
Sesaat setelah Diana tidak sadarkan diri, pintu kembali terbuka.
Tampak Clovis di balik pintu.
"Grandma..." Clovis menghampiri grandma dan berlutut di hadapannya.
"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf." Clovis tampak sangat terpukul, setelah berkeliling mencari Diana, Clovis memutuskan untuk menemui grandma di kediamannya. Clovis akan menceritakan semuanya kepada grandma.
"Maaf untuk apa nak?" Grandma tau betul kalau Clovis dan Diana tengah mengalami salah paham.
"Istriku pergi saat aku masih tertidur, ini salah ku grandma. Aku tidak memberikan kenyamanan untuknya hingga akhirnya Diana memilih untuk pergi meninggalkan ku. Jika Diana kemari, tolong jangan marahi dia. Aku yang bersalah grandma, Diana tidak bersalah." Clovis masih berlutut di hadapan grandma.
"Duduklah nak, ceritakan kepada grandma. Sebenarnya ada apa diantara kalian? Diana sampai tidak sadarkan diri." Grandma meminta Clovis duduk di dampingnya.
"A...Apa? Diana? Diana tidak sadarkan diri? Dimana Diana sekarang grandma? Aku mencarinya seperti orang gila, aku tidak bisa hidup tanpanya. Dimana Diana grandma?" Clovis tampak seperti seorang anak yang kehilangan ibunya di keramaian.
"Tenanglah, Diana sedang istirahat. Dokter baru saja memeriksa keadaannya." Grandma mencoba menenangkan Clovis.
"Bodoh sekali aku ini, suami macam apa yang menyakiti istrinya sampai seperti ini." Clovis tampak sangat menyesal.
"Sudah, berhenti menyalahkan diri sendiri. Kalau boleh berpendapat, kalian berdua sama-sama bersalah. Kalian membiarkan masalah begitu saja tanpa mengkomunikasikannya terlebih dahulu. Sekarang, ceritakan kepada grandma. Apa yang terjadi kepada kalian?" grandma mencoba mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam diri Clovis.
"Sebenarnya ada masalah dari luar yang sedang aku hadapi..." Clovis pun menjelaskan semuanya kepada grandma.
"Ya ampun, lalu sekarang bagaimana?" Grandma tampak sangat terkejut.
"Semua sudah terkendali, pelaku saat ini sedang ditangani oleh pihak yang berwajib."
"Syukurlah kalau sudah selesai. Tapi apa yang menyebabkan Diana kabur dari rumah?" Grandma tampak penasaran.
"Mungkin Diana merasa diabaikan grandma, aku jarang pulang selama menangani masalah ini. Diana memang tidak mengetahui apa yang aku lakukan selama ini, ini salahku grandma. Seharusnya aku menceritakan semuanya kepada Diana tanpa ada sesuatu yang aku tutupi." Clovis tampak menyesal.
"Syukurlah kalau nak Clovis sudah sadar letak kesalahan mu. Sekarang, biarkan Diana tenang dahulu. Nak Clovis percayalah kepada grandma, grandma akan menjaga dan merawat Diana." Grandma mencoba memberikan solusi.
"Tidak grandma, aku tidak bisa jauh dari Diana. Aku tidak bisa pergi begitu saja." Clovis tampak memelas.
"Lalu mau bagaimana? Memaksa Diana kembali ke rumah mu? Itu tidak akan baik bagi kesehatan Diana maupun bayi yang ada dalam kandungannya." Grandma mencoba menjelaskan.
"A...Apa? Bayi? Bayi dalam kandungan? Kandungan Diana grandma? Diana hamil?" Clovis tampak tidak percaya.
__ADS_1
"Jadi kalian belum mengetahuinya? Dokter bilang kandungan Diana sudah empat minggu."
Mata Clovis tampak berkaca-kaca, "Jadi Diana benar-benar sedang mengandung anak ku? Grandma, aku ingin menemui Diana." Clovis berdiri hendak melangkahkan kaki menuju kamar.
"Memang kamu tau dimana Diana?" Grandma tampak tertawa.
Clovis menghentikan langkahnya, kemudian dia berbalik badan dan menggelengkan kepalanya.
"Lalu kamu mau mencarinya kemana?" Grandma masih tampak tertawa. "Kemarilah."
Clovis pun kembali duduk di samping grandma.
"Keadaan Diana saat ini memang baik-baik saja, tapi kita tidak boleh membuatnya stress. Diana tidak akan menerima kedatangan nak Clovis begitu saja. Biarkan Diana tenang terlebih dahulu, setelah itu kalian bisa membicarakan semuanya dan kembali setelah kondisi hati Diana baik-baik saja. Grandma sayang kepada Diana, grandma juga sayang kepada nak Clovis, bahkan kepada bayi yang ada dalam kandungan Diana. Jadi, sabarlah." Grandma mengusap penggung Clovis.
