
Perlahan Diana membuka matanya, dilihatnya sang nenek duduk di tepi tempat tidur.
"Grandma? Maaf, Diana merepotkan grandma ya?" Diana hendak duduk, namun kepalanya masih terasa pusing.
"Tidak apa-apa sayang, tidurlah dulu. Kamu harus istirahat." Grandma menuntun Diana untuk kembali berbaring.
"Kamu makan dulu ya Sayang, grandma sudah menyiapkan bubur untuk mu." Grandma mengambilkan sebuah mangkok berisi bubur ayam kesukaan Diana.
"Diana seperti orang sakit saja disiapkan seperti ini oleh grandma." Diana tertawa dan mencium tangan grandma.
"Bukan orang sakit, grandma hanya menyiapkan makanan kesukaan cucu kesayangan grandma." Grandma mencubit pelan pipi Diana.
"Tapi kan bisa makanan yang lain juga grandma, nggak harus bubur." Diana tertawa.
"Grandma akan buatkan makanan yang lainnya, kamu mau apa?" Grandma mengusap lembut kepala Diana.
"Hmm Diana pengen yang segar-segar grandma, tapi apa ya?" Diana tampak membayangkan beberapa makanan.
"Nenek punya buah mangga, kebetulan pohon di belakang rumah sedang berbuah. Kamu mau?"
"Mau Grandma, aku mau. Kayanya enak banget kalau dicocol pakai garam dan cabai bubuk." Diana tampak senang.
"Kalau begitu, habiskan dulu buburnya. Nanti grandma akan siapkan makanan pesanan mu." Grandma menyuapi Diana.
Diana makan dengan sangat lahap, "Aneh ya grandma, kemarin-kemarin aku nggak bisa makan, perutku rasanya sangat tidak enak. Tapi ketika disuapi Tuan Clovis aku malah makan banyak. Dan sekarang ketika aku disuapi grandma juga rasanya nafsu makan ku bertambah." Diana tersenyum dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Baiklah grandma akan terus menyuapi mu seperti ini." Grandma mencubit gemas hidung Diana.
Diana pun tersenyum dan memeluk grandma.
Sesuai perjanjian, Diana menagih buah mangga yang diceritakan oleh sang nenek.
"Kamu tunggu saja disini, nanti kalau sudah selesai grandma panggilkan ya." Grandma segera keluar dari kamar Diana.
Diana mengingat kejadian pagi buta tadi. Diana merasa engap ketika tangan kekar Diana melingkar tepat di perutnya. Diana pun membuka matanya dan memposisikan tubuhnya untuk memeluk Clovis.
Saat hendak memejamkan matanya, Diana mendengar ponsel Clovis yang berdering menandakan pesan masuk.
Diana menatap ponsel Clovis dan mencoba menyalakannya. Dilihatnya jaringan di ponsel milik Clovis, semua terlihat baik-baik saja, "Jadi hanya ponsel ku yang bermasalah?" Diana tampak bingung.
Karena sulit memejamkan matanya, Diana pun memutuskan untuk pergi ke halaman rumah.
Rumah masih tampak sepi, Diana berjalan ke taman belakang rumah. Tampak beberapa orang pekerja mulai sibuk dengan aktifitasnya. Diana baru tau kalau orang yang bekerja di rumah Clovis sebanyak itu. Diana hanya berkomunikasi dengan Bi Wida, jadi Diana tidak mengetahui kalau ternyata ada orang sebanyak itu di rumahnya.
Diana berjalan mendekat, namun mereka tidak menyadari kedatangan Diana.
__ADS_1
"Sepertinya mereka tidak mengenali ku." Batin Diana bergumam.
Diana pun kembali berjalan, dilihatnya sebuah rumah di balik taman. "Rumah siapa itu?" Diana memicingkan matanya. Hari yang masih agak gelap membuat Diana tampak samar melihat rumah tersebut. Diana semakin mendekatinya. Rumah itu tampak asri, bahkan terlihat seperti sebuah rumah di desa.
Terlihat beberapa pekerja yang tengah bersiap untuk bekerja, ada yang baru selesai mandi, ada yang baru selesai beribadah bahkan ada yang tampak bersiap untuk pergi berbelanja dengan keranjang belanjaannya.
"Tapi, aku belum pernah melihat orang sebanyak ini. Apa selama ini mereka hanya diam di dalam rumah ini?" Rumah yang tampak sangat besar, walaupun tidak sebesar rumah yang ditempatinya.
Diana pun iseng mengikuti seseorang yang hendak pergi belanja, dia terlihat berjalan ke arah belakang rumah. Diana masih asik mengikutinya.
