
Diana dan Clovis tiba di sebuah restoran tempat Via, Rara dan Tomi makan-makan. Dari kejauhan terlihat Via melambaikan tangannya "Di... Disini"
Diana menghampiri mereka, namun wajah mereka tiba-tiba membeku saat melihat Clovis berada tepat di belakang Diana. Via, Rara dan Tomi langsung berdiri. "Selamat Siang Tuan"
"Duduklah, sekarang Aku suami Diana. Bukan atasan kalian lagi"
"O...Oh baik Tuan"
"Mana makanan kalian?"
"Kami sudah selesai, saat Diana memberi tahu Kami, Kami baru selesai..." Via terlihat ketakutan.
"Lalu untuk apa Kita kemari? Sepertinya pestanya sudah selesai" Clovis menatap Diana.
"Kita... Kita akan makan lagi. Iya kan Ra, Tom?"
Rara dan Tomi menganggukkan kepalanya.
"Benar, ayo Kita pesan makanan" Rara terlihat bersemangat namun tidak dengan Tomi.
Mereka memesan makanan sangat banyak. Diana memakan beberapa makanan, begitupun Clovis. Tidak ada pembicaraan selama makan, yang terdengar hanyalah suara sendok dan piring yang saling beradu.
Via, Rara dan Tomi saling lirik. Mereka cukup kewalahan dalam menghabiskan makanan. "Apa rencana kalian setelah selesai magang?" Clovis bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan.
Diana menggelengkan kepalanya, bagaimana mungkin Clovis bertanya seperti itu disaat mereka sedang merayakan keberhasilan magang.
"Kami tentu akan kembali ke kampus. Untuk menyelesaikan tugas akhir Kami" Diana segera menjawab ketika melihat keraguan dari wajah sahabat-sahabatnya.
"Oh begitu? Hanya itu?"
"Kami akan menikmati masa-masa mahasiswa Kami. Iya kan teman-teman"
"Seharusnya kalian memikirkan masa depan kalian. Masa setelah lulus kuliah sulit ditebak"
__ADS_1
Glek... Makanan terasa berat di tenggorokan Diana, Via, Rara dan Tomi.
"Sayang, ini kan perayaan kelulusan magang Kami. Jadi jangan dulu bahas masalah itu ya?" Diana menggenggam tangan Clovis.
"Itu karena masa depanmu sudah jelas, Kamu hanya akan menjadi Ibu dari anak-anak ku dan menjaga mereka dengan baik"
Blusshhh... Pipi Diana memerah, Via dan Rara saling menyenggolkan lengannya.
"Berbeda dengan mereka, mereka perlu memikirkannya. Aku yakin mereka tidak keberatan saat Aku membahas ini"
Dengan berat hati, Via, Rara dan Tomi menganggukkan kepalanya.
"Setelah ijazah sudah berada di tangan kalian, segera hubungi Aku"
Mereka membelalakkan matanya, "Beneran? Apa itu artinya Kita..."
"Tentu Kalian harus mengikuti seleksi terlebih dahulu"
Via, Rara dan Tomi kembali menarik nafas panjang. Diana hanya menyengirkan giginya, dia benar-benar merasa bersalah karena mengajak Clovis ke tempat ini.
"Kenapa Honey?"
"Tidak"
"Kamu pasti kenapa-kenapa, katakan padaku"
"Tidak"
Mobil berhenti dengan mendadak, membuat Diana hampir kehilangan keseimbangan.
"Katakan padaku?"
"Katakan apa?"
__ADS_1
"Yang ada di dalam pikiranmu"
"Tidak Mas, Aku hanya..."
Cup, Clovis mengecup bibir Diana. Diana membelalakkan matanya.
"Kalau Kamu tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, ungkapkan dengan ini" Clovis kembali mengecup bibir Diana, tak lama kemudian kecupan itu berubah menjadi *******. Diana terbuai dengan kelembutannya. Namun pikirannya kembali saat mengingat kata-kata Clovis untuk mengungkapkan.
Diana menggigit bibir Clovis, "Aaww, kenapa Sayang? Kamu?" gigitan itu memang tidak sakit, namun membuat Clovis terkejut.
"Itu yang Aku rasakan"
"Apa? Siapa yang berani mencium mu selain Aku? Katakan?"
"Sayang, apaan sih? Aku merasa saat Aku sedang merayakan kemenangan bersama teman-temanku, Kamu memberikan harapan palsu"
"Memangnya Aku gimana?" Clovis terlihat bingung.
"Kamu meminta mereka menghubungi mu setelah mereka lulus, Aku kira Kamu akan menerima mereka di perusahaanmu"
"Memang itu kenyataannya kan?"
"Aaah kenapa sih Sayang? Temen-temen Aku jadi canggung. Dulu mungkin ketika Kami masih magang di perusahaan QJ, Aku bisa maklum. Tapi sekarang Kami tidak lagi disana, dan Kamu bilang kalau Kamu suamiku, bukan atasan Kita. Tapi Kamu tetep membuat Kita canggung. Bukan hanya Via, Rara ataupun Tomi. Tapi Aku juga, Aku masih merasa kalau Kamu adalah presdir yang menyebalkan saat di luar rumah"
"Kalau begitu Kita sepertinya cocok diam di dalam rumah ya"
"Aaaaaahhh Sayaaaaaang... Keseeeel Aku sama Kamu" Diana merajuk, namun Clovis hanya tertawa.
"Baiklah, maafkan Aku Sayang. Aku tidak pernah berhubungan langsung dengan teman dari... Ehm maksud ku..."
"Maksud Mas, ketika Mas pacaran sama Vina, Mas hanya menikmati semuanya berdua gitu? Aku Diana, bukan Vina" air mata Diana menggenang di pelupuk matanya
"Maafkan Aku Honey, Aku akan mencobanya. Aku janji" Clovis memeluk tubuh Diana, Diana menghapus air matanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, Kamu bisa memulainya bersamaku. Anggap Aku teman dekat mu ketika di dalam rumah. Jangan ada keraguan atau kecanggungan lagi" Diana menganggukkan kepalanya.