
Diana dan Clovis melakukan perjalanan malam. Diana tertidur di bahu Clovis dan Clovis menyandarkan tubuhnya sehingga dia bisa tertidur.
Tapat tengah malam mereka sampai di tempat tujuan pertama. Tempat itu sangat nyaman, jauh dari keramaian. Yang ada hanyalah suara angin dan ombak yang saling bersahutan.
"Maaf Tuan Muda, Kita sudah sampai di tempat tujuan"
Clovis terbangun, dia melihat sekeliling dan meliahat Diana yang masih terlelap dalam tidurnya. Clovis mengangkat tubuh Diana ke dalam kamar yang berada pada vila yang akan ditempatinya
Diana benar-benar kelelahan, dia nampak sangat pulas.
"Kamu cantik sekali, tapi sayang. Tukang tidur" Clovis tersenyum dan membelai wajah Diana.
Diana hanya mengusap wajahnya saat dirasa ada yang menyentuhnya. Clovis lagi-lagi tersenyum melihat kelakuan Diana.
"Hai putri tidur?"
"Hmm.."
"Sedang mimpi apa?"
Diana menggelengkan kepalanya.
"Apa Kamu sudah menemukan pangeranmu?"
"Iya, tentu" Diana menjawab dengan suara khas orang tidur.
"Siapa?"
"Tuan Clovis" Diana tersenyum.
Clovis pun tersenyum, rasa kantuknya tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
"Apa Kamu mencintainya?"
"Cintaaaaaa" Diana membalikkan badannya.
"Sejak kapan?"
"Sejak Kami berciuman" Diana tersenyum malu. Clovis begitu gemas melihat ekspressi wajah Diana.
"Sejak itu? Jadi ketika Kamu menikah, Kamu tidak mencintainya?"
"Tentu saja tidak, Aku tidak suka orang menyebalkan seperti dia"
"Lalu kenapa Kamu bersedia menikahinya?"
"Dia berjanji untuk menceraikan ku. Jahat sekali dia" Diana nampak menangis.
"Cup. Jangan menangis, bukankah saat ini dia tidak akan mwninggalkan mu?"
Clovis nampak terkejut "Apa maksudmu?"
"Dia berjanji akan menceraikan ku setelah seratus hari. Aku tidak ingin mengandung anaknya saat dia meninggalkan ku. Jadi..."
"Jadi apa?" Clovis nampak penasaran.
"Aku melakukan KB, untuk tiga bulan kedepan Aku tidak bisa hamil"
Clovis nampak sangat terpukul, sebegitu menyakitinya dia kepada Diana.
"Maafkan Aku, maafkan Aku sayang. Aku tidak akan meninggalkan mu" Clovis menciumi tangan Diana. Ada air mata di sudut matanya.
Diana kembali terlelap, dia benar-benar tidak sadar dengan apa yang dia katakan.
__ADS_1
Clovis mengusap kepala Diana, dia mengingat bagaimana dia mengatakan akan meninggalkannya. Diana pasti sangat ketakutan, wajar saja jika dia melakukan hal seperti itu.
"Maafkan Aku sayang karena membuatmu takut. Aku akan menunggumu hingga Kamu benar-benar siap mengandung anakku"
Diana nampak tersenyum, entah apa yang ada di dalam mimpinya. Clovis membaringkan tubuhnya di samping Diana. Dia memeluk Diana dengan penuh cinta.
......................
Cahaya matahari menyinari wajah cantik Diana, dengan perlahan Diana membuka matanya.
"Suara ombak? Jadi tempat pertama adalah laut?" Diana nampak sangat antusias. Dia berlari menuju jendela, dibukanya jendela kamar tersebut.
Diana menghirup udara segar yang masuk. wajahnya nampak sangat bajagia.
Clovis yang tertidur membuka matanya saat angin menyapu wajahnya. "Sayang?"
"Maafkan Aku karena membangunkan mu. Aku akan menutup kembali jendelanya" Diana hendak menutup kembali jendela kamar.
"No, biarkan seperti itu. Lakukan apapun yang membuatmu senang" Clovis memluk tubuh Diana dari belakang.
"Aku ingin kesana" Diana menunjuk pantai dengan pasir berwarna putih terang.
"Baiklah Tuan Putri" Clovis mengangkat tubuh Diana dan membawanya ke tepi pantai. Diana nampak sangat bahagia, dia menggoyang-goyangkan kakinya saat Clovis berlari sambil mengangkat tubuhnya. Clovis menurunkan tubuh Diana saat air laut membasahi kakinya.
"Honey... Masa Aku ke pantai menggunakan piyama seperti ini? Bagaimana jika orang-orang melihat?" Diana memutar tubuhnya. "Kemana orang-orang?"
"Khusus untukmu" Clovis kembali mengangkat tubuh Diana. Diana menjerit saat Clovis menjatuhkan tubuh mereka ke dalam ombak. Diana nampak bahagia, dia menyiram Clovis dengan air laut sambil tertawa saat Clovis berusaha untuk menggapainya.
Mereka kini duduk di tepi pantai dengan beralaskan tikar. Clovis memeluk Diana dengan penuh cinta. "Terimakasih Sayang" Clovis mencium bibir Diana, Diana memejamkan matanya.
"Aku akan membuatmu selalu dan selalu mencintaiku" Clovis mencium tangan Diana. Diana begitu bahagia karena Clovis benar-benar memperlakukannya dengan baik.
__ADS_1