
"Beneran Tuan bertanya seperti itu?"
"Saya bukan Tuan mu? Apa Kamu ingin orang-orang berpikir kalau Saya sedang kencan bersama mahiswa magang?"
"Memang seperti itu" Diana memelankan suaranya, namun Clovis mendengarnya dan menatap Diana dengan tajam.
"Iya iya Kita sudah menikah. Tapi kan..."
"Panggil Saya sayang, honey, Mas atau apalah"
"Apalah? Iya Tuan"
"No, kecuali itu"
"Ba...Baiklah Mas"
"Terdengar baik, tapi lebih baik yang Aku sebutkan sebelumnya"
"Sebelumnya?"
"Sudahlah, Aku ragu Kamu mahasiswa terbaik"
"Kenapa? Bukankah desainku sangat bagus bahkan Kamu memakainya untuk tunangan sahabatmu"
"Iya, dan Kamu melakukannya untuk Keno"
"Tidak, kalau tau itu untuk Ken, Aku tidak akan membuat yang secantik itu"
"Kalau Ken memberikannya kepadamu?" Diana menatap Clovis penuh tanya. "Sudahlah, Aku tau Kamu mencintai dia. Dua kali Kemu pingsan karenanya"
Diana menarik nafas panjang, tanpa aba-aba dia menceritakan semuanya kepada Clovis. Bahkan tentang perjodohannya.
"Kenapa Kamu menolak perjodohan tanpa melihat orangnya?"
"Saat itu usia Aku baru tujuh belas tahun"
"Kalau sekarang? Apa Kamu akan menerimanya?"
"Tentu tidak"
"Iya bagus"
__ADS_1
"Bagus? Apanya?"
"Iya maksudku jangan menikah dengan orang yang tidak Kamu kenal"
"Lalu? Aku tidak mengenalmu"
"Paling tidak Kamu mengenalku sebagai presdir yang menyebalkan"
Diana tertawa mendengar ucapan Clovis, Clovis menatap Diana dengan begitu takjub. Diana yang sesungguhnya, ceria dan sangat terbuka.
"Kenapa Kamu masih ingat kata-kata itu sih? Oke Aku cabut kata-kata itu, tapi hanya untuk di luar kantor. Kalo di kantor, Kamu tetep nyebelin Mas"
"Apa menurutmu Aku harus sedekat ini dengan semua karyawanku?"
"Tidak..."
"Lalu?"
"Iya masa Mas deket kaya gini sama yang lain"
"Cemburu ya?"
"Ih apaan sih, nggak. Lagian Mas kan sudah punya pacar."
Diana terlihat senang "Baguslah"
"Apanya yang bagus?"
"Eh, anu... Maksudku bagus, kan supaya tidak ada labrak-labrakan atau cakar-cakaran" Diana kembali tertawa.
"Kebanyakan nonton film Kamu" Clovis mengacak rambut Diana.
"Ih rambutkuuu"
Selesai makan Clovis mengajak Diana ke tempat pakaian pria. "Mau ngapain Mas? Ini jam kerja kantor, bukan waktunya belanja"
"Jadi kalau diluar jam kerja mau?"
"Ya mau..."
"Kita akan membeli dasi aja kali ini" Diana memilihkan dasi yang cocok untuk Clovis. Setelah mendapatkannya mereka kembali ke mobil.
__ADS_1
"Pakaikan ini"
"Kenapa Aku yang pasang?"
"Tidak ada cermin disini, Aku tidak bisa pasang sendiri"
"Baiklah, lihat kesini"
Diana memasangkan dasi pada Clovis, jaraknya kini sangat dekat. Jantung Diana berdegub kencang, ini pertama kali dia sedekat ini bersama Clovis dalam keadaan sadar.
"Sudah beres" Clovis melihat hasil Diana.
"Ini masih kurang rapi"
"Mana?"
"Ini, coba kamu lihat lebih dekat"
Diana mendekatkan kepalanya, kemudian Clovis mencium keningnya "Terimakasih"
Pipi Diana seketika memanas, jantungnya berdegub semakin kencang. Diana menjauhkan badannya dan memegangi dadanya. Clovis hanya tersenyum melihat tingkah polos Diana.
Sepanjang perjalanan Diana hanya melihat kaca jendela, dia tidak berani melihat Clovis. Hingga mobil Clovis terparkir tepat di lobby kantor, Diana masih tidak berani menatapnya. Diana turun dari mobil, namun Clovis menahannya. "Nanti jam pulang datanglah ke ruanganku. Aku ada meeting, jadi tunggu Aku disana" Diana hanya menganggukkan kepalanya, Diana hendak turun dari mobil namun Clovis menahannya kembali. Clovis mengulurkan tangannya dan Diana refleks menciumnya. Clovis mengusap kepala Diana "Jangan kabur lagi" Clovis tersenyum, Diana begitu terpesona melihat Clovis tersenyum. Ini adalah pertama kali dia melihat bibir Clovis yang terlihat merah secara alami itu tersenyum.
Sesampainya di pintu depan, Diana mendapat teguran "Anda terlambat, bahkan lebih dari dua jam. Silahkan datangi bagian HRD kami"
"Tapi Nona..."
"Dia datang bersamaku. Terimakasih sudah bekerja dengan baik" Clovis berada tepat di belakang Diana.
"Oh iya Tuan, maaf"
Clovis menaiki lift dan diikuti oleh Diana, "Kenapa Mas ikut naik lift ini?"
"Aku akan mengantarmu sampai di ruanganmu"
Diana menundukkan kepalanya "Terimakasih"
Sesampainya di lantai yang dituju, Diana berjalan di belakang Clovis. Diana hanya menundukkan kepalanya, "Masuklah, bekerjalah dengan baik." Diana menganggukkan kepalanya dan menghampiri Via.
"Jadi dari tadi lo sama Tuan Clovis Di?"
__ADS_1
"I...Iya"
"Kamu darimana sama Tuan Clovis Di?" Shella menghampiri. Diana membelalakkan matanya karena belum menyiapkan alasan untuk pertanyaan ini.