di telpon karena Diana tak sadarkan diri juga.
__ADS_1
Clovis membaringkan tubuh Diana di atas sofa, kemudian dia membawakan segelas air. "Minumlah dulu" Clovis membantu Diana untuk minum. Diana menghabiskan minumnya, namun tiba-tiba "Hooeeeekkkkk" Diana mengeluarkan semua isi dalam perutnya tepat di pangkuan Clovis.
"DIANAAAAAA......." Tubuh Clovis kini penuh dengan kotoran itu. Clovis pergi meninggalkan Diana dan mencari kamar mandi. Dia membersihkan seluruh kotoran tersebut, namun dia tidak bisa menghilangkan bau nya. Clovis pun membuka seluruh pakaiannya. Hanya celana boxer yang ada di tubuhnya. Clovis mencari handuk untuk menutupi tubuhnya, namun dia tidak menemukannya. "Apa dia tidak mempunyai handuk?" Clovis memasuki ruang ganti pakaian milik Diana, namun disana hanya ada beberapa pakaian dalam milik Diana. "Kenapa dia begitu ceroboh, apa dia tidak berpikir orang akan melihat ini?" Clovis menghentikan omelannya. "Ini rumahnya, Aku yang ceroboh" Clovis memutuskan untuk pulang dengan menggunakan celana pendek saja. Namun di luar sangat ramai, orang-orang mungkin baru pulang dari pesta. Bagaimana mungkin dia keluar dengan keadaan seperti ini.
"Aku harus menunggu mereka kembali ke dalam rumahnya masing-masing. Awas Kau Dianaaa"
Hampir satu jam berlalu namun sepertinya mereka malah melanjutkan pestanya tepat di samping apartemen milik Diana. "Sial... Bagaimana ini?"
__ADS_1
Clovis mengangkat tubuh Diana ke dalam kamarnya. "Baiklah, Kamu sudah aman. Aku akan pulang sebelum Kamu menyadari Aku berada disini" Clovis kembali ke ruang tengah, dia membaringkan dirinya di atas sofa. Tanpa menunggu lama, Clovis sudah berada bersama mimpinya.
Diana terbangun pada dini hari. Dia merasakan tenggorokannya yang sangat kering. Diana pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Setelah puas, dia berpikir bagaimana caranya dia ada di rumahnya? Siapa yang mengantarkannya?