Clovis pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah grandma, Diana boleh tinggal disini. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat? Apa?"
"Biarkan aku juga tinggal di sini, aku tidak akan menemui Diana secara terang-terangan. Aku akan mengawasinya dari kejauhan, aku mohon grandma." Clovis tampak memelas, berharap grandma bisa berbaik hati dan menerima keadaannya.
"Hahaha baiklah kalau itu keinginan mu, kalian boleh tinggal di sini sampai kapanpun."
Seperti saat ini, Clovis tengah menatap Diana dengan penuh cinta.
Diana menghabiskan buah mangga yang ada di dalam toples. Bahkan, Clovis lah yang mengambilkan buah mangga dari pohon itu untuk Diana.
"Grandma, besok siapkan lagi buah mangga seperti ini ya?" Diana tampak memohon.
"Baiklah, skarang bagaimana keadaan mu? Apa sudah lebih baik?"
"Iya, sepertinya aku baik-baik saja. Hanya saja perutku kadang terasa begah." Diana memegangi perutnya yang rata.
Clovis yang melihat itu tampak sangat bahagia, membayangkan perut Diana yang membuncit berisi bayi kecil yang menggemaskan.
"Jaga makanan mu, jaga juga kesehatan mu ya." Grandma mengusap kepala Diana.
Diana menganggukkan kepalanya. Grandma belum memberitahu kehamilan Diana karena dia tidak ingin keadaan ini justru menambah beban untuk Diana.
"Grandma..." Diana memeluk grandma dengan manja.
__ADS_1
"Iya sayang? Ada yang ingin dibicarakan?" Grandma membalas pelukan Diana.
"Tuan Clovis..."
Jantung Clovis berdegub sangat kencang saat Diana menyebut namanya. Jarak mereka memang tidak terlalu jauh, sehingga Clovis masih mendengar apa yang Diana bicarakan, walaupun sebenarnya Clovis harus berusaha melebarkan telinganya.
"Tuan Clovis, ternyata tidak mencintai ku grandma." Diana tampak menangis.
Clovis membelalakkan matanya, kepalanya tampak menggeleng. Clovis ingin berteriak kalau apa yang dikatakan Diana itu salah, Clovis sangat mencintai Diana. Bahkan Clovis tidak pernah mencintai wanita manapun seperti Clovis mencintai Diana.
"Kenapa seperti itu? Apa yang membuat mu yakin kalau nak Clovis tidaj mencintai mu?" Grandma tampak terkejut, grandma tau kalau Clovis sangat mencintai Diana.
"Tuan Clovis tidak pulang-pulang, bahkan ketika pulang pun dia hanya tidur dan pergi kembali. Diana seperti istri bayangannya, tidak nampak di matanya. Diana hanya dibiarkan di rumah tanpa disentuhnya. Padahal sebelumnya, Tuan Clovis tidak memberikan kesempatan kepada Diana untuk lepas darinya. Tuan Clovis terus menyentuhku, sampai Diana kesulitan untuk berjalan."
Clovis semakin membelalakkan matanya, bagaimana mungkin Diana sepolos ini bercerita kepada grandma? Clovis juga menggelangkan kepalanya, dia ingin menjelaskan kalau dia ingin sekali menyentuh Diana bahkan lebih dari itu. Clovis ingin menerkamnya. Namun karena Clovis datang malam hari, Clovis pun tidak tega mengganggu tidur Diana.
"Sepertinya hanya aku yang mencintai Tuan Clovis, tapi Tuan Clovis tidak pernah mencintai ku."
Grandma tersenyum, "Bagaimana kalau apa yang kamu pikirkan itu salah?"
"Maksud grandma? Tuan Clovis mencintai ku begitu? Hahaha tidak mungkin grandma, Tuan Clovis bahkan sangat mengekangku. Tuan Clovis merusak ponselku sehingga aku tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun. Dasar om-om jahat." Diana tampak mengomel.
"Hahaha apa kamu bilang? Om-om?" Grandma tampak tertawa.
Wajah Clovis sudah sangat merah, Clovis benar-benar tidak menyangka kalau Diana sepolos ini.
"Benarkah granma? Om-om itu tidak mencintai ku?" Diana diam sejenak.
"Apa jangan-jangan Tuan Clovis hanya mengincar keperawanan ku?" Diana tampak terkejut.
Berbeda dengan Clovis, wajahnya tampak sangat merah. Tubuhnya terasa lemas, hilang semua kekuatan Clovis di mata grandma.
...****************...
Hayoo, ada yang berpengalaman sama dengan Diana kalau bercerita? Tanpa sensor 😂😂
Bagaimana ya reaksi Clovis saat bertemu grandma? 😂😂
Jangan lupa selalu berikan dukungannya yaa 🤍🤍
__ADS_1