
catatan : Novel ini Aku tulis khusus untuk yang uwu-uwu... diusahakan nggak ada konflik yang berat, karena yang berat itu rindu, bukan konflik 😄😄😄
Happy reading guys...
"Tioooo..." Clovis menajamkan pandangannya. Diana mengusap bibirnya yang masih basah. Wajahnya sangat merah.
"Maaf Tuan, maaf Nona. Tapi Saya mendapat berita dari Nona Cindy, katanya Anda minta waktu setengah jam. Padahal sepuluh menit lagi Kita harus meeting"
"Batalkan meeting itu" Clovis mengambil tissue dan mengelap bibir Diana.
"Tapi..."
"Mas, ini kantor. Pekerjaanmu adalah prioritas"
Clovis menatap Tio, Tio hanya nyengir.
"Siapkan semuanya, sepuluh menit lagi Aku kesana"
"Baik Tuan" Diana melihat Tio, Tio mengacungkan jempolnya.
"Tunggu apa? Keluar"
Tio menahan tawanya dan keluar dari ruangan bernuansa abu tersebut.
"Galak banget sih"
"Kenapa? Aku tidak marah sama Kamu" Clovis melingkarkan tangannya di pinggang Diana.
"Ehm... Kamu mau meeting kan Sayang, Aku kembali ya"
__ADS_1
"Sepuluh menit" Clovis memeluk erat tubuh Diana. Diana merasa heran, dia membalas pelukan Clovis.
"Hari ini meeting memperebutkan tender. Doakan Aku Honey"
"Pasti, Aku akan selalu mendoakan yang terbaik buat Kamu. Siap-siaplah, Aku tidak ingin bos ku terlambat." Diana merapihkan pakaian Clovis kemudian memasangkan jas yang tadi sempat disimpan di atas sofa.
"Kembali tiga jam lagi"
"Iya, Aku akan kembali"
Diana keluar dari ruangan Clovis, Cindy menatap heran. "Ehm Nona Cindy, Tuan menunggu Anda di dalam"
"Diana..."
"Ya?"
"Apa Kamu..."
"Sudah Tuan, berkas yang Anda butuhkan ada di dalam map yang ini" Cindy berlari mengikuti langkah Clovis.
Diana menarik nafas panjang, "Bagaimana kalau Nona Cindy curiga kepadaku?"
Diana melangkahkan kakinya dengan cepat dan memasuki lift. Sesampainya di lantai yang dituju, semua orang memokuskan pandangannya kepada Diana. Rara menahan tawa saat melihat wajah Diana yang memerah.
"Diana, ketemu pembalutnya? Aku menyimpannya di loker" Rara sedikit berteriak, seketika semua pandangan menjadi mencair.
"Oh.. I..Iya ada, thank you ya Ra" Rara menganggukkan kepalanya. Diana mengusap dadanya.
"Aku kira Tuan ngikutin Kamu Di. Dia masuk lift yang sama soalnya" Shella menghampiri Diana.
__ADS_1
"Tuan? Ng...Nggak lah Kak, mana mungkin"
"Iya sih, itu cuma perkiraan Kita aja" Shella memberika beberapa berkas kepada Diana. "Ini hasil desain yang terkumpul, Kamu rekap di folder yang kemarin ya Di"
"Oke siap Kak"
"Santai aja, ini harus beres akhir pekan. Oh iya kalian kan beres magang ya? Tiga bulan yang singkat"
"Iya Kak, Kita disini sampai akhir pekan"
Tiba-tiba beberapa orang pegawai berbisik "Nona Vina. Dia membawa seorang putri cantik. Siapa dia?"
"Jangan-jangan itu..."
"Jangan-jangan apa?"
Diana menatap orang-orang yang berbicara, Via dan Rara saling tatap. Kemudian Rara menggelengkan kepalanya, memberikan kode kepada Via.
"Di, nanti lo bantuin gue ya. Gue nggak sanggup beresin ini semua"
"Oh... Iya boleh Vi. Nanti gue bantu"
"Thanks ya Di, lo memang terbaik"
Diana menganggukkan kepalanya, pikirannya masih berkeliaran pada pembicaraan tadi.
Jam istirahat tiba, Diana memutuskan untuk makan bersama sahabt-sahabatnya. Namun ponselnya berdering, terlihat nama "Tuan Clovis" di layarnya.
"Angkat Di"
__ADS_1
"Udah lah, gue laper" Diana memakan makanan yang ada di hadapannya. Via dan Rara saling tatap, mereka khawatir terhadap Diana. Ponsel Diana masih terus berdering.
Selagi mereka makan, beberapa pegawai terlihat menjauhi Diana. Diana merasa heran. "Ada apa?" Diana berbalik dan mendapati Clovis berada di belakangnya.