
"Hushhh... Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Nak Clovis tidak mungkin seperti itu. Sepertinya ini hanya salah paham." Grandma menghentikan pembicaraan Diana mengingat Clovis saat ini tengah mengawasi mereka.
Diana tampak memonyongkan bibirnya, "Kenapa grandma membela Tuan Clovis? Sebenarnya yang cucu grandma itu aku atau Tuan Clovis sih?"
"Tentu saja grandma ada di pihak mu, grandma tidak akan diam saja saat cucu grandma diperlakukan dengan sangat tidak baik." Grandma tampak berkacak pinggang.
"Kalau Tuan Clovis? Dia kan sudah memperlakukan ku dengan tidak baik, masa cucu grandma yang menggemaskan ini dikurung berhari-hari. Ayo grandma, berikan hukuman untuk om-om itu." Diana memeluk tubuh grandma.
Clovis yang melihat itu dari kerjauhan tampak menelan salivanya.
"Baiklah, grand ma akan menghukung nak Clovis. Seenaknya saja membiarkan cucu grandma ini keluyuran di pagi buta."
"Grand ma... Aku tidak keluyuran."
Grandma pun tertawa dan memeluk Diana.
Malam hari tiba, Clovis tampak duduk di luar kamar Diana. Saat ini Diana tengah tertidur di dalam kamarnya.
"Nak Clovis."
Clovis menengok ke arah suara, "Grand ma."
"Kamu tampak sangat kelelahan, pulanglah. Biarkan Diana disini dulu untuk sementara." Grand ma melihat wajah Clovis yang begitu lesu.
"No Grand ma, mana mungkin aku meninggalkan Diana sendirian. Grand ma tau kan kenapa aku mengurusng Diana di dalam rumah? Aku benar-benar takut Diana kenapa-napa." Clovis duduk di samping grandma.
"Tapi bukankah semua sudah selesai? Diana akan aman selama berada di rumah ini."
"Grandma... Boleh aku tinggal di sini sampai Diana benar-benar mau memaafkan ku?" Clovis menatap grandma dengan penuh harap.
"Hahaha, tentu saja boleh. Tapi bagaimana dengan pekerjaan mu?" Grand ma tampak tertawa melihat wajah Clovis yang memelas.
"Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dari jarak jauh." Clovis tampak sangat antusias.
"Baiklah jika itu mau mu, kalau begitu istirahatlah. Sepertinya Diana sudah tertidur."
Clovis menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam kamar yang ada di samping kamar yang ditempati oleh Diana.
Clovis segera membersihkan badannya setelah seseorang mengantarkan pakaiannya ke kediaman grandma.
"Diana, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti mu." Clovis mengusap kasar wajahnya.
Beberapa hari berlalu, Diana mengalami morning sick.
__ADS_1
Clovis tampak panik dan menghubungi dokter kenalannya, "Saya tidak mau tau, kamu harus bisa mengobati istri saya. Saya tidak mau Diana terlihat sakit seperti ini."
"Maaf Tuan, tapi itu adalah keadaan yang sangat wajar. Nona Diana mengalami hal yang biasa terjadi kepada ibu hamil."
"Jangan banyak alasan, sembuhkan Diana atau kamu tidak akan pernah bisa kembali ke rumah sakit." Clovis tampak prustasi, dia tidak tega melihat Diana yang mual setiap pagi.
Dari sebrang seorang dokter tengah menggerutu, "Nona Diana hamil olehnya, lalu sekarang dia hamil dan kenapa aku yang harus menanggung resikonya?"
Diana duduk lemas di atas kasur, "Grand ma, Aku mau bubur ayam. Rasanya lapar sekali setelah mengeluarkan isi dari dalam perut ku."
Clovis yang mendengar itu segera pergi keluar dan mencari bubur ayam yang diinginkan Diana.
Dalam beberapa waktu, Clovis tiba dengan membawa semangkuk bubur ayam.
Grandma memberikan bubur yang masih terbungkus rapih di dalam mangkuk plastik.
"Hoeeekkkk, grand ma. Aroma dari daun seledrinya sangat menyengat, aku tidak suka." Diana menutup mulutnya dan berlari menuju kamar mandi.
Clovis tampak sangat khawatir, ia hendak menghampiri Diana namun grand ma lebih dulu menghampiri Diana.
"Kenapa aku mual terus ya grandma?" Diana menarik nafas untuk menyegarkan pernafasannya.
Namun tiba-tiba, "Hoeeekkk.... Hoeeekkkk...."
"Apa kita pergi ke dokter saja? Sepertinya kamu harus segera mendapatkan penanganan." Grandma mengusap punggung Diana.