Namun saat di belakang rumah, Diana tampak sangat terkejut. Banyak sekali kotak hand phone yang bertumpuk disana. Diana melihat salah satu kotak tersebut, dan ternyata ponsel itu mirip dengan yang digunakan oleh Bi Wida.
"Kotak ini terlihat baru, bahkan sangat baru. Siapa yang membeli hand phone sebanyak ini?" Diana tampak berpikir.
Seketika jantung Diana berdegub dengan sangat kencang, "Benar, pasti Tuan Clovis yang membeli semua ini."
Perlahan Diana mundur, dia tidak percaya kalau Clovis sampai melakukan ini. "Jadi untuk membodohi ku, Tuan Clovis membeli semua ponsel ini dan membagikannya kepada seluruh pegawai?"
Air mata Diana mengalir begitu saja, Diana benar-benar merasa dibodohi. Bahkan Diana tidak bisa berpikir kenapa Clovis mengekangnya seperti itu?
Diana melihat gadis yang hendak berbelanja keluar melalui gerbang di belakang rumah, gerbang itu memang tampak kecil. Bahkan hanya cukup untuk orang keluar masuk.
Diana bergegas mengikuti gadis tersebut dengan menghapus air matanya.
Diana tampak ragu dan menghentikan langkahnya saat melihat penjaga yang berjaga di dekat gerbang.
Dengan tekad yang kuat, Diana berjalan santai menuju gerbang.
"Mau kemana?" Penjaga tampak menahan Diana.
"Lastri pergi berbelanja dan dia lupa membawa dompet. Jadi aku akan menyusulnya." Diana tampak yakin dan itu berhasil membuat penjaga mempercayainya.
"Ceroboh sekali gadis itu, cepat kejar dia. Mungkin dia belum jauh dari sini."
Diana menganggukkan kepalanya dan berlari ke luar gerbang.
Para pekerja memang tidak seluruhnya mengenali wajah Diana karena Diana hanya berinteraksi di depan rumah utama.
Diana menghentikan sebuah taxi dan menaikinya.
"Kemana Non?"
Diana tampak berpikir, kalau ke apartemen miliknya mungkin Clovis akan sangat mudah menemukannya. Akhirnya Diana memutuskan untuk pergi ke rumah sang nenek.
Diana pun menyebutkan alamat tempat tinggal neneknya.
__ADS_1
Setelah sampai, Diana tampak sangat kelelahan. Jantungnya berdegub sangat kencang.
Diana benar-benar ketakutan. Diana takut Clovis menemukannya dan semakin mengekangnya. Paling tidak, saat ini dia bisa berlindung di balik sang Grandma.
Pintu terbuka, Diana berlari menuju rumah sang nenek.
"Grandma..." Diana berteriak.
"Sayang? Ada apa?" Grandma tampak sangat terkejut.
Dua jam di perjalanan membuat Diana kelelahan. Diana memeluk sang nenek dan seketika tidak sadarkan diri.
Grandma memanggil Diana, Diana tersadar dari lamunannya. "Sedang memikirkan apa Sayang?"
"Tidak, aku tidak sedang memikirkan apapun." Diana tersenyum.
"Kalau begitu, ayo ke dapur. Buah mangga pesanan mu sudah siap." Grandma menuntun Diana menuju dapur.
"Grandma masih terlihat muda dan segar, apa sih rahasianya?" Diana menggoda sang grandma.
"Rahasianya adalah bahagia. Kamu harus bahagia Sayang." Grandma menggenggam tangan Diana.
"Diana... Diana akan bahagia seperti grandma." Diana tersenyum dan memeluk sang grandma.
Diana pun duduk di meja makan, ada semangkuk mangga muda lengkap dengan garam dan cabai bubuknya.
Diana terlihat menelan ludahnya, "Kenapa mangga ini terlihat sangat lezat."
"Makanlah." Grandma duduk di samping Diana.
"Bi, boleh minta tolong ambilkan toples?" Diana melihat seorang ART di dapur tersebut.
"Baik Non." toplespun kini ada di hadapan Diana.
"Untuk apa toples?" Grandma tampak bingung.
Diana memasukkan mangga tersebut bersama garam dan bubuk cabai. Diana mengocoknya dan memakannya dengan sangat lahap.
Grandma tampak mengernyitkan dahinya melihat Diana lahap memakan mangga muda tersebut.
Dari kejauhan, terlihat seseorang memperhatikan Diana dengan penuh cinta dan rasa bersalah.
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak cinta Kaliaan 😘😘
__ADS_1
Siapa yaa yang memperhatikan Diana diam-diam? 🥰🥰