"Sepertinya aku tidak asing dengan aroma ini." Diana mengenduskan hidungnya.
"Aroma? Aroma apa? Grandma tidak memakai pengharum apapun." Grandma tampak mengenduskan hidungnya.
"Bukan... Bukan itu, ini aroma tubuh Tuan Clovis. Apa Grandma memakai pengharum ruangan yang sama dengan aroma parfum Tuan Clovis?" Diana tampak bersemangat.
"Tidak, grandma bahkan tidak mencium bau apapun." Grandma mencari keberadaan Clovis, dia yakin kalau Clovis ada di sekitar sana.
"Grandma, tolong aku..." Diana tampak memelas.
"Kenapa sayang? Ada yang ingin kamu makan?" Grandma menuntun Diana menuju kursi.
"Tidak, bukan itu." Diana tampak tersipu malu.
"Kenapa sayang?" Grandma mengelus tangan Diana.
"Sepertinya aku merindukan Tuan Clovis. Tolong belikan parfum yang sama dengan parfum yang digunakan oleh Tuan Clovis."
__ADS_1
Clovis yang mendengar itu tampak tersipu, "Diana merindukan ku? Ya Tuhan, aku tidak percaya ini. Apa ini karena anak yang dikandungnya? Good job, kamu harus membujuk mommy mu untuk memaafkan Daddy ya."
"Parfum? Tapi grandma tidak tau parfum apa yang digunakan nak Clovis." Grandma tampak bingung.
"Kalau begitu grandma telpon Tuan Clovis sekarang dan tanyakan padanya." Diana tampak memelas.
Clovis tampak sedikit panik, dia segera pergi menuju kamarnya.
"Kenapa harus lewat telpon? Kamu suruh saja nak Clovis kemari, jadi tidak perlu membeli parfum yang sama dengan miliknya kan?" Grandma tampak menahan tawa.
"Bukan begitu, aku hanya..."
Grandma menggenggam tangan Diana, "Sayang, masalah itu harus diselesaikan. Tidak akan selesai dengan sendirinya. Bicarakan baik-baik, jangan sampai kalian menyesal."
Diana menundukkan kepalanya, "Tapi Tuan Clovis sudah sangat jahat kepada ku Grandma."
"Tanyakan baik-baik kenapa dia bersikap seperti itu. Sudah beberapa hari kamu di rumah grandma, mungkin saat ini nak Clovis sedang sangat mengkhawatirkan mu." Grandma mencoba memberikan penjelasan.
"Tuan Clovis tidak mungkin mengkhawatirkan ku, dia tidak pulang beberapa hari dan mengurung ku di dalam rumah. Aku bukan peliharaannya yang harus dikurung seperti itu. Bahkan dia memutuskan jaringan internet supaya aku tidak bisa mengakses apapun. Apa menurut grandma itu hal yang wajar? Sepertinya Tuan Clovis seorang mafia, hanya mafia yang bisa melakukan hal seperti itu." Diana tampak sangat kesal.
"Hushh, jangan seperti itu. Tidak boleh berburuk sangka. Sekarang kalau nak Clovis kemari, apa kamu mau berbicara dengannya? Memaafkan atau tidak, kamu bisa memutuskannya setelah kamu berbicara dengannya. Grandma hanya akan mendukung yang terbaik untuk kalian." Grandma memeluk Diana.
Diana memeluk grandma, "Seharusnya saat ini Tuan Clovis sudah menemukan ku, kenapa dia lama sekali menemukan ku."
"Nak Clovis sudah menemukan mu sejak awal, bahkan dia menelpon grandma sebelum kamu datang."
Diana tampak sangat terkejut, "Benarkah? Jadi dia sudah tau kalau aku ada di sini? Kenapa dia tidak kemari?"
Grandma tersenyum, "Tanyakan kepadanya langsung."
"Tanyakan langsung? Maksud grandma?" Diana tampak bingung.
Grandma menunjuk sebuah pintu kamar di ujung ruangan. "Di sana."
Diana melihat pintu yang tertutup rapat, bahkan ruangan itu tampak seperti tidak ada penghuninya.
Diana berjalan menghampiri pintu tersebut.
...****************...
Maafkan lama banget hiatus nya, jadi ada sedikit pembiasaan dari aktivitas ku.
Dulu aku menulis saat pandemi, gabut banget. Dan sekarang aku sudah mulai dengan aktivitas ku.
__ADS_1
Semoga bisa melanjutkan ceritanya ya, tolong selalu suport aku ya 😍
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian 😘